
Ini adalah sesuatu yang pertama kalinya Anjar rasakan. Juga pertama kalinya ia berbuat seperti ini terhadap seorang perempuan.
Melihat Erva hanya terdiam dan juga menunduk, Anjar sedikit menyesal. Ia takut kalau Erva akan marah dan apa yang direncanakannya akan gagal.
Kenapa Aku bisa melakukan seperti itu? Kalau Erva marah bagaimana? Kalau Erva tidak mau menikah denganku bagaimana apa yang harus aku lakukan?, batin Anjar.
Sepertinya laki-laki itu menyesal telah melakukan sesuatu yang ia pikir Erva akan marah. Saat ini tidak ada sesuatu yang keluar dari bibir Erva yang membuat Anjar semakin bersalah saja.
Kedua pasang mata mereka masih saling bertatapan tentu saja Erva yang tadinya menunduk berusaha untuk mendongakkan wajahnya maka ke arah Anjar yang tadi dengan tiba-tiba mencium bibirnya.
Salah, jika Anjar berpikir kalau Erva saat ini marah. Gadis itu hanya kaget saja, ia juga tidak percaya kenapa tiba-tiba Anjar mendekat lalu mencium bibirnya.
Tangan Anjar terulur untuk menyentuh bibir Erva dan juga mengusap lembut bibir Erva dengan ibu jarinya yang masih nampak basah akibat perbuatannya.
"Lusa aku akan menikahimu.", Ucap Anjar yang membuat Erva langsung saja membulatkan matanya.
Ia menggeleng pelan tentunya bukan karena tidak mau, hanya saja bingung menyikapi sikap Anjar barusan dan juga ucapan yang keluar dari mulut Anjar.
Erva lalu mengerjap ngerjapkan matanya, berusaha untuk bangun dari kesadarannya manakala ia sedang bermimpi dengan apa yang baru saja didengarnya.
Setelah ia sadar dan membuka matanya lebar lebar yang tentunya masih ada Anjar di depannya, ia tahu kalau ini bukan mimpi dan apa yang didengarnya adalah sebuah kenyataan.
Nggak romantis banget kenapa nembaknya seperti itu? , batin Erva.
Orang minta nikah kenapa seperti bercanda saja yang membuat Erva sedikit tidak percaya. Yang dikatakan oleh Anjar beneran atau hanya bohongan belaka yang tentunya Erva sendiri tidak ingin GR dengan apa yang barusan didengarnya.
"Lusa kita menikah dan tidak ada penolakan, kamu harus mau, titik tidak ada bantahan."
__ADS_1
Ajayr mengulangi lagi apa yang ia katakan, ia tahu kalau Erva tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan bahkan gadis itu masih diam entah kaget atau memang kenyataannya tidak percaya.
Erva lagi lagi masih melongo., Ngajakin nikah tapi kok maksa. Di dalam hati, Erva senang karena apa yang ada di pikirannya apa yang diimpikannya terkabul juga bahwa Anjar memang serius dan ingin menikahinya, bukan hanya sekedar omong kosong belaka.
"Dan maafkan aku tadi tidak bisa mengontrol diri, kamu terlalu menggemaskan di mataku."
Cup
Anjar mengakhiri sesi tatapan mata di antara mereka. Tentu saja mereka masih berada di dalam lift dan entah kenapa lift saat itu bergerak lebih lambat.
"Aku tidak mau nikah siri."
"Dan siapa juga yang mau menikahimu secara siri, kita nikah secara sah secara agama dan juga hukum. Lagi pula apa-apaan itu nikah siri aku juga tidak mau."
Erva dibuat bingung, kalau tidak nikah siri lalu apa namanya sedangkan ucapan yang keluar dari mulut Anjar tadi bahwa akan menikah lusa, lalu apakah ada menyiapkan berkas dan cepat itu?
