
Erva diam dengan matanya melihat ke arah Anjar yang dengan entengnya memegang tangan Erva. Dan entahlah, Erva pun merasakan nyaman...lebih nyaman daripada rasa yang dirasakan saat bersama dengan Keenan dulu.
Bukan untukku membandingkan, ataupun membedakan diantara keduanya.... tetapi nyatanya memang dua laki laki itu sangat berbeda, dan mempunyai ciri khas dan sikap yang berbeda pula.
Sementara Anjar, masih memegang tangan Erva dengan perasaan yang menggebu gebu luar biasa. G@irah asmaranya meningkat tajam dengan hadir nya Erva di sini, padahal ia juga belum lama mengenal gadis itu .
Kalau Erva pikir setelah keluar dari lift, Dokter Anjar akan melepaskan tangannya, ia salah besar. Laki laki itu tidak melepaskan tangannya bahkan semakin erat menggenggam tangan Erva hingga menuju ke lobi depan di mana banyak karyawan yang melihat kemesraan Dokter Anjar saat ini.
Tak jarang mereka yang sedang berjalan memutuskan untuk menghentikan langkah nya hanya demi melihat Dokter Anjar yang saat ini sedang menggandeng tangan seorang gadis cantik.
Bukan hanya mata mereka saja yang bicara tetapi mulut juga sudah berkasak kusuk ingin tau lebih jauh lagi siapa yang saat ini sedang bersama dengan Dokter Anjar.
"Mas, banyak yang lihat.", bisik Erva.
Jelas saja Erva menjadi tidak nyaman, bahkan satpam di depan saja ikut memperhatikan lebih lanjut dirinya saat ini.
"Biarin saja...mata mata mereka sendiri...."
Jawaban Anjar sangat pas dan tepat...memang mata mata mereka sendiri yang bebas melihat apa saja, bahkan melihat dirinya saat ini yang statusnya sebagai pemilik Rumah Sakit itu jga sangat wajar sekali.
Erva hanya diam saja setelah mendengar jawaban dari Anjar yang mana memang tidak salah dengar jawaban nya. Lagian juga, masa' bodoh saja, toh juga yang menggandeng nya bukan pacar orang, apalagi suami orang.
Segampang itu Anjar berbicara, ia tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan ataupun yang dilihat oleh orang lain. Mereka punya hak, dan bebas untuk ngapain saja, selama tidak menganggu ketentraman hidup dan keluarga nya saja.
Pasangan tanpa status itu sudah sampai di parkiran dengan Anjar yang langsung menuju ke pintu mobil nya, tanpa membukakan pintu untuk Erva.
__ADS_1
Memang beda, kalau pada dasarnya tidak romantis dan kaku, pasti akan jauh berbeda dan kesannya hambar, tetapi Erva maklum itu semua nya.
Erva masuk dalam mobil dan langsung saja memakai sabuk pengaman nya, begitu juga dengan Anjar yang sudah siap untuk mengemudikan mobil nya.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam..bahkan Erva yang malahan sibuk memandang ke arah luar. Bukan tidak ingin melihat ke arah Anjar, tetapi bingung saja dengan apa yang akan dibicarakan jika memang ngobrol berdua.
Tak berapa lama, mobil yang dikemudikan oleh Anjar sudah sampai di depan gedung mewah dan megah. Dan itu membuat Erva membuka matanya lebar lebar.
Apartemen?? oh tidak!!! mengapa aku di bawa ke sini???
Bukan punya pikiran yang macam macam, tetapi yang ada di pikiran Erva tadinya itu ia akan di bawa ke rumah Anjar, bukan ke apartemen.
"Ini??",
Daripada hanya memendamnya, Erva langsung bertanya saja kepada Anjar.
Erva menggigit bibir nya, ia tau kalau yang ada di depannya ini adalah apartemen dan bukan rumah, tetapi mengapa malahan Anjar masih menjawab seperti itu.
"Aku tau Mas, tapi ...."
"Jangan berpikiran yang tidak tidak....atau aku akan berbuat seperti apa yang kamu pikirkan. Turun dek...."
Erva hanya diam, rupanya Anjar memang sejenisnya dukun yang tau apa isi hatinya...bahkan bisa menebak apa yang belum sempat Erva utarakan.
Tidak ingin membuat suasana semakin tambah tidak enak, Erva keluar dan menghampiri Anjar yang saat ini sudah berada di depan dan meninggalkan nya.
__ADS_1
"Mas, jangan cepat cepat, kalau aku nyasar gimana??", protes Erva.
Ia memang tidak suka jalan cepat cepat, bukan tidak mampu mengejar, hanya saja malas jika harus mengeluarkan keringat.
"Aku tidak cepat cepat, kamu saja yang jalanan nya lama....", ucap Anjar yanga hanya melirik sekilas ke belakang, tetapi laki laki itu juga tersenyum melihat Erva.
"Hei...sudah salah malahan enggak mau ngaku...", ucap Erva kesal.
"Salah?? darimana??"
Anjar menghentikan langkah kakinya, ia lalu menghampiri Erva yang tertinggal di belakang.
"Itu, ninggalin aku!!!"
Anjar tersenyum, dari jarak yang begitu dekat, ia bisa melihat kalau Erva saat ini sedang bingung dan juga jengkel....
"Mau enggak tak tinggalin??"
Dengan senyuman yang penuh arti, Anjar mendekat dengan bahasa tubuh nya yang mengisyaratkan arah lain nya.
"Mau apa??"
Erva sudah mundur, ia sedikit banyak tau apa yang dilakukan oleh Anjar nantinya.
"Gendong kamu lah, katanya gak mau ditinggalin...."
__ADS_1
Semakin mendekat, yang membuat Erva semakin takut saja dan akhirnya ia lari meninggalkan Anjar. Padahal, Erva sendiri belum tau di mana letak apartemen Anjar.