
"Mau pindah sekolah??"
Pagi pagi sekali Mamah Hana sudah masuk ke dalam kamar Erva, beliau khawatir dengan keadaan Erva yang dari semalam setelah Keenan pulang tidak keluar kamar.
Erva menggelengkan kepalanya, ia tau kalau Mamah nya sangat khawatirr, tetapi...pindah sekolah bukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini.
"Tidak Mah, aku mau di sini saja. Masalah itu untuk di hadapi, bukan di hindari. Mungkin... selama liburan sekolah ini, aku ingin ke Jepang...ke rumah Oma..."
Yah, Erva sudah memutuskan dengan pikiran yang jernih, ia tidak akan meninggalkan Indonesia hanya karena Dokter Keenan. Kalau memang bertemu dengan Dokter Keenan, ia tidak masalah...dan sudah menguatkan hatinya untuk itu.
Mungkin, banyak orang berpikir...lari dari masalah dan menghidar adalah salah satu solusinya, tetapi....tidak untuk Erva.
Karena ia tidak mau kalau terus di Bayangi dengan masa lalu nya, tidak masalah bertemu dengan Keenan setiap harinya...ia sudah ikhlas dengan semua yang terjadi.
Dan Erva juga sudah putuskan untuk menenangkan diri selama liburan ke Jepang, tidak ingin mengingat atau bertemu dengan Dokter Keenan dalam waktu dekat.
"Kamu serius sayank??? kalau mau, bisa pindah sekolah ke Jepang juga, Mamah sudah membicarakan dengan Oma kamu..."
Mamah Hana membelai lembut rambut panjang Erva, meskipun sebenarnya beliau juga sedih andai saja Erva pindah ke Jepang, tetapi... semua demi kebaikan Erva sendiri.
"Aku serius Mah, hanya liburan saja selama dua Minggu mungkin. Jangan khawatir...aku akan kembali dengan keadaan yang baik baik saja..."
Ucap Erva dengan sangat yakin, meskipun hatinya tidak tau apakah bisa baik baik saja di sana dan melupakan kenangan manis dengan Keenan, tetapi...ia akan berusaha. Dan sedikit lebih baik kalau menghilang untuk sementara waktu saja.
"Baiklah, Mamah ijinkan. Kapan ke sana??? biara Mamah dan Papah anterin"
"Tidak perlu Mah, nanti sore aku pergi nya. Sudah pesan tiket juga."
Padahal tanpa memesan tiket, Erva bisa ke Jepang dengan pesawat pribadi milik Papah nya terapi tidak dilakukan.
"Ya sudah, Mamah bantu berkemas ya??"
Tidak mau berdebat, Mamah Hana tau kalau putri nya bisa mengurus diri dengan baik, maskipun ada sedikit rasa khawatir ... tetapi...tidak mengapa. Biar Erva mencoba untuk bersikap dewasa dalam menghadapi masalah.
.
"Hati hati, kabari Mamah kalau sudah sampai."
__ADS_1
"Pasti Mah..", jawab Erva.
Ia memang sengaja tidak mengijinkan Mamah atau Papah nya atau siapapun juga untuk mengantarkan, meskipun hanya sampai di Bandara saja, tidak di perbolehkan.
"Yakin, tidak mau aku anter Er??"
Gantian, Romi yang menawarkan. Laki laki itu sangat peduli dengan Erva, bahkan sudah menawarkan diri untuk mengantarkan Erva sampai Jepang, tetapi....di tolak oleh Erva.
"Yakinlah, aku bukan anak kecil lagi...aku pergi ya, bye. ..."
Hanya pak supir yang diminta untuk mengantarkan ke Bandara, bahkan Mona sahabatnya saja tidak diijinkan untuk datang ke rumah. Alasan nya hanya simpel, tidak mau dikasihani atau terlihat sedih.
Tidak ada tangisan, tidak ada pula kebahagiaan. Biasanya, setiap kali Erva ke Jepang...ia selalu bahagia... tetapi...berbeda dengan saat ini.
Liburan?? bukan lagi. Lebih tepatnya menenangkan diri sejenak, memantapkan hati dan keihklasan jiwanya.... berharap pulang pulang bisa lebih ikhlas lagi.
