
"Jangan bengong saja, makan dek..."
Anjar melihat Erva yang hanya melongo saja, tau kalau gadis itu saat ini sedang melamun, entah memikirkan apa..Anjar saja tidak tau.
"Oh sudah datang ya.."
Erva bukan melamun, tetapi ia melihat ke sekeliling tempat ini. Dan juga tidak menyangka kalau Anjar bisa mendapatkan tempat seperti ini.
Mau bertanya, tetapi malu.... tidak mungkin kalau Erva tanya kok bisa Anjar mendapatkan tempat seperti ini, padahal dirinya sendiri sudah lama menginginkan tempat ini....namun tidak bisa.
"Belum.....", jawab Anjar menggoda.
Apanya yang belum, nyata nyata sudah ada di depan mata, tetapi Anjar lebih senang menggoda Erva saja. Dan lagi...kenapa Erva meski bertanya... padahal sudah jelas ada di sana, baru saja pelayan mengantarkan makanan.
"La ini apa??"
"Sudah tau kalau ada makanan, malahan nanya..mikirin apa sih?? Dokter Keenan???", ledek Anjar lagi.
"Hah? Dokter Keenan, mengapa begitu??"
Kenapa fokus nya jadi ke Dokter Keenan, padahal ia sama sekali tidak memikirkan tentang laki laki itu saat ini.... tetapi arahnya ke yang lain.
"Kali saja, kemarin aku bertemu dengan Dokter Keenan..." , ucap Anjar pada akhirnya.
"Bertemu???"
Belum apa apa Erva sudah panas dingin, siapa yang mengajak ketemu duluan....dan apa yang sebenarnya mereka omongkan.
"Ya, dia ngajakin aku untuk ketemuan."
"Dan Mas mau??"
Bodoh sekali, kenapa pertanyaan nya seperti itu. Sudah jelas kalau tadi Dokter Anjar mengatakan kalau kemarin bertemu dengan Dokter Keenan, masih saja bertanya.
"Sudah bertemu dan itu tanda nya mau...aku laki laki sejati... tidak mungkin menolak untuk diajak ketemuan, walaupun aku tau...apa tujuan dia menemuiku..."
Erva terdiam, tanpa tau dan meminta penjelasan lagi....ia paham, apa yang dibicarakan Dokter Keenan dengan Dokter Anjar. Yang tak lain dan tak bukan adalah tentang dirinya.
"Karena kamu, dek...."
__ADS_1
"Aku??"
Erva menunjuk dirinya sendiri, pura pura bodoh padahal tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya, Dokter Keenan masih mencintai kamu...dan dia berharap untuk bisa kembali lagi padamu, kamu tau???", Erva menggeleng.
Tau apa yang dimaksud oleh Dokter Anjar, apa tau kalau Dokter Keenan masih mencintai nya, atau tau yang lainnya??
"Dia sudah bercerai dari istri nya....."
Erva menggeleng pelan, ternyata Keenan juga bercerita ke mana mana soal dia yang sudah duda..apa maksud nya?? atau ingin membuat Anjar mundur untuk mendapatkan Erva??
"Aku tau Mas...."
"Tau??"
Gantian Anjar yang bertanya, ia bingung darimana Erva tau... padahal beberapa hari yang lalu tidak tau apa apa tentang laki laki itu.
"Tadi pagi kita ketemuan, dan dia menceritakan semua nya padaku...."
Jlebb
Entahlah...kalau ditanya apa hubungan nya dengan Erva, Anjar bingung harus menjawab apa ..ia bahkan tidak tau perasaan nya saat ini. Apalah ada cinta...atau hanya tertarik sesaat saja.
Hanya Erva lah, perempuan