
"Keenan!!!".
Dimas yang sedari tadi mencari Keenan ke sana dan kemari, mengumpat kesal dengan sahabat nya itu. Lagi dan lagi...ia melihat Keenan berpelukan dengan Amira, wanita yang sudah mengkhianati nya.
Memang, Sebenernya Dimas dari awal tidak begitu suka dengan Amira, apalagi dengan terang terangan wanita itu membohongi Keenan, terlepas dari apa masalahnya saat ini..
Sangat geram, kesal dan jengkel jadi satu, Dimas yang sudah di buat pusing karena sudah lebih dari lima belas menit mencari Keenan, akhirnya menemukan laki laki itu malahan asik berpelukan dengan Amira, mantan tunangan Keenan.
Dimas mendekat, ia kali ini memang harus menyadarkan Keenan, kalau ada hati yang harus di jaga...bukan dengan seenak nya main peluk wanita lain yang jelas jelas bukan apa apa nya.
Dan, setelah mendengar teriakan Dimas,. Keenan melepaskan pelukan Amira lalu mencium kening Amira di depan mata Dimas.
"Dimas, Keen...."
Amira sudah tidak tenang dan takut, ketika Dimas menghampiri nya. Begitu juga dengan Amira, dari awal...ia tau kalau Dimas tidak menyukai nya.
"Tidak apa sayank, kamu jangan khawatir...mungkin aku akan menemui kamu nanti siang, setelah istirahat."
Keenan mencoba menenangkan Amira, ia tau kalau Amira saat ini takut melihat kedatangan Dimas dengan teriakan yang menggelegar dan juga tatapan mata Dimas yang sangat tajam.
"Iya Keen, aku paham..."
"Dan sebaiknya, kamu pergi saja...."
Tidak ingin terjadi kekacauan di kantin, Keenan meminta Amira untuk pergi, Meskipun Amira terlihat menggeleng, tetapi akhir nya wanita itu mau meninggalkan Keenan.
"Dim...."
Amira mencoba menyapa Dimas, tetapi...hanya dijawab dengan anggukan kepala saja. Bukan tidak ingin ramah, tetapi.. Dimas lebih tepatnya sangat jengkel dan kecewa dengan dia orang yang ada di depannya.
Setelah kepergian Amira, Dimas mendekati Keenan, tangan nya yang sudah gatal....ingin sekali memberikan bogeman di wajah tampan Keenan tetapi berhati bej@d.
Namun sayangnya, Dimas masih baik untuk pagi ini. Ia tidak mau Keenan terlihat buruk di mata orang lain dan juga seminar sudah akan di mulai, tidak ada waktu untuk memberikan pelajaran untuk laki laki seperti Keenan.
"Lo memang berengssekkk Keen!!", umpat Dimas kesal.
__ADS_1
Setelah itu, Dimas meninggalkan Keenan karena ingin mengatur kembali sesuatu yang akan dilangsungkan pagi ini.
Ia bahkan sama sekali tidak mengucapkan kata kata apa apa lagi selain makian tadi yang sempat ia utarakan.
"Dim , tunggu!!"
Dengan berlari, Keenan mengejar Dimas yang lebih dulu jalan ke depan. Ia bahkan tidak memperhatikan orang orang yang mengapa nya.
Dimas menghentikan langkahnya, ia tidak mau jadi tontonan orang banyak, dan tidak lucu juga ..nanti dikira ia dan Keenan ada apa apa, hingga kejar kejaran seperti itu.
"Dim, gue bisa katakan yang sebenarnya tentang Amira, dan itu tidak seperti yang Lo kira!!"
"Oke, tetapi... bagaimana dengan Erva??"
Sebenarnya, masih banyak yang ingin ditanyakan oleh Dimas kepada Keenan, tetapi... waktu nya yang tidak tepat...
"Erva....."
Entahlah seakan akan lidahnya Keenan tidak bisa mengucapkan apa yang tadi sudah diucapkan nya, padahal... keputusan nya sudah bulat dan dengan tekad yang kuat kalau ia akan mengakui hubungan nya dengan Erva, setelah pulang dari Jerman beberapa hari lagi..
Dimas meninggalkan Keenan, tidak ingin menunggu ucapan Keenan yang nyatanya laki laki itu tidak bisa mengatakan sesuatu apapun juga.