"Dan aku juga tidak mau menikah asal-asalan saja. Aku ingin menikah dengan pesta yang mewah dan juga seperti konsep yang aku inginkan. Baik baju pengantin maupun dekorasinya aku yang mendesainnya sendiri sesuai dengan keinginanku, sesuai dengan impianku. Karena bagi aku, prinsip menikah itu sekali seumur hidup dan tentu saja itu harus dirayakan secara besar-besaran sebagai wujud rasa syukur kita dan kebahagiaan kita. Aku juga ingin mengundang semua teman-temanku dan juga beberapa panti asuhan yang ada di sekitar kota ini. Bagaimana, apakah Mas sanggup?"
Tentu saja Anjar sudah mempersiapkan semuanya, apalagi ia tahu bagaimana kebiasaan Erva setiap bulannya yaitu mengunjungi panti asuhan dan tentu saja ia tidak keberatan dengan apapun permintaan Erva.
Semua kecil di mata Dokter Anjar, bahkan mengundang banyak orang tidak masalah, Apalagi seluruh dunia pun kalau Erva mau akan diundang juga sebagai saksi bagaimana ia mencintai Erva.
"Aku tidak masalah, semua sudah siap tapi aku juga menginginkan satu syarat."
Erva kaget, kenapa Dokter Anjar tenang-tenang saja bahkan seperti sudah menyiapkan semuanya.
"Apa syaratnya?"
__ADS_1
Tentu saja syarat yang diinginkan oleh Anjar itu tidaklah sulit bahkan sangat mudah dan tidak perlu mengeluarkan biaya apapun.
"Aku ingin akad nikah kita hanya disaksikan oleh keluarga terdekat saja tentu nya di ruangan tertutup. Orang lain tidak bisa melihat secara langsung. "
Erva paham dan ia juga setuju dengan apa yang diucapkan oleh Dokter Anjar. Dan tentunya ia juga tahu apa maksud dari tujuan ancar menginginkan acara sakral itu dilakukan secara tertutup.
Tentu saja, tak lain dan tak bukan adalah menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yaitu menghindari sewaktu-waktu Dokter Keenan akan datang dan mengacaukan acara sakral itu.
Meskipun tamu undangan bisa melihat dari layar yang dipasang di beberapa sudut di tempat diadakan resepsi tetapi tetap saja keluarga terdekat yang akan berada di tempat pengucapan ijab qabul.
"Aku setuju dengan syarat yang Mas katakan karena aku juga tidak mau ada orang lain yang berusaha untuk merusak acara itu."
Anjar tersenyum sepertinya Erva paham dengan maksud yang ia katakan dan juga ia yakin kalau di dalam pikiran Erva juga sama, tidak ingin acara sakral itu dirusak oleh seseorang yang pastinya sudah merencanakan itu semua.
"Dan satu lagi."
Erva mengeryitkan alisnya, kenapa harus ada tambahan padahal tadi bilangnya cuma satu syarat dan kenapa tiba-tiba jadi dua. Tetapi Anjar sudah keburu membuka suaranya.
Anjar kembali mendekat dan menempelkan bibirnya di dekat telinga Erva, sepertinya laki-laki itu ingin mengatakan sesuatu dengan berbisik di telinga Erva saja.
"Aku ingin malam pertama kita dilakukan secara langsung malam itu, tidak ada drama dan tidak ada penolakan, juga tidak menerima alasan apapun itu. Dan semua yang kamu mau, yang kamu inginkan, aku akan penuhi, bagaimana?"
Glekk
Erva menelan ludahnya, ia lagi lagi tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Anjar. Malam pertama?? Erva sendiri tidak tau bagaimana dan harus melakukan apa di malam pertama.
Terlebih lagi, mengapa Dokter Anjar yang terkenal dingin dan tidak tersentuh sama sekali dengan perempuan, kenapa bisa berpikir sejauh itu.
__ADS_1
"Dan tentunya syarat yang kuberikan tidak susah kan?"
Erva mengangguk, hanya jawaban itu yang ia berikan. Ia tidak mampu berkata-kata lagi, sudahlah pokoknya pasrah yang penting pernikahan yang ia inginkan akan terkabul juga dan tentu saja dengan orang yang mencintai dan dicintai Erva.