Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Rayuan


__ADS_3

"Menjodohkan??"


"Iya, beliau memang sengaja datang ke sini... awal nya aku pikir hanya Om Arwan saja, tetapi... tidak taunya kalau sama anaknya."


Tanpa di tanya,, Anjar menceritakan pada Erva dengan sendirinya. Laki laki itu tidak mau kalau Erva berpikir yang tidak tidak apalagi jika sampai berita itu terdengar sampai di telinga Erva.


Erva hanya mendengarkan, belum berani komentar apa apa ssbakim Anjar menyudahi cerita nya.


"Aku kaget setelah tau kalau wanita itu juga ke sini, apalagi Om Arwan dengan gamblangnya mengatakan kalau berniat untuk menjodohkan kami...aku jalan saja tidak mau.. mana ada jaman sekarang main jodoh jodohan segala, seperti jaman Siti Nurbaya saja...."


Ucapan Anjar terlihat tulus dan tidak dibuat buat. Memang dari dulu ia tidak suka dengan namanya perjodohan, jangankan Om Arwan yang hanya teman baik orang tuanya, Mamah nya saja sudah ia tolak mentah mentah kalau mau menjodohkan nya lagi.


"Tapi dia cantik loh Mas,dan seperti nya model terkenal kalau di lihat dari postur dan penampilan nya...."


Erva tidak salah menebak tentu nya...matanya tidak buta dan dapat melihat hanya dari penampilan nya saja. Meskipun tidak pernah melihat televisi dan mengikuti perkembangan model model terkenal, tetapi Erva paham dengan gaya dan juga penampilan wanita itu.


"Mau model atau apa ..aku enggak tertarik...", ucap Anjar tegas..bahkan ia tidak berniat untuk memperistri seorang model.


"Masa' sih Mas, cantik gitu ...sayang loh kalau ditolak...."


Anjar menatap ke arah wajah Erva yang cantik... bibir nya yang tipis membuat nya ingin mencium bibir itu.... apalagi kalau bicara nya asal seperti itu tadi ...ingin rasanya ia rengkuh dan mengunyah bibir yang kalau ngomong suka asal asalan itu.


"Aku enggak mau punya istri model, dek...terlalu beresiko. Apalagi tubuhnya yang bukan hanya aku saja yang melihat nya, bahkan seluruh dunia juga ikut melihat...itu aku tidak suka.."


"Oh ..."


Erva mengangguk lagi... pernyataan Anjar itu memang lah benar. Apalagi Anjar yang seorang Dokter terkenal tidak mungkin memilih istri yang asal asalan, apalagi seorang model yang sudah pasti bisa dilihat tubuh nya oleh seluruh dunia.


"Lagian ya ..aku masih mengharapkan seseorang yang katanya mau merayu pemilik tempat itu ..coba aku lihat...apa dia berani??"

__ADS_1


Glekkk


Erva melotot, mulutnya terbuka dan kepala nya menggeleng. Tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Dokter Anjar, ia pikir yang tadi hanya bercanda saja..sama seperti mulutnya yang tidak terfilter begitu saja.


"Sudah menemukan orang nya kan dek??", tanya Anjar yang membuat Erva kaget.


"Eh ..kenapa enggak bilang kalau Mas pemilik tempat ini??"


Bukannya menjawab, Erva malahan balik bertanya...dan membuat Anjar tertawa di buat nya.


"Ckk mengalihkan pembicaraan....kalau aku kasih tau, akulah pemilik tempat ini .. sudah pasti kamu tidak akan ngoceh seperti tadi...."


"Eh. .."


Erva menutup mulut nya, kalau sudah seperti ini..ia tidak tau lagi apa yang akan dilakukan nya. Bingung juga harus seperti apa....apa memang dirinya harus merayu Anjar dan menjadikan Anjar pacarnya.


Anjar mengangkat telpon nya yang tiba-tiba berdering , dan Erva hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.


"Maaf dek, aku anterin pulang ya ..ada pasienku yang kondisi nya ngedrop dan harus di operasi segera."


"Iya Mas, atau aku pulang sendiri saja..Mas langsung ke Rumah Sakit..."


Anjar menggeleng, "Jangan .. masih ada waktu....aku yang mengajak kamu pergi, aku pula yang harus memastikan kamu pulang dengan selamat.... tidak apa apa kan?? maaf ....."


"Tidak apa apa Mas .. santai saja...aku paham dengan profesi Mas...tapi boleh kan kalau aku kesini lagi ..dan pastinya tidak usah pesan pesan yang ujung-ujungnya malahan enggak dapat....kesel tau...."


Anjar terkekeh geli, ekspresi Erva sangat menggemaskan kalau lagi kesal. Tapi entah kenapa Anjar malahan suka.


"Boleh..tanpa pesan dan tanpa antri .. tapi ada syarat nya...."

__ADS_1


Anjar berdiri dan berjalan lebih dulu meninggalkan Erva..yang membuat Erva mengejar laki laki itu karena langkah kakinya yang panjang.


"Syarat?? pakai syarat segala Mas... kayak menang undian saja deh...."


Anjar mengehentikan langkah kakinya, ia tau kalau Erva sudah kuwalahan untuk mengejarnya.


"Mau tau syarat nya??", Erva mengangguk.


Jelas saja ia ingin tau apa syarat nya supaya bisa makan di tempat ini tanpa pesan dan juga tidak takut kehabisan tempat.


"Lakukan seperti apa yang kamu katakan tadi.", ucap Dokter Anjar setelah itu berlalu pergi meninggalkan Erva. Ia tau kalau Erva saat ini pasti kaget dan melongo mendengar ucapan nya.


"What??? merayu Mas Dokter yang dingin dan beku itu?? astaga tidak!!!"


Harus merayu yang seperti apa...apalagi Erva tidak mempunyai bakat untuk merayu..selama ini ia yang selalu dirayu dan didekati oleh para laki laki, dan sekarang... Erva yang harus merayu ..apa ia bisa?? seangkatan yang dirayu nya adalah es batu yang susah sekali mencair nya.


Erva masih bingung dengan apa yang dilakukan nya, padahal Anjar sama sekali tidak membahas lagi tentang rayu merayu...Anjar fokus ke depan menyetir supaya tidak terjadi hal hal yang buruk yang tidak diinginkan, tetapi..matanya juga sesekali melirik ke samping, melihat Erva yang saat ini sedang bingung memikirkan sesuatu yang pastinya Anjar tau


Tidak lama, mobil yang dikemudikan oleh Anjar sudah sampai di halaman rumah Erva. Erva sendiri kaget kenapa Anjar bisa tau alamat rumah nya padahal sama sekali Erva tidak memberitahukan...atau Anjar juga tidak bertanya.


"Makasih Mas, sukses dengan operasi nya .. tidak aku suruh masuk ya...."


"Sama sama....lain kali boleh ya...dan jangan lupa yang itu tadi...."


Glekk


Kirain sudah lupa tapi nyatanya Anjar masih ingat saja bahkan sengaja mengingatkan.


Erva hanya tersenyum, tidak menggeleng apalagi mengangguk. Pasrah saja besok seperti apa baiknya..dan ia akan cerita dulu sama Mona yang ahlinya rayu merayu.

__ADS_1


__ADS_2