
Tidak mendapati Anjar di tempat yang awalnya laki-laki itu duduk di sana, Erva akhirnya memilih kembali dan menaruh piring kotor di atas meja.
Gadis itu juga mengambil minum lalu berbalik, mungkin di pikiran Erva, Anjar sudah pulang karena tidak mendapatkan laki-laki itu di sekitar sana dan Erva berniat untuk kembali ke pada teman-temannya saja.
Byurrr....
Tanpa sengaja Erva menabrak seseorang, hingga menyebabkan minuman yang ada di tangan nya tumpah dan mengenai laki laki itu.
"Maaf."
Erva menumpahkan minuman yang ia pegang ke arah laki-laki yang saat ini sedang di depannya.
Dan ketika ia mendongakkan wajahnya, ternyata laki-laki yang ditabraknya itu adalah Anjar.. laki-laki yang sudah dari tadi dicarinya.
Tidak langsung membersihkan pakaian yang Anjar kenakan, tetapi Erva malah memandang wajah Anjar yang mengapa hari ini terlihat sangat tampan.
Bukan hanya Erva saja tetapi Anjar juga melakukan hal yang sama. Ia memandang lekat-lekat wajah cantik Erva yang saat ini ada di depannya.
Tidak bosan, bahkan terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Seseorang yang akhir-akhir ini ia rindukan dan kini sudah berada di depannya.
Tanyakan lagi bagaimana perasaan mereka, tentu saja antara senang dan juga gugup, tidak tau lagi harus berkata apa-apa sekarang.
"Maaf, Dokter... Aku bersihkan bajunya dulu.", ucap Erva kemudian ia yang sadar melakukan kesalahan dan berniat untuk membersihkan baju yang sudah terkena tumpahan minuman.
Tidak menjawab, ia masih saja memandang wajah cantik Erva tetapi tangannya kemudian merengkuh pinggang Erva hingga Erva yang berada dalam jarak dekat dengan Anjar tiba-tiba melongo. Ia juga tidak tau harus bagaimana dengan keadaannya saat ini.
Eh... kenapa ini kenapa jantungku tiba-tiba disco seperti ini dan apa yang dilakukan oleh Mas Anjar, kenapa tangannya tiba-tiba juga melingkar di sini ...aduh aku harus berbuat apa apa aku harus membalasnya juga...
__ADS_1
Untung saja di sana keadaannya sepi, hanya ada mereka berdua dan meskipun ramai orang-orang juga tidak memperhatika karena sibuk dengan kelompoknya masing-masing.
Tidak ada yang dilakukan Erva lagi, ia kemudian mengusap-ngusap pakaian Anjar yang tadi terkena minumannya dengan tangan ajar yang masih melingkar indah di pinggang Erva.
Aku kangen banget dek, dan ini sangat nyaman dan aku berharap apa yang aku pikirkan tentang kamu itu salah dan kita akan bersama selamanya...
Menikmati kebersamaan kebersamaan mereka saat ini, baik Erva maupun Anjar sama-sama tidak ingin melepaskan diri.
Erva masih terus mengusap pakaian Anjar dengan Anjar yang tangannya masih merengkuh pinggang Erva, hingga keduanya terdiam dengan tatapan mata yang sangat tajam dan juga pikiran yang entah ke mana-mana.
Sadar dengan keadaan yang tidak seharusnya dilakukan, Anjar kemudian melepaskan tangannya. Ia tau kalau ini adalah salah, jika memang Erva sudah menjadi milik orang lain dan tidak seharusnya Anjar melakukan seperti itu.
"Maaf."
Bukan Erva yang meminta maaf, tetapi Anjar. Entahlah maaf untuk apa, padahal tanpa meminta maaf Erva malah senang dengan apa yang dilakukan Anjar barusan.
Anjar hanya mengangguk lalu meninggalkan Erva untuk kembali ke ruangan di mana di sana terdapat Mamahnya yang mungkin saat ini sudah selesai mengadakan arisan dan bersiap untuk pulang.
Sementara Erva hanya melihat langkah kaki Anjar meninggalkannya. Ia juga tidak tau apa yang dirasakannya saat ini dan kenapa laki-laki itu masih saja bersikap dingin.
