Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Makan Siang


__ADS_3

Siang harinya Erva yang bingung ketika jam istirahat ia memutuskan untuk mengantarkan makan siang ke rumah sakit tentu saja memberikan kejutan untuk suaminya karena Erva tidak menghubungi suaminya sama sekali padahal dirinya yang akan datang ke sana.


Entahlah apa yang ada di pikiran Erva saat ini, bukankah tadi pagi ia mengatakan kalau tidak akan  rumah sakit tetapi tiba-tiba pikirannya tertuju pada suaminya yang sedang bekerja dan pastinya ia juga ingin menjadi istri yang baik dengan mengantarkan makan siang untuk suaminya.


Setelah beberapa menit mengendarai mobil, sampailah Erva di sebuah rumah sakit dan tentu saja ia langsung menuju ke ruangan Anjar karena sudah beberapa kali masuk ke sana dan tidak perlu untuk bertanya kepada resepsionis.


Terserah mau suaminya ada atau tidak Erva tetap berhak untuk berada di sana dan pastinya semua orang juga tidak mempersalah mempermasalahkan kedatangan Erva.


Tok ..tok...


"Masuk."


Evya masuk setelah mendapatkan jawaban dari orang yang ada di dalam ruangan dan pastinya ia segera membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Dek, surprise sekali kenapa nggak bilang?"


"Kan kejutan Mas, makan yuk aku lapar."


Anjar yang sudah menghampiri istrinya mengangguk kemudian membawa Erva untuk duduk di sofa kebutuhan sekali laki-laki itu juga belum makan siang mau meminta Aris untuk memesankan makanan tetapi malas dan beruntung juga Erva tiba-tiba datang ke sini untuk membawakan makan siang.


Untuk kali ini mereka benar-benar melakukan makan siang terlebih dahulu tidak tahu untuk nanti setelah makan siang.


"Aku senang banget dek, kamu datang pada saat tepat, aku lapar."


"Maka dari itu aku datang makan dulu Mas jangan ngoceh mulu, Aku sudah lapar."


Padahal yang suka ngoceh adalah Erva tapi kenapa malah suaminya yang diminta untuk diam.


Anjar langsung terdiam, ia bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun lagi dan fokus ke dalam makanannya.

__ADS_1


Hingga beberapa menit kemudian semua makanan yang dibawa oleh Erva sudah habis dimakan dan tentu saja keduanya terdiam untuk beberapa saat karena perutnya merasa kenyang.


"Dek."


Anjar yang sedari tadi masih berada di samping Erva, langsung saja merapatkan diri lalu memegang tangan Erva, tentu saja laki-laki itu selain senang sekali mendapat kunjungan spesial dari istrinya ia juga ingin melakukan sesuatu.


"Apa Mas? jangan macam-macam perut kamu kenyang loh!"


Sepertinya Erva paham dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya hingga Anjar belum mengatakan apapun juga Erva sudah mengucapkan.


"Tidak masalah, makanan yang aku makan sudah melorot ke dalam tetapi yang lebih penting itu saatnya adalah ini."


Tatapan mata Anjar menuju ke bagian bawahnya tentu saja Erva melihat lalu menggelengkan kepalanya, paham betul dengan apa yang dipikirkan oleh suaminya itu bahkan ia melihat dengan jelas sesuatu itu sudah berubah bentuknya.


"Dasar mesum!!"


Tidak ingin berlama-lama lagi karena 2 jam lagi baik Anjar maupun Erva harus kembali ke aktivitas semula dan Anjar tentu saja langsung menggendong tubuh istrinya untuk dibawa masuk ke dalam kamar pribadi.


Anjar bergerak bebas untuk menelusuri semua yang ada dalam tubuh Erva, ia juga menikmati apa yang ada di depannya ini, sungguh pemandangan yang luar biasa yang tidak akan pernah ia dapatkan di manapun selain dengan istrinya.


"Stttt...Mas."


