Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Mencintai Kamu


__ADS_3

"Stop An, apa yang kamu lakukan?"


Dokter Rico mencegah tangan Anjar yang sedari tadi membuang-buang kertas yang ada di atas meja.


Rico tau kalau temannya saat ini sedang dilema bahkan bisa dikatakan kalau Anjar saat ini sedang patah hati karena mendengar berita yang lagi hangat-hangatnya.


Berita apalagi kalau bukan berita tentang lamaran dan juga pernikahan antara Erva dengan dokter Keenan yang akan dilaksanakan minggu depan.


Tentu saja itu membuat hati Anjar hancur, pekerjaannya pagi ini terasa kacau bahkan ia sendiri sampai akan membuat kesalahan di ruang operasi.


Dan kalau bukan karena Rico, mungkin Dokter Anjar sudah menghilangkan nyawa seseorang karena ia salah memberikan suntikan anestesi kepada pasiennya sewaktu operasi tadi.


"Aku tau kalau hati kamu sedang tidak baik-baik saja tetapi bukan ini caranya An."


Dokter Rico melepaskan tangan Anjar ia kemudian meminta temannya untuk duduk di sofa.


"Jangan berpikir yang macam-macam dulu,.kamu belum tau kebenarannya dan belum tentu saja berita yang tersebar itu adalah benar."


"Bagaimana mungkin aku tidak berpikir macam-macam ?berita Itu sudah pasti keinginan dari Keenan dan tentu saja mereka akan segera melangsung pernikahan."


"Aku tau, apa kamu sudah mengecek kebenarannya?"


Anjar menggeleng, bagaimana caranya ia mengecek kebenarannya kalau dirinya dan Erva tidak saling berkomunikasi selama satu minggu ini.


"Bodoh!! ternyata otak kamu yang pintar hanya digunakan untuk bekerja saja , tetapi kalau masalah hati seperti nya kamu bodoh."


Anjar melototkan matanya, baru kali ini ada orang yang berani mengatakan bodoh kepadanya.


"Bodoh dari mana? apa kamu tidak lihat kalau sudah hampir satu minggu ini aku dan Erva tidak bertemu bahkan kita juga tidak sama-sama saling komunikasi."

__ADS_1


"Haahaha kamu lucu, bagaimana kamu bisa berkomunikasi dengan Erva kalau ternyata nomor Erva saja sudah kamu blokir."


Anjar tersenyum kecut, memang kenyataannya seperti itu dan ia sudah memblokir nomor Erva, bukan karena tidak suka dengan Erva tetapi sebisa mungkin Anjar menata hatinya untuk tidak menghubungi Erva.


"Sialan!! kenapa kamu tau??"


"Tidak penting dari mana aku tau, yang jelas Kamu memang bodoh!!"


Mereka berdua diam sesaat , bukan hanya Anjar saja yang berpikir tetapi Rico juga berpikir.


Kalau seperti ini caranya mana mungkin Anjar akan bersatu dengan Erva padahal mereka berdua sama-sama saling mencintai dan mereka juga tidak yakin dengan berita itu., batin Rico.


Apalagi dirinya sudah pernah bertemu dengan Erva dan menanyakan tentang perasaan hati gadis cantik itu kepada dokter Anjar dan tentunya berita ini hanya akal-akalan dari dokter Keenan saja.


Tetapi bagaimana caranya ia meyakinkan dokter Anjar kalau memang Erva itu tidak ada hubungan apa-apa sama sekali dengan Dokter Keenan, bahkan berita itu juga tidak benar adanya.


Dokter Rico meliri sekilas ke arah dokter Anjar, ia melihat kalau temannya itu sangat kacau bahkan ini lebih kacau dari satu minggu yang lalu.


"Menurut saranku, sebaiknya kamu ketemuan dengan Erva tanyakan apakah berita itu adalah benar."


Ya, sepertinya waktu satu minggu sudah cukup untuk mereka berdua sama-sama intropeksi diri sama-sama mengerti kemana hatinya akan berlabuh dan tentu saja pastinya satu Minggu ini keduanya juga sama-sama kangen.


