
Beberapa hari kemudian, Cornel, Moresette dan Dora pergi ke bandara. Ketiganya berangkat menggunakan dua buah mobil. Richard hari ini tidak bisa ikut menjemput, sebab pria itu sedang ada meeting dengan calon klien.
Setelah sampai di area penjemputan, Dora langsung mengirim pesan pada putrinya. pesan itu langsung dibuka oleh Maureen. saat tahu ponsel Mauren sudah aktif, Dora langsung menghubungi putrinya.
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam. Kalian sudah di mana, nak?
"Kami lagi di ruang pengambilan koper, Ma. sebentar lagi kami akan keluar."
Beberapa saat kemudian, nampak dari kejauhan Mauren dan Bastian saling menggeret koper masing-masing. Awalnya Bastian ingin menjerat dua koper sekaligus, tapi Mauren melarangnya, sebab koper yang mereka bawa berukuran besar.
"Wah, cerah sekali wajah mereka habis pulang bulan madu."ucap Moresette.
"Iya, wajah Mauren beda banget saat aku menjemput dia pulang bulan madu dengan Bimbim."
"Itu artinya Bastian berhasil membahagiakan Mauren."
Dora mengangguk sambil tersenyum.
"Lama ya menunggu kami di sini?"tanya Mauren pada Dora. wanita itu mencium tangan mamanya serta mertuanya, diikuti juga oleh Bastian.
"Kalian langsung ke rumah kami saja. aku dan Mauren naik mobil sendiri. Mobil Aku ada di tempat parkir."
"Bukannya kalian ke sini kemarin kami antar?"ucap Cornel.
"Iya, Pa, tapi tadi pagi Herlan sudah menitipkan mobil aku di bandara."ucap Bastian.
**
Setelah sampai di rumah, Bastian dan Mauren langsung menuju ruang tengah. Sebab di rumahnya sekarang ada orang tua mereka.
"Kalian ini harusnya punya asisten rumah tangga di rumah ini."ucap Dora yang baru saja datang dari dapur membawa 5 gelas minuman sirup dingin.
"Ma, aku dan Bastian belum membutuhkannya. kami berdua siang nggak ada di rumah. Kami sibuk bekerja."
"Iya, Ma. kalau untuk mencuci dan menyetrika serta membersihkan rumah, karyawan hotel yang mengerjakannya."
"Bastian, Kamu kenapa menyuruh karyawan hotel? mereka di hotel sudah punya tanggung jawab pekerjaan di sana." tegur Cornel.
__ADS_1
"Mereka datang ke rumahku saat kerjaan di hotel sudah selesai pa, mereka aku kasih bayaran lebih."
"Enggak Bastian, Papa nggak setuju. lebih baik kamu cari orang lain saja. Nggak usah menginap, mereka bisa pulang saat pekerjaan sudah selesai."
"Iya, Pa. besok aku akan mencari orang untuk bekerja di rumah ini."
"Mauren, kamu sekarang pakai hijab ya?" tanya Moresette
"Iya, Ma, aku sudah merasa nyaman dengan pakaian seperti ini. Kenapa ma, nggak cocok, ya?
"Cocok, malahan kamu tambah cantik kalau seperti ini." Moresette memuji menantunya. Bastian hanya tersenyum, dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh mamanya. istrinya memang terlihat lebih cantik setelah memakai hijab.
***
Dua hari lagi Mauren dan Bastian akan kembali bekerja. Hari ini keduanya meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah mama Cynthia. maksud kedatangan Bastian dan istrinya adalah membawakan oleh-oleh untuk mama Cynthia. Bastian juga sekalian ingin mendekatkan istrinya dengan mama kandungnya.
Mobil Bastian saat ini sudah terparkir di halaman rumah Cynthia. "Sayang ayo kita turun!"seru Bastian, pria itu membuka sabuk pengaman yang dikenakannya.
"Mas, aku takut. Mama sudah dua kali menolak uluran tanganku."
"Sayang, kamu sabar ya, lama kelamaan Mama pasti akan baik sama kamu."ucap Bastian yang hanya dibalas anggukan oleh istrinya.
"Sayang, Kok melamun."Bastian memegang tangan istrinya, pria itu membuyarkan lamunan Mauren yang dari tadi berdiri mematung di samping pintu mobil.
Keduanya melangkah ke arah teras rumah. Bastian langsung menekan bel rumah itu. tak lama berselang, seorang wanita paruh baya nampak membuka pintu.
