
Di tempat lain Antonius dan Riana sedang belanja barang perabotan, untuk rumah yang baru dibeli oleh Antonius. Rencananya setelah menikah nanti, Antonius dan Riana akan tinggal di rumah itu.
Maka dari itulah Antonius mengajak Riana untuk belanja barang-barang perabotan khususnya untuk perabotan dapur yang sesuai dengan spek Riana.
Setelah membeli kompor, panci,.wajan, kulkas, dan lainnya Riana masih ingin membeli satu barang lagi yang menurutnya sangat penting. "Kak aku boleh beli oven nggak?"
"Boleh dong sayang."Antonius lalu menarik tangan Riana ke arah tempat diletakkannya berbagai macam merek oven. Antonius membebaskan wanitanya untuk memilih merek apa saja.
"Antonius!"sapa seorang wanita cantik yang bernama Heni. Wanita itu merupakan mantan pacar Antonius, yang dulu pernah meninggalkan Antonius begitu saja.
Atensi Antonius teralihkan pada seorang wanita cantik yang memanggilnya.
Antonius menautkan alisnya. Heni."gumamnya.
"Siapa kak?"tanya Riana.
"Kenalkan namaku Heni, mantan pacarnya Antonius."Heni memperkenalkan dirinya pada Riana tanpa mengulurkan tangannya.
Antonius menggenggam tangan Riana, "Ayo Sayang, cepat kamu pilih ovennya!"Antonius tidak mempedulikan mantan pacarnya itu.
"Antonius! nomor ponsel kamu sudah ganti? Kok aku nggak bisa nelpon kamu?"
"Dengar ya, Heni. Sejak kamu pergi dari hidupku, sejak itu juga aku menghapus semuanya yang berhubungan dengan kamu. jadi tolong jangan pernah hadir lagi di kehidupanku! karena aku sudah memiliki istri."ucap Antonius dengan tegas."Ayo Sayang, kita segera ke kasir."Antonius menarik pelan tangan Riana, meninggalkan Heni Yang mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Kak, Sepertinya dia masih menyukai kakak."ucap Riana dia menoleh sebentar ke arah Heni.
"Kamu nggak usah pedulikan dia sayang. karena dia hanya bagian dari masa lalu kakak."Antonius tidak ingin Riana berpikir yang tidak-tidak terhadapnya. Apalagi dirinya dan Riana sebentar lagi akan menikah.
"Semuanya satu juta peso Pak,"ucap kasir itu.
Antonius lalu mengeluarkan black card miliknya, dari jajaran barisan kartu yang tersusun di dalam dompet pria itu. Setelah membayarnya Antonius dan Riana langsung masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah baru. Karena mobil pick up yang akan mengantarkan barang mereka sebentar lagi akan berangkat.
Rumah yang dibeli oleh Antonius berjarak sekitar satu setengah kilo meter dari rumah Richard. Awalnya Antonius ingin membeli rumah di satu komplek yang sama dengan rumah Richard. Namun, rumah di sana sudah habis terjual. Lahan kosong untuk membangun rumah di tempat itu juga sudah habis .
Cornel saja yang lebih dulu ingin membeli rumah di sana tidak kebagian juga. Padahal istrinya ingin sekali rumahnya berdekatan dengan rumah Dora dan Amor. Supaya tiap sore Mereka bisa berkumpul di taman komplek untuk menjaga anak-anak bermain.
Mobil Lexus hitam yang dikemudikan oleh Antonius kini sudah sampai di halaman rumah minimalis berlantai tiga itu. Halaman depan, terlihat cukup luas. Karena pohon-pohon yang ditanam di sana masih berukuran kecil.
__ADS_1
Di halaman samping terdapat sebuah kolam, tapi kolam itu belum ada ikannya. Sebab Antonius belum tinggal di rumah itu.
"Sepi ya, Kak di sini. Nanti aku nggak ada teman."ucap Riana terdengar sedikit mengeluh. Sebab Wanita itu sudah terbiasa tinggal di lingkungan panti, yang setiap harinya di dalam sana selalu ramai dan penuh dengan canda tawa.
Antonius lalu mendekati Riana. "Nanti kalau kita sudah punya anak, Kamu tidak akan kesepian lagi Sayang."bisik Antonius di telinga Riana dan membuat wajah Riana merona seketika. Sebab Antonius sudah sebut-sebut anak. Biasa aja masih belum bisa membayangkan gimana nanti bikin anaknya
"Kakak candaannya, nggak lucu."
"Nggak lucu gimana Sayang? orang nikah itu kan tujuannya memang mau punya anak. nanti deh, Kakak suruh Rani bujuk suaminya buat beli rumah di sini juga. Jadi nanti kamu bisa berteman dengan Rani.
Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil yang baru saja parkir di halaman depan.
"Kakak mau keluar dulu, ya. Pasti itu mobil yang membawa perabotan dapur. Kamu kalau mau istirahat, naik saja ke lantai atas kamar kita sudah aku siapkan. Bisa dipakai tidur kalau kamu mau."setelah mengatakan itu Antonius lalu bergegas melangkah menuju pintu rumah utama.
Setelah perabotan dapur sudah tertata dengan rapi, Riana lalu mengajak Antonius untuk mengantarnya kembali ke desa, sebab wanita itu tidak ingin kalau Antonius nanti pulangnya kemalaman.
" Kamu yakin mau pulang sekarang, Sayang? Riana langsung mengangguk cepat.