Sepanjang perjalanan, Erva melihat ke arah samping. Jalanan yang tidak begitu ramai membuat ia bisa leluasa menikmatinya pemandangan indah sekitar.
Taman kenangan, yah.... julukan yang ia sematkan untuk taman yang menjadi tempat terakhir kalinya ia bertemu dengan Dokter Keenan, begitu juga dengan semua kenangan manis yang selama ini menjadi penyemangat nya.
Kebetulan sekali, ia melewati taman kenangan dan juga Rumah Sakit di mana ia dan Dokter Keenan pertama kali bertemu.
Cukup berkesan, meskipun awalnya menolak tetapi. akhirnya Erva menerima cinta Dokter Keenan bahkan menerima lamaran nya.
"Harusnya aku menolak saja waktu itu, padahal aku juga tau kalau kalau dia masih mencintai sang mantan....."
Huffhhh....
Ada sedikit rasa sesak, tidak dipungkiri kalau Erva belum sepenuh nya ikhlas dan melupakan semuanya.
Meskipun bibir nya berkata ikhlas, tetapi tidak dengan hatinya. Ikhlas itu berat, dan Erva akan mencoba nya.
Hingga, tibalah di perempatan jalan. Lampu yang berubah warna menjadi merah, membuat pak supir menghentikan laju mobil nya.
Deg
Kaget, ketika Erva melihat mobil yang biasa di tumpangi oleh Keenan, ia yakin sekali kalau itu adalah mobil Keenan yang ada di dalam adalah laki laki itu.
__ADS_1
"Mobil Mas Keen, kan??"
"Em Pak, bisa maju dikit ..masih muat kelihatan nya."
Untung saja depan mobil Erva masih bisa untuk menu lebih sedikit lagi, hingga...Erva bisa melihat dengan jelas siapa yang sebenarnya ada di dalam, padahal ia yakin kalau Keenan yang di sana.
Deg
Dadanya kembali sesak, ketika melihat sesuatu yang membuat nya kembali meneteskan air mata, sungguh pemandangan yang membuat hatinya teriris lagi, membuat air mata yang sudah mengering, kini basah dan mengalir lagi..
"Seharusnya tidak perlu maju, biar aku tidak melihat pemandangan seperti ini..."
Menyesal, andai saja Erva tidak meminta supir untuk memajukan mobil nya, pasti saja ia tidak melihat Dokter Keenan yang sedang berciuman dengan Amira.
Erva memejamkan mata nya sejenak, tetapi....setelah sadar, ia membuka matanya kembali... melihat jelas dengan mata kepala nya sendiri kalau benar benar Keenan sudah bukan milik nya lagi.
"Erva....."
Setelah melepaskan ciuman mautnya, Keenan tiba tiba menoleh ke samping, dan ia kaget...manakala melihat yang di sebelahnya adalah Erva, dan ia yakin kalau Erva melihat semua nya.
Cepat cepat Erva menutup kaca jendela pintu, ia tidak mau terlihat lemah di depan Keenan dan terlihat sedih. Sudah cukup apa yang dirasakan selama ini, dan sudah cukup membuktikan kalau kini Keenan sudah menghianati dan tidak mungkin kembali padanya.
"Erva...."
Malihat Erva menutup kaca jendela, membuat Keenan langsung saja ingin keluar dari mobil, ia tidak mau Erva berpikiran yang tidak tidak padahal memang nyatanya Erva sudah melihat semua nya
Tetapi sayank sekali,. baru saja membuka pintu dan melangkahkan satu kakinya keluar, tiba tiba lampu berubah menjadi hijau., dan mau tidak mau Keenan pun masuk kembali ke dalam mobil.
"Shitttt!!!!"
Keenan memukul setir kemudi, dan membuat Amira mengeryitkan alisnya, ada apa sebenarnya.
"Kenapa??"
"Erva, dia melihat kita...."
Amira hanya diam, ia tidak menjawab ataupun menanggapi apa yang diucapkan oleh Keenan, meskipun dalam hati nya juga merasa bersalah karena sudah merebut Keenan, tetapi...ia juga membutuhkan sosok Keenan saat ini.
__ADS_1