Apa karena mas Anjar masih mengira kalau aku ada hubungan apa-apa dengan dokter Keenan? Ya, mungkin begitu. tapi aku juga tidak mungkin menjelaskan, nanti dikira aku yang menaruh hati pada dia, tapi kalau tidak aku jelaskan bagaimana Mas Anjar bisa tau kalau aku dan dokter Keenan memang tidak ada hubungan apa-apa.
Kenapa mendadak aku yang pusing sendiri kalau memang dia ada rasa sama aku , seharusnya dia yang menghampiriku ..dia yang bertanya padaku bukan malahan mendiamiku dan menatap aku dengan tatapan mata yang sangat tajam dan apa tadi tangannya... aduh mengapa aku jadi baper.
Erva menggeleng setelah ia mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam pikirannya Tentu saja tidak dapat terdengar orang lain karena ia mengucapkan hanya di dalam hati.
Sedangkan Anjar, laki-laki itu berjalan dengan menampilkan senyumannya yang mungkin orang yang melihatnya tidak tau kalau Anjar sedang tersenyum tetapi sebenarnya ia sangat bahagia dan di dalam hatinya bersorak-sorai karena sudah bertemu dengan Erva seseorang yang sudah lama ia rindukan.
__ADS_1
Seharusnya tadi aku langsung menarik tangan Erva dan membawanya ke sebuah ruangan lalu menanyakan apakah kejadian kemarin itu memang benar bukan seperti ini.
Anjar kamu memang payah!! bertanya seperti itu saja tidak tidak becus, bagaimana Erva tau tentang perasaan kamu kalau kamu tidak menyatakan cintamu kepada dia dan bagaimana juga kamu tahu kalau sebenarnya adakah hubungan antara Erva dengan dokter Keenan.
Kamu memang payah Anjar....
Meyesali tindakannya yang tidak langsung menanyakan kepada Erva, Anjar langsung saja menghampiri Mamanya karena ia melihat memang mamainya sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Sudah selesai kan Mah, ayo pulang!!", ajak Anjar dengan tergesa-gesa, entahlah apa yang ada di pikiran laki-laki itu saat ini kenapa dirinya malah meminta Mama Risa untuk segera pulang, bukan malahan memanfaatkan waktu untuk mendekati Erva saat ini.
"Pulang nya tidak nanti saja?"
Padahal mama Risa sendiri tau kalau sebenarnya Anjar dan Erva tadi bertemu, tapi kenapa putranya malah mengajak nya untuk cepat-cepat pulang, bukankah tadi di dalam mobil beliau sudah mengatakan kepada Anjar kalau harus menghubungi dan menemui Erva tetapi kini sudah bertemu kenapa tidak membicarakan dan menanyakan langsung kepada Erva.
"Sekarang saja Mah, aku ngantuk.", jawab Anjar berbohong dan tanpa dosa.
Ngantuk dari mana? bukankah dari semalam Anjar sudah tidur bahkan laki-laki itu melewatkan makan malamnya, tetapi kenapa baru jam segini ia sudah bicara kalau dirinya ngantuk.
"Oh ya udah kalau begitu. Kamu tunggu di mobil Mama pamitan dulu sama teman-teman Mama."
Tidak ingin memaksa Anjar karena beliau tau bagaimana sifat putranya, Mamah Risa lebih memilih untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh Anjar yaitu pulang ke rumah dan nanti menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mendadak Anjar meminta untuk pulang terlebih dahulu.
Sama seperti Anjar, setelah melihat kepergian Anjar ... Erva pun mendekati Mamanya. Ia juga meminta Mama Hana untuk pulang karena pikirannya sangat kacau saat ini.
"Mau pulang sekarang?", tawar Mama Hana yang melihat ekspresi wajah Erva tidak dak seperti biasanya, bukan tidak cantik tetapi wajahnya yang ditekuk dan membuat Mama Hana bertanya-tanya.
Sama dengan Mama Risa, Mama Hana juga tau kalau Erva tadi bertemu dengan Anjar tetapi entahlah kenapa setelah mereka bertemu malahan meminta untuk pulang.
__ADS_1