Antonius lalu merangkul pinggang ramping itu, keluar dari rumahnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
***
"Pokoknya Papa nggak setuju Kalau pernikahan Antonius digabung dengan pernikahan Rani. Anak seorang pembantu pula! Mau ditaruh di mana muka Papa, Ma. apa kata orang nanti saat melihat anak dari keluarga Bernando nikah massal seperti itu." ucap Tuan Bernando dengan meninggikan suaranya.
"Ya sudah, Pa. Kalau memang nggak setuju nggak usah ngotot gitu ngomongnya. Mama kan cuman mengusulkan saja."
Mendengar perdebatan itu, ada hubungan dengannya Antonius, yang masih berada di ruang tamu itu, langsung masuk ke ruang tengah. Dia juga langsung mengutarakan pendapatnya.
"Aku juga nggak setuju Ma, kalau acara pernikahan aku digabungkan seperti itu. Aku mau momen pernikahan aku, spesial hari itu hanya milik aku dan Riana saja. Karena bagi aku, nikah itu hanya untuk sekali seumur hidup. Jadi aku nggak mau ada orang lain juga di dalamnya.
"iya sayang, Mama kan cuman mengusulkan saja."
Beberapa hari kemudian saat pulang kerja, Rani pergi ke sebuah supermarket untuk membeli barang-barang keperluan pribadinya yang sudah habis.
Kebetulan sekali di sana Cornelius juga sedang berbelanja kebutuhan barang pribadinya juga. Saat sedang asyik memilih sabun, perhatiannya teralihkan pada sosok wanita yang beberapa minggu lalu ditemui di villa.
Dia melihat Rani mendorong sebuah troli kecil dan berjalan ke lorong sebelah. Cornelius selalu mengikuti wanita itu. Dilihatnya Rani sedang menjangkau pembalut yang diinginkannya. Tapi pembalut itu tersusun di bagian rak paling atas. Sehingga membuat Rani berjinjit untuk meraih barang itu. Saat berusaha ingin meraihnya ada sebuah tangan yang lebih dulu mengambil barang itu.
__ADS_1
Atensi Rani teralihkan pada si pemilik tangan. "Kak Cornelius! wanita itu terperangah
Cornelius lalu menyerahkan pembalut itu ke tangan Rani. Dengan buru-buru Rani mengambil pembalut itu dari tangan Cornelius, wanita itu merasa malu
"Maaf Kakak hanya membantu saja, Ran." karena kakak melihat kamu kesusahan mengambilnya.
Cornelius mengikuti langkah Rani menuju kasir. Pria itu sebenarnya sejak mengambil sabun telah menyelesaikan belanjanya. Tapi dia enggan untuk langsung ke kasir, karena Cornelius ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Rani.
Keduanya lalu bersama-sama keluar dari supermarket. Cornelius menawarkan ingin mengantarkan Rani ke tempat kosnya. Namun, wanita itu menolak.
Di saat yang sama Arga baru keluar dari bilik ATM, dia melihat Rani sedang menenteng kantong plastik bertuliskan nama supermarket. Di sampingnya juga ada Cornelius menenteng kantong plastik supermarket itu juga.
"Rani!
Perhatian Rani dan Cornelius teralihkan ke arah pria yang sedang berdiri di depan bilik ATM
Rani menatap cemas, karena Arga yang terlihat mengepalkan tangannya. Wanita itu bergegas menghampiri Arga tanpa pamit terlebih dahulu pada Cornelius.
"Kakak! siapa Rani.
Arga bergeming dia menatap tajam ke arah Cornelius. Arga lalu merangkul pinggang ramping Rani, saat wanitanya sudah berada di dekatnya. Ini pertama kalinya dia merangkul pinggang wanita itu. Biasanya dia hanya memegang tangan wanita itu saja. Namun, kali ini dia ingin menunjukkan pada Cornelius bahwa Rani itu adalah miliknya.
setelah memasukkan Rani ke dalam mobilnya lelaki itu lalu berjalan mengitari mobilnya untuk masuk ke pintu kemudi.
Suasana hening tercipta dalam mobil itu tatapan Arga lurus ke depan,menatap jalanan yang padat oleh lalu lalang kendaraan bermotor.
"Kak, kita mau kemana? ini bukan jalan ke kos."
Arga masih bergeming, dia melanjutkan mobilnya membelah jalanan sore itu.
"Kakak marah ya, melihat aku keluar dari supermarket bersama dengan Kak Cornelius?" Rani bertanya lagi. Kami nggak sengaja ketemu di dalam Kak. Aku nggak enak ngusir dia, agar menjauh dari aku, karena kami memang teman lama." Rani mencoba menjelaskan agar-agar tidak salah paham terhadapnya.
"Sudah Ran, gak usah dibahas lagi. Kakak nggak bisa mengontrol rasa cemburu kakak. Kakak nggak bisa ngelihat kamu dekat-dekat dengan pria lain.
"Iya Kak, maaf."
Mobil yang membawa Rani itu berbelok ke arah restoran Cornel. Sebelum mengantar Rani pulang, pria itu ingin membungkus makanan terlebih dahulu untuk dirinya dan Rani untuk makan saat malam nanti. Dia tidak ingin Rani terlalu sering keluar malam, untuk membeli makan malam. Karena terlalu berbahaya untuk seorang wanita keluar malam sendirian.
__ADS_1
Bersambung....