
Tidak bisa berkutik lagi, Erva yang sudah berada di bawah tubuh Anjar hanya diam ia memang mengakui kesalahannya karena sudah bertemu dengan Keenan tetapi tidak sengaja ia lakukan bahkan ia sendiri tidak tahu kalau Keenan berada di sana.
Kalau saja Erva tahu pastinya perempuan cantik itu tidak akan pergi ke sana sendirian dan akan meminta Anjar untuk menemaninya tetapi sayang sekali semua sudah terlambat bahkan kini Anjar hanya mendiamkannya dan memilih untuk mengungkung tubuh indahnya di atas ranjang.
Dengan pelan, satu persatu semua yang ada di tubuh Erva, Anjar lepas tentu saja Anjar melakukannya dengan sangat pelan karena sejatinya ia tidak marah dengan istrinya.
Anjar tahu jika Evya tidak sengaja bertemu dengan Keenan bukan karena sengaja janjian dengan laki-laki itu tetapi ia hanya ingin membuat istrinya sedikit ketakutan saja dan mengerjainya karena Anjar gemas sekali ketika Erva berbicara manis dengan Keenan dan tentu saja itu membuat Anjar cemburu.
Melihat Erva yang begitu akrab dengan Keenan tentu saja Anjar cemburu, mengapa istrinya itu tidak langsung pergi saja jika melihat ada Keenan di sana tetapi malahan meladeni laki-laki itu dan ngobrol panjang dan lebar bahkan keduanya saling berpandangan mata meskipun duduknya tidak menempel tetapi Anjar sebagai suaminya Erva yang mencintai istrinya tentunya cemburu dan tidak ingin istrinya dipandang oleh laki-laki lain, terlebih laki-laki itu adalah mantan pacar dari Erva.
Erva pasrah saja ketika semua sudah terlepas dan saat ini Anjar sudah menjalankan aksinya memberikan sentul-sentuhan lembut dari wajah sampai ke bawah hingga akhirnya sesuatu yang besar itu masuk ke dalam yang membuat Erva menjerit dan juga berteriak.
Tidak ada yang dipikirkan Erva saat ini ia memang melihat Anjar hanya diam saja tidak berbicara apapun padanya, tetapi sama sekali tidak berbuat kasar padanya.
Erva pun bingung dengan pikiran suaminya saat ini ia melihat Anjar yang hanya mendiamkannya tetapi setelah sampai ke kamar dan Anjar melakukan itu, laki-laki itu tidak ada kasarnya sama sekali bahkan Anjar melakukannya dengan sangat lembut yang membuat Erva melayang ke mana-mana.
Bukan karena Erva menginginkan perlakuan kasar dari Anjar tetapi biasanya jika suami sudah emosi pasti melampiaskannya dengan melakukan sesuatu yang kasar tetapi suaminya berbeda kenapa masih biasa saja bahkan melakukan dengan cara lembut.
"Bagaimana? kapok tidak kamu, dek?"
Di sela-sela aktivitas panasnya Anjar masih bisa bertanya kepada Erva padahal Erva sendiri sudah kewalahan dan mengeluarkan keringat yang sangat banyak.
__ADS_1
"Kapok apanya Mas?"
Erva menjawab dengan suara yang terbata bata tentu saja dengan menahan sesuatu yang begitu dahsyat di bawah sana.
"Pura-pura lupa atau ingin aku ingatkan?"
"Astaga tentang Dokter Keenan? beneran deh aku tidak ada niatan untuk janjian sama dia, aku juga kaget tiba-tiba dia berada di sana, kalau tahu dia ada di sana pastinya aku akan meminta Mas untuk menemaniku."
"Yakin? tapi kenapa kamu akrab sekali dengan dia, tahu nggak dek aku tuh Cemburu, aku takut dan aku khawatir kalau tiba-tiba dia menculikmu , lalu bagaimana nanti nasib aku jika aku harus kehilangan kamu?"
