Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Perubahan Anjar


__ADS_3

"Mas nggak punya hair dryer?"


Sudah lima menit Erva berdiri di depan cermin tentu saja selain menyisir rambutnya Erva juga mencari hair dryer, nggak tahu suaminya itu menyimpannya di tempat ini.


Tetapi setelah ia lihat lihat dan ia cari, Erva tidak menjumpai benda itu yang membuat dirinya agak sedikit kesal. Pasalnya nanti kau keluar bagaimana? rambutnya masih basah dan tentu saja di luar ramai. Pasti karyawan-karyawan suaminya akan melihatnya secara intens dan otaknya sudah berpikir ke mana-mana dan menjurus ke arah yang iya-iya.


"Tidak ada, aku belum beli dek."


"Astaga!!"


Ingin marah ketika mendengar jawaban dari suaminya dan suaminya malah terlihat santai meskipun tidak menggunakan pengering rambut dan terlihat sekali rambut Anjar masih basah. Dan apalagi laki-laki itu dengan sengaja tidak mengusapnya dengan handuk dan terlihat tampak basah dan masih meneteskan air dari arah kepalanya.


"Lalu ini bagaimana? rambutku kan basah Mas nanti kalau keluar?"


"Bagaimana bagaimananya, ya tidak masalah."


"Ha?"


Lagi lagi Erva melongo mendengar jawaban santai dari suaminya itu tidak masalah bagaimana justru ini nanti menimbulkan masalah, apalagi nanti kalau ketemu dengan Dokter Rico pasti akan diejek habis-habisan oleh laki-laki itu.


"Kenapa? kan memang tidak masalah kamu ke sini menemui suami kamu tentu saja tidak ada yang protes dan terserah mereka mau berpikir apa itu urusan mereka yang penting kita sah saja sebagai suami istri dan pastinya mereka paham kalau kita masih pengantin baru dan masih saling membutuhkan kasih sayang dan kehangatan."


Masih tidak percaya dengan jawaban yang Anjar berikan tentu saja Erva baru tahu kalau sebenarnya sifat Anjar itu tidak dingin bahkan laki-laki itu sekarang malahan suka sekali berucap mesum dan menggoda dirinya.


"Tapi Mas?"


Cup


"Bawel banget, udah biarin aja biarkan mereka berpikir yang iya iya dan memang nyatanya kita habis melakukan iya iya juga. Makan dek aku lapar."


"Iya sih iya tapi nanti setelah habis ini kita beli hair dryer. Aku tidak mau kalau seperti ini lagi malu lah Mas."

__ADS_1


"Siap Nyonya Anjar, tapi berarti besok-besok kamu ke sini lagi ya dan kita melakukan seperti itu."


Pikiran Anjar sudah melayang kemana kemana dengan keinginan Erva untuk memilih haidroid dan menaruh di ruangan pribadinya itu sudah membuat Anjar berpikir kalau istrinya besok-besok juga mau ke sini dan mau melakukan hal-hal yang membuat menyenangkan.


"Nggak usah, nggak jadi nggak usah beli batal aja, pikiran kamu loh Mas sudah kemana-mana."


"Salah, bukan pikiran aku loh pikiran kamu itu. Coba sekarang bayangkan kamu meminta aku untuk membeli hair dryer dan menaruhnya di sini pastinya pikiran kamu yang kemana-mana yang ingin mengulangi kejadian tadi lagi kan?"


"Mana ada, ya udah nggak usah nggak usah beli aja, nyesel aku ngomong seperti itu sama Mas, Mas pikirannya ngawur sudah kemana-mana."


"Hahaha dek, makan kamu pasti lapar."


"Bukan laper lagi tapi banget."


Anjar meraih tangan Erva dan menggenggamnya kemudian mengajak istrinya keluar dari kamar pribadinya itu untuk menuju ke ruangan depan.


"Aku siapkan dulu Mas, Mas duduk saja."


"Kenapa dek, kok hanya diam saja di situ, Aku sudah lapar."


"Makanannya jadi dingin Mas ,gimana mau pesan lagi nggak atau kita pergi ke kantin aja untuk makan."


