Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 177. PERMINTAAN SARAH


__ADS_3

Richard yang belum pernah ke rumah Bimbim dan Mauren, dia sore ini berniat untuk menengok menantunya. Setelah 20 menit mengemudikan mobilnya, pria itu akhirnya bisa memarkirkan mobilnya di halaman rumah Bimbim.


Dora yang sudah tahu suaminya akan datang, 15 menit yang lalu Wanita itu sudah menunggu di ruang tamu. Sehingga saat suaminya sampai di teras, wanita itu menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman.


"Susah nggak Mas nyari rumahnya?"tanya Dora sambil mencium punggung tangan suaminya.


"Enggak sayang,"sahut pria itu sambil mencium kening istrinya."


"Ayo, mas kita ke atas."


***


Di dalam kamar utama, nampak gelisah. karena pesan yang dikirimnya pada Aulia sampai sekarang belum dibuka oleh gadis itu. pria itu sangat khawatir sekali Jika nanti Aulia datang ke rumahnya, sementara di rumahnya masih ada orang tuanya dan mertuanya. bisa habis nanti dia dihajar oleh Papa mertuanya."pikir Bimbim.


"Bim, Kamu kenapa dari tadi kayak nggak tenang gitu?"apa Ada yang sakit?"tanya Mama Amor.


"Enggak ma, Aku cuman mau buang air besar. aku ke kamar sebelah dulu ya."


"Nggak usah Bim! biar kami saja yang keluar."lalu mereka semua keluar dari kamar utama. Mauren juga ikut keluar, mereka berkumpul di ruang keluarga lantai bawah.


Setelah pintu ditutup, Bimbim bergegas menghubungi Aulia. Beberapa kali panggilan tidak ada jawaban. Sampai akhirnya Aulia mengangkat sambungan telepon selulernya.


"Hello Aulia, kamu di mana? tanya Bimbim cepat.


"Halo Bim, Aku baru saja masuk pintu gerbang perumahan. Tadi aku kehabisan bahan bakar, makanya aku mampir du....."ucapan Aulia langsung dipotong oleh Bimbim.

__ADS_1


"Lia, kamu cepat pulang! jangan ke rumahku!"


"Kenapa Bim? pasti kamu mau berduaan dengan Maureen kan?"


"Bukan itu Aulia. masalahnya di rumahku sekarang lagi ada mertuaku."


"Ya bagus dong, jadi kamu bisa disuruh bercerai sekarang. Dan kita langsung menikah."


"Lia!"bentak Bimbim.


"Aku peringatkan sama kamu, kalau sampai kamu menginjakkan kaki kamu di rumahku. Jangan harap kamu bisa bertemu aku lagi!"ancam Bimbim.


Lia seketika langsung terdiam. Gadis itu terkejut. dia tidak menyangka Bimbim yang dia tahu sangat mencintainya, tiba-tiba dengan mudahnya mengancam seperti itu.


"Iya, Bim.Iya... aku pulang."


"Huh... Dasar! bisanya cuman mengancam." umpat Aulia. Gadis itu terpaksa memutar balik motornya.


Setelah berhasil menelpon Aulia, Bimbim ini bisa bernafas lega. dia kembali tiduran di ranjangnya, karena kepalanya masih terasa pusing.


Di lantai bawah, Mauren baru saja keluar dari dapur diiringi oleh asisten rumah tangganya. Gadis itu membawa cemilan sedangkan Si Mbak membawakan teh hangat.


"Gimana Mauren? kamu betah tinggal di sini?"tanya Richard.


Mauren tersenyum tipis, "Iya Pa."

__ADS_1


"Kata Kak Fernando, di sini lingkungan yang nyaman. Ada taman juga di ujung sana. Jadi nanti misal kamu sudah punya anak, tiap sore bisa ngajak anak-anak main di sana,"tutur Amor.


Mauren hanya menyunggingkan senyum tipis saja.


***


Malam harinya, di rumah Sarah. Gadis itu menemui Papanya di ruang kerja. Dia benar-benar ingin mencari tahu nomor ponsel Papanya Mauren.


"Pa..."Panggil Sarah dengan nada manja.


"Ada apa nak?"tanya Papanya Sarah tanpa melihat ke arah putrinya, matanya masih fokus menatap ke arah layar laptop.


"Pa, aku bisa minta nomor ponsel Papanya Mauren nggak?"


Papanya Sarah mengalihkan perhatiannya pada Sarah. pria yang seumuran dengan Richard itu nampak mengerutkan kening. "Papa Mauren? Siapa itu nak?


"Mauren itu yang baru nikah di hotel beberapa minggu yang lalu. Waktu itu aku ikut dengan papa."Sarah mengingatkan Papanya.


"Oh.... Pak Richard. Untuk apa kamu minta nomor Pak Richard?"


"Aku sudah kerja di kantor papa, jadi tidak ada salahnya kan kalau aku juga menyimpan nomor Pak Richard sebagai rekan bisnis."


"Kamu masih terlalu dini untuk berhubungan dengan klien ataupun dengan pimpinan perusahaan lain. Belum saatnya."Papanya Sarah menolak permintaan Sarah.


Sarah membuang nafas kasar. Gadis itu kecewa karena tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia kemudian beringsut berdiri dari duduknya dan keluar dari ruang kerja Papanya untuk kembali ke dalam kamarnya. Di sana dia termenung memikirkan Bagaimana caranya agar bisa mendapatkan nomor ponsel Richard.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2