Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Tidak Ada Penolakan


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu Erva , setelah kurang lebih empat hari di rawat, siang ini Erva sudah diperbolehkan pulang.


Bukan hanya kedua orang tua nya saja yang menjemput Erva, tetapi Mamah Risa juga.


Dan seperti biasa, Mamah Risa heboh sendiri. Beliau yang paling rempong dengan apa apa yang harus di bawa Erva pulang.


"Jeng Risa, terima kasih banyak atas bantuannya selama ini... tidak menyangka kita bertemu tidak hanya di arisan saja."


"Sama sama Jeng Hana, bukan aku yang menyiapkan...tapi Anjar...dia yang berperan penting dengan semua ini, dan bagaimana kalau kita jodoh kan saja mereka...aku sangat suka dengan Erva, dia gadis yang baik...."


Anjar dan Erva saling pandang ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Mamah Risa. Entah apa yang ada di dalam pikiran Mamah Risa saat ini, hingga dengan terang terangan ingin menjodohkan.


"Wah, Dokter Anjar ya?....bisa diatur jeng kalau itu.", jawab Mamah Hana.


Mamah Hana tidak menolak, tetapi juga tidak menerima. Wanita yang sudah tidak muda lagi itu tidak ingin buru buru memberikan jodoh untuk Erva, terlebih dengan apa yang pernah Erva alami satu tahun terakhir ini.


Tetapi, beliau juga tidak ingin kalau Erva terus larut dalam kesedihan, dan harus move on supaya bisa melupakan laki laki brengssekkkk yang pernah menyakiti hati Erva.


"Mamah....."


Erva berteriak, apa apaan Mamah nya yang main gampang dan bisa diatur begitu. Sekarang bukan jaman nya lagi perjodohan, apalagi... dirinya yang masih trauma dengan kisah percintaan yang kandas di tengah jalan, dan seperti nya...kalau masalah laki laki yang akan menjadi pilihan hatinya....Erva harus benar benar menyeleksi siapa dan bagaimana perjalanan cinta nya.

__ADS_1


"Apa?? mau sama Dokter Anjar???", ledek Mamah Hana.


Tidak enak dengan Dokter Anjar, apalagi sekarang laki laki itu menatap nya dengan intens.


"Mau pulang Mah...."


Dan akhirnya, Erva memutuskan untuk pulang dengan cepat, tidak ingin Mamah nya dan juga Mamah Dokter Anjar semakin ngawur ngomong nya.


"Ya sudah jeng, kami pulang dulu...dan sekali lagi terimakasih..."


"Sama sama, obrolan nya bisa dilanjut lagi...dan seperti nya mereka cocok.", jawab Mamah Risa.


Sedangkan Erva menggeleng, memang kalau sudah berurusan dengan ibuk ibuk...apalagi yang sudah pengen punya cucu... obrolannya ke mana mana.


"Jangan di dengarkan ucapan Mamah, dia memang begitu.", ucap Dokter Anjar sembari berjalan di samping Erva.


Sama dengan Erva, Anjar juga merasa tidak enak. Sudah kemarin Mamah nya ngomong yang tidak tidak, eh sekarang juga iya...takut kalau Erva menjauhi nya.


"Tidak masalah Dokter, aku juga minta maaf... Mamahku apalagi... mulut nya gak bisa di rem kalau ngomong."


"Dokter?? sejak kapan aku suruh kamu ganti panggilan??"

__ADS_1


Astaga...kenapa aku lupa, dan pandangan matanya itu loh bikin aku enggak kuat.


"Maaf Mas, enggak enak kalau manggil itu di sini.. nanti banyak yang dengar...natra dikira apa...."


"Dikira apa memang nya??", ucap Anjar.


Anjar bergeser mendekati Erva, dengan matanya yang melihat ke arah Erva tanpa berkedip, yang membuat gadis itu jadi salah tingkah...


"Aku enggak tau lah Mas..."


Erva yang malu mempercepat langkah kaki nya, bisa bisanya Dokter Anjar dekat seperti ini...


Anjar memandang kepergian Erva, setelah mereka sampai di parkiran depan.


"Hati hati....dan kamu masih punya hutang sama aku."


Ujar Dokter Anjar yang sudah membukakan pintu mobil untuk Erva.


"Hutang??"


Erva mengernyitkan alisnya, bingung... hutang apalagi coba dan bukannya sudah lunas.

__ADS_1


"Iya, dan kamu harus membayarnya dengan makan malam, kapan kapan aku akan menagihnya dan tidak ada penolakan. "


Tidak menjawab, Erva hanya tersenyum. Bingung mau jawab apa, dan juga tidak ada penolakan.


__ADS_2