Tidak enak dan takut juga kalau Anjar tidak suka dengan makanan yang sudah dingin tetapi rasa lapar sudah menyelimuti diri Erva meskipun ia menawarkan untuk pesan lagi atau makan di kantin yang pastinya itu membutuhkan waktu dan mungkin cacing cacing di perutnya sudah tidak bisa kompromi lagi ingin segera diberikan asupan makanan oleh Erva.


"Tidak perlu, makan itu saja."


Erva mengambil makanan yang sudah dibelinya meskipun sudah dingin tetapi tidak masalah.


"Maaf Mas, ini aku tidak masak tapi aku beli. Mas tau kan kalau aku tidak bisa memasak."


"Tidak masalah, Aku senang banget tiba-tiba kamu datang memberikan kejutan, ya kejutan makan siang dan kejutan untuk aku makan."

__ADS_1


"Makan Mas, jangan ngomong lagi apa lagi ngomong begituan"


Mereka berdua menikmati makan siang dengan kebahagiaan tentu saja ini ini dirasakan oleh Anjar. Bukan hanya bisa makan siang bersama dengan istrinya Anjar juga bisa menikmati apa yang membuat ia kangen sejak tadi pagi.


"Kamu sudah selesai kuliah kan dek?"


"Iya Mas, aku sudah selesai. Kenapa? mas sudah selesai atau ada urusan lagi?"


"Tiga puluh menit lagi Mas ada operasi, tunggu di sini saja ya jangan pulang atau kamu mau jalan-jalan di sekitar rumah sakit ini juga boleh yang penting jangan keluar dari sini dan jangan pulang dulu."


"Bolehlah, lagian kalau di rumah juga sendirian tidak ada orang."


"Oke."


Lagi asik-asiknya makan siang berdua tiba-tiba Dokter Rico ikut datang menghampiri, tentu saja laki-laki itu ingin mengingatkan Anjar saja kalau akan ada operasi, takutnya kalau sudah bersama dengan Erva akan lupa.


"Makan siangnya lama banget, bukannya kamu sudah datang dari tadi dek, hampir 3 jam kamu di sini kenapa baru makan siang, hayo kalian berdua ngapain dulu?"


Tanpa mengetuk pintu Dokter Rico langsung saja masuk ke ruangan Dokter Anjar yang pastinya ia sengaja ingin mengganggu kemesraan pasangan pengantin baru itu.


"Dan kenapa kamu masuk tiba-tiba tanpa ngantuk pintu? bagaimana kalau aku dan istriku lagi anu anu pastinya kamu akan kepingin."


"Gila!! sekarang omonganmu jadi seperti itu dan tidak menyangka aku, kamu yang pendiam , dingin dan tidak mau berhubungan dengan perempuan tiba-tiba saja berubah seperti ini. Wis gila!! Dan bagaimana enak kan? apalagi kalau siang-siang melakukan itu."


Tentu saja Dokter Rico menggoda pasangan pengantin baru itu pasalnya Dokter Rico bisa melihat sendiri kalau keduanya masih terlihat basah rambutnya dan pastinya kalau tidak melakukan iya-iya melakukan apalagi.


"Tutup mulutmu!! jangan bicara lagi. Lagian kamu datang ke sini untuk apa, kalau untuk menggoda istriku mending kamu pergi saja."


"Santai bro, kedatangan aku kemari hanya untuk mengingatkan kamu saja kalau sebentar lagi ada operasi, takutnya kalau kamu sudah bersama dengan Erva kamu lupa segalanya."


"Alasan, tanpa kamu ingatkan aku juga masih ingat dan ini mau siap-siap."

__ADS_1


Rico tidak menjawab, ia senyum-senyum sendiri melihat tingkah Anjar saat ini tentu saja ia senang melihat perubahan Anjar yang sudah tidak sedingin dulu dan pastinya melihat kebahagiaan Anjar setelah menikah dan mendapatkan Erva, perempuan yang dicintai ini oleh temannya dekat nya itu.


__ADS_2