"Mama Ada, Bi?
"Ada Tuan, mari masuk, Nyonya ada di ruang tengah."
Mauren memegang erat tangan suaminya, nampak sekali wanita itu tidak nyaman berada di sana.
"Assalamualaikum."Bastian dan Mauren memberi salam.
Cynthia yang sedang asyik menonton televisi perhatiannya langsung teralihkan karena anak dan menantunya.
"Waalaikumsalam."sahutnya dingin.
Bastian mengajak istrinya duduk mendekat ke arah Cynthia. Mauren tidak berani menatap ke arah Mama mertuanya, sebab Mama yang sudah melahirkan Bastian itu tetap hanya begitu dingin.
__ADS_1
"Ma, Maaf kami baru sempat main ke sini. kami baru saja pulang dari New Zealand."ucap Bastian, tatapannya beralih pada istrinya.
"Ma, ini oleh-oleh untuk mama, Semoga Mama suka."Mauren menyerahkan paper bag pada Mama mertuanya, tapi wanita itu tidak menerimanya.
Bastian lalu mengambil alih paper bag itu. "Ma, tolong hargai Mauren, Dia sudah menjadi menantu mama."Bastian meletakkan paper bag itu di lantai. Bastian berdiri dari duduknya. Niat hati hari ini dia ingin ngobrol banyak dengan mamanya, supaya istri dan Mamanya semakin dekat. tapi sikap mamanya pada istrinya membuat Bastian muak, membuat dia langsung ingin pulang.
"Bastian, Mama tidak menyangka setelah kamu menikah dengan wanita ini sikap kamu sekarang berubah pada mama."
"Aku seperti ini karena sikap Mama pada istri aku. Apa arti Restu yang Mama berikan kemarin kalau sampai hari ini Mama masih tidak menyukai Mauren."sahut Bastian.
"Kalau mama tidak mau menghargai istriku, lebih baik kami pulang saja."
"Ayo sayang kita pulang."tangan Bastian meraih tangan istrinya.
"Selamat sore, Tante."Riska datang ke ruang tengah didampingi oleh asisten rumah tangga.
"Hai, Riska."Cynthia menyapa balik Riska dengan senyum ramah.
Riska yang melihat Bastian ada di sana, dia langsung mengayunkan langkah ke arah pria itu. "Bastian, ternyata kamu sudah ada di sini. Aku senang banget bisa bertemu sama kamu."Riska langsung ingin memeluk Bastian. tapi Bastian langsung mundur.
"Tolong jaga sikap kamu! aku dan kamu tidak pernah berteman. kita hanya pernah satu sekolah saja."ucap Bastian, tangannya langsung merangkul pinggang istrinya.
"Asal kamu tahu, Saya sudah punya istri. ini istri saya. jadi lain kali, tolong jaga sikap kamu!"
"Bastian! Kenapa kamu bicara seperti itu? dia Riska teman kamu."
"Maaf Ma, aku dan Mauren mau pulang sekarang."
"Bastian, Riska baru datang, kenapa kamu malah pulang. Itu sama saja kamu tidak menghargai Riska."
"Apa, Ma?"menghargai? Mama saja tidak menghargai istriku yang jelas-jelas menantu mama. Bagaimana bisa Mama menyuruh aku menghargai orang lain."Bastian mulai sedikit emosi.
"Ayo, sayang kita pulang!"imbuh pria itu pada istrinya, dia merangkul pinggang istrinya keluar dari rumah Cynthia.
Sakit, hati Mauren memang sakit. Cynthia sama sekali tidak menghargainya selaku menjadi menantunya, istri dari anak kandungnya. Tapi apa boleh buat, Mauren tidak dapat berkata-kata. Pria yang ada di sampingnya saat ini sudah menjadi suaminya, lelaki yang sangat menyayangi dan perhatian terhadapnya. Sungguh tidak etis, kalau mau meluapkan kekesalannya kepada Bastian. Karena yang membuat hatinya Sakit itu mamanya yang telah menelantarkan Bastian di masa kecil.
Hal itulah membuat Mauren kuat, dia seolah-olah tidak peduli dengan tatapan dingin Cyntia terhadapnya. Yang terpenting, kasih sayang dan kesetiaan Bastian terhadapnya. Begitu juga dengan ayah dan ibu mertuanya Cornel dan Moresette yang begitu menyayanginya.
bersambung...
__ADS_1