Dimas, meskipun ia bukan saudara atau teman nya Erva, tetapi....ia juga tidak ingin Erva tersakiti dengan ulah Keenan yang tidak berperikemanusiaan.
"Dim, gue....."
Dimas yang kembali berjalan, harus memelankan langkah nya, ketika Keenan juga kembali mengejar dan juga saat ini sudah di samping nya.
"Sudah hampir telat!! tidak ada waktu lagi untuk lo utarakan sekarang!!"
Sedikit kesal, Dimas menghela nafasnya...kalau aja Keenan bukan sahabat nya sejak kecil, sudah ia tinggalkan Keenan.
Dimas memang brengseekkk, suka gonta ganti wanita setiap malamnya untuk dijadikan teman ranjang nya, tetapi...ia sama sekali tidak pernah mempermainkan hati seorang wanita mana pun juga.
Tidak bisa berbuat apa apa, Keenan melihat jam yang melingkar di tangannya, dan memang benar kalau ia sudah terlambat dan sebentar lagi acara di mulai.
__ADS_1
Setibanya Keenan di tempat yang sudah ditentukan untuk seminar, laki laki itu mencoba tenang dan bersikap profesional.. begitu juga dengan Dimas.
Untuk saat ini, ia mengesampingkan ego nya dan masalah pribadi, tidak ingin membuat orang orang yang sudah menunggu kecewa ataupun berprasangka yang buruk terhadap kinerja Keenan.
...****...
"Lo memang gila!!!"
Bugh
Sebuah pukulan berhasil mendarat di wajah Keenan. Yah, seperti apa yang pernah di katakan Dimas beberapa hari yang lalu, kalau dirinya lah yang akan memberikan bogeman pertama kali untuk Keenan, jika laki laki itu menyakiti Erva.
Entahlah, ia begitu sayang dengan Erva, dan Dimas sudah menganggap Erva seperti adik kandung nya sendiri, Meskipun baru beberapa bulan kenal.
"Oke, gue memang salah Dim, tetapi..apa gue salah kalau gue masih cinta dengan Amira?? sedangkan ko tau sendiri, bagaimana gue selama ini begitu merindukan nya bahkan tidak bisa melupakan nya, meskipun apa yang sudah gue lihat .. seharusnya mampu membuat gue membencinya, tetapi.. gue tidak bisa!!!"
Keenan sudah menceritakan dan mengakui semua nya kepada Dinas, bahkan tentang rencana nya untuk melepaskan Erva setelah kembali ke Indonesia, dan juga rencananya untuk segera menikah dengan Amira.
Kedua laki laki itu saat ini berada di sebuah taman di samping hotel, untung saja.... seminar hari ini tidak sampai sore, jadi....masih ada banyak waktu untuk Dimas dan juga Keenan ngobrol berdua.
"Lalu, apa selama ini Lo hanya mempermainkan Erva saja??? dan hanya menganggap nya sebagai pelampiasan??"
Dimas sudah emosi, meskipun ia sudah mendengar kenyataan tentang Amira, tetapi....sama sekali, ia tidak tersentuh dan malahan merasa ada yang janggal.
Bahkan, Dimas berpikir kalau Amira hanya memanfaatkan Amira, tidak dengan Erva yang sangat tulus mencintai Keenan.
"Bukan begitu Dim, gue tidak mempermainkan Erva, gue juga tidak menjadikan nya pelampiasan, bahkan.... gue mencintai dan menyayangi nya, tetapi...gue juga masih mencintai Amira....."
"Brengseekkk Lo ya!! Lo memang benar benar gila!!"
Dimas sangat kesal dengan ucapan Keenan, tidak menyangka kalau laki-laki yang sudah di kenalnya sejak kecil bisa bersikap seperti ini, apalagi dengan seorang wanita.
"Iya, gue memang gila!! tapi.. jujur saja....gue memang tidak bisa melepas Amira, karena gue masih sangat mencintainya...."
"Sekarang gue tanya sama lo dan jawab yang jujur ..Lo lebih cinta mana, Amira atau Erva??"
__ADS_1
Pertanyaan yang sebenarnya tidak gampang untuk seseorang jika dihadapkan dengan posisi dan keadaan seperti Keenan saat ini, tetapi... tidak dengan Keenan.