Untuk itu dokter Rico menyarankan kepada dokter Anjar untuk menemui saja Erva dan menanyakan apakah berita itu memang benar.


Jika memang benar, terpaksa dokter Anjar harus mengalah dan menerima kenyataan ini kalau ia tidak bisa memiliki Erva.


Tetapi kalau berita itu salah, ia yang akan mati-matian membujuk dokter Anjar untuk maju terus dan pantang mundur bahkan akan membujuk dokter Anjar untuk segera menikahi Erva


.

__ADS_1


"Bagaimana?"


Dokter Rico kesal sendiri, ia sedari tadi berbicara kepada dokter Anjar tetapi laki-laki itu hanya diam saja sepertinya pasrah dengan apa yang terjadi.


Tidak ada jawaban hingga akhirnya dokter Rico yang kesal langsung saja meninggalkan Anjar, biarlah Anjar merenungi nasibnya sendiri... dia sudah besar dan pastinya tau apa yang harus dilakukan.


"Aku pergi dulu, kalau ada apa-apa hubungi aku. Jangan melakukan hal-hal yang konyol yang akan merugikan diri kamu sendiri, kalau menurut saranku dan ini harus kamu lakukan


, kamu hubungi Erva dan janjian untuk ketemuan, lalu kamu harus menanyakan apakah berita itu benar atau tidak dan setelah mendengar jawaban dari Erva terserah kamu mau bagaimana, mau melepaskan Erva atau mau maju terus dan menikahi dia."


Setelah mengatakan itu , dokter Rico pergi meninggalkan Anjar.. memang ia harus memberikan waktu kepada Anjar untuk berpikir.


Tidak mudah bagi Anjar untuk menerima kenyataan seperti ini. Apalagi dokter Anjar baru merasakan jatuh cinta dengan seorang perempuan tetapi kenyataannya perjalanan cintanya cukup sulit dan beriku-liku.


Anjar masih tidak membuka suara, ia hanya menatap kepergian dokter Rico dan masih berada di atas sofa anggan untuk pergi ke mana-mana.


Laki-laki itu mengambil ponsel yang ada di sakunya dan menggeser kontak yang ada di dalam ponsel,.tentu saja ia mencari kontak Erva yang sudah ia blokir beberapa hari yang lalu.


"Apakah aku harus menghubungi kamu? dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi?"


Bukannya langsung menghubungi Erva, tetapi Anjar masih ragu. Ia bahkan hanya melihat nomor Erva saja dan belum membuka blokirnya.


Entahlah, apa yang ada di pikiran Anjar saat ini yang jelas ia bingung, ia juga tidak tau apa yang harus dilakukan, menghubungi Erva rasanya tidak mungkin apalagi meminta bertemu dengan gadis itu.


Ya kalau apa yang diberitakan itu salah tetapi kalau nyatanya benar??


Yang pastinya Anjar tidak sanggup untuk mendengar kebenaran dari berita yang saat ini sedang hangat-hangatnya, dan ia kembali memutuskan untuk memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku celana dan tidak menghubungi Erva.


Dokter Anjar memejamkan mata , berharap semua yang terjadi akhir-akhir ini dengan dirinya akan segera berakhir.

__ADS_1


Tetapi saat ia memejamkan mata yang ada di dalam pikirannya hanyalah wajah cantik Erva, dan senyuman manis Erva dan juga cara bicara Erva yang membuat dirinya terpesona dengan gadis itu.


"Apa Aku sanggup jika harus mendengar kenyataan yang sebenarnya terjadi kalau kamu memang memilih Keenan?? apa aku bisa melupakan kamu Er.... apalagi kamu adalah cinta pertamaku dan mungkin memang benar kata orang cinta pertama sulit dilupakan,.begitu bodohnya Aku dulu yang tidak mempercayai adanya cinta hingga sekarang aku sendiri yang mungkin terkena karmanya ... mencintai kamu tetapi kamu mencintai orang lain."


__ADS_2