Anjar mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Jujur saja selain cemburu, Anjar juga takut jika tiba-tiba Keenan berbuat nekat dan mengambil istrinya terlebih lagi jika Keenan memaksa Erva untuk bercerai dengannya.
Sungguh Anjar sendiri tidak bisa membayangkan apalagi menjalaninya. Ia yang baru mengenal Erva dan juga baru menikahi perempuan cantik itu merasa sudah klop dan juga sudah mencintai dengan sepenuh hati dan pastinya Anjar juga tidak ingin Erva bagaimana nasibnya jika ia harus hidup tanpa Erva dan melihat Erva malah bersama dengan laki-laki lain.
"Ah..."
Anjas tersenyum kemudian ia semakin mempercepat gerakannya dan tentu saja itu membuat Erva kembali mengeluarkan suara khas nyanyian merdunya yang membuat Anjar ingin melakukan Lagi dan lagi dan tidak ingin menghentikan adegan panasnya sore ini.
"Jadi kamu kapok nggak dan berhenti membuat aku cemburu?'
Erva masih diam, ia masih mencermati apa yang diucapkan oleh suaminya. Cemburu, tentu saja Erva senang jika Anjar cemburu padanya itu berarti suaminya benar-benar mencintainya..
__ADS_1
"Astaga pelan dikit Mas...ah..."
Erva tidak menjawab apa yang diucapkan oleh Anjar hingga Anjar yang gemas langsung saja mempercepat temponya dan membuat Erva kembali menjerit.
"Makanya jawab dulu kapok nggak tidak membuat Mas cemburu?"
"Iya deh iya, aku kapok. Maaf ya kalau Mas jadi cemburu, tapi beneran deh aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Dokter Keenan dan tentunya Aku senang jika Mas cemburu berarti Mas benar-benar mencintaiku."
Bukan menghentikan permainannya Anjar malahan langsung saja merubah posisinya dan melakukan kembali dengan gaya baru yang pastinya membuat Erva semakin mengeluarkan nyanyian merdunya.
Hingga akhirnya beberapa jam kemudian keduanya sudah terkulai lemas tentu saja Anjar sudah membawa Erva kembali ke atas ranjang yang tadinya mereka melakukan kegiatan sore panas itu di tempat yang berbeda.
"Maaf dek, jika terlalu kasar tadi. Tetapi memang rasanya beda terlebih lagi jika aku cemburu."
"Tidak apa-apa aku hanya takut saja, Mas dari tadi hanya diam dan tidak menjawab apapun pertanyaan aku tetapi semakin ke sini aku tahu jika mas tidak mungkin memperlakukan aku dengan cara kasar."
Anjar tersenyum kemudian menarik tubuh Erva dan memeluknya, memang benar apa dikatakan Erva, ia tidak akan memperlakukan seorang wanita itu dengan kasar terlebih perempuan itu adalah orang yang ia cintai.
"Tetapi Mas percayakan sama aku, kalau aku tidak sengaja ketemuan dengan Dokter Keenan?"
"Aku percaya dek maaf ya sudah membuat kamu khawatir, aku tahu kalau Keenan memang sengaja ingin bertemu dengan kamu dan pastinya aku juga tahu kamu juga tidak tahu jika Keenan ada di sana."
__ADS_1
"Ih curang Mas pasti tahu dari anak buah Mas kan dan tentunya Mas nakal sekali hingga membuat aku khawatir tahu nggak Mas aku tadi ketakutan saat masanya diam saja padahal aku sudah memberikan berbagai macam pertanyaan dan juga berusaha untuk menghibur Mas aku takut jika Mas itu marah melihat aku dan Dokter Keenan berada di sana padahal aku sendiri tidak merasa janjian bersama dengan dia."
"Hahaha kasihan sekali istriku yang ketakutan seperti ini tetapi aku memang benar-benar khawatir dek, aku cemburu dan pastinya aku marah jika istriku bersama dengan laki-laki lain terlebih laki-laki itu pernah menjadi bagian dari hidup kamu."