Suara nyanyian Erva membuat Anjar semakin bersemangat di bawah sana, laki-laki itu melajukan kecepatannya dengan sangat tinggi yang membuat Erva tidak henti-hentinya untuk berdirinya memanggil nama Anjar dan juga bernyanyi seiring dengan hentakan yang diberikan oleh suaminya.


Hingga akhirnya 1 jam kemudian sesuatu yang panas dan kental mengalir dari bawah sana yang membuat Erva terkulai lemas tak berdaya.


Anjar tersenyum manakala ia melihat istrinya yang memejamkan mata sejenak dengan keringat yang membasahi wajah cantik istrinya itu kemudian dengan cepat Anjar mencium seluruh wajah dengan begitu sayangnya.


"Terima kasih sayank, love you."

__ADS_1


Erva membuka matanya tetapi ia tidak mampu untuk membalas apa yang diucapkan oleh Anjar, perempuan itu hanya tersenyum  manakala mendapati suaminya menyatakan cinta lagi padanya sungguh entah mengapa ungkapan cinta dari Anjar membuat hati Erva melayang ke mana-mana.


Padahal dulunya dengan Dokter Keenan tidak begituz yang ia rasakan biasa saja tetapi kini dengan Dokter Anjar entah mengapa hatinya seperti diselimuti oleh bunga-bunga yang bertebaran.


"Mandi dek, bukankah satu jam lagi kamu juga kuliah."


"Mas mandi dulu saja, Aku masih lelah. Dan jangan memintaku untuk mandi bareng nanti yang ada aku telat kuliah dan Mas juga telat ke ruang operasinya."


Cup


Anjar mencium kening Erva, ia kemudian menyelimuti tubuh Erva dengan selimut lalu bergegas untuk turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak pantas lagi karena memang benar apa yang dikatakan oleh Erva bisa-bisa kalau mereka berdua mandi bareng terus saja akan menambah durasi waktunya di dalam bahkan bukan hanya satu jam malah 2 jam atau bisa lebih dengan gaya yang berbeda dan itu nanti membuat keduanya sama-sama terlambat.


Erva memejamkan matanya sejenak, ada rasa lelah dan juga ngantuk dan ia berusaha untuk tidur sebentar saja tidak apa-apa terus juga sembari menunggu suaminya yang masih berada di dalam kamar mandi dan pastinya ia tidak takut telat, kan nanti Anjar juga akan membangunkan nya 


Dan benar saja beberapa menit kemudian Anjar sudah selesai mandi, ia masih menggunakan handuk yang melingkar di atas perutnya tentu saja pandangan matanya tertuju ke arah Erva yang saat ini malah mengeratkan selimut dengan mata yang terpejam.


Anjar menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang bertingkah seperti itu sangat lucu dan menggemaskan. Ingin rasanya ia tidak membangunkan istrinya tetapi apalah daya Erva sendiri masih ada kuliah lagi dan tidak mungkin untuk membuat istrinya bolos.


"Dek bangun, mandi dulu."


Anjar membangunkan Erva dengan sangat pelan ia takut nanti kalau Erva malah kaget.


"Mas sudah selesai mandi?"


Tidak langsung menuju ke kamar mandi tetapi perempuan cantik itu malah bertanya kepada suaminya, yang jelas saja padahal bisa dilihat sendiri kalau suaminya masih menggunakan handuk dengan rambut yang basah mengapa masih ditanya lagi.


"Sudah, tinggal kamu saja. Ayo cepetan mandi, apa mau aku mandikan?"

__ADS_1


Mendengar kalimat yang diucapkan oleh suaminya Erva bergegas untuk membuka selimut, tentu saja ia tidak mau kalau suaminya memandikan dirinya dan itu berarti bukan hanya sekedar mandi dalam arti mandi yang sebenarnya tetapi pastinya akan melakukan yang iya iya.


Anjar menggeleng pelan manakala ia melihat istrinya yang sepertinya ketakutan sembari berlari menuju kamar mandi ia tahu bukan karena ingin menolak ajakannya tetapi tahu waktu tidak mungkin untuk melakukan hal itu lagi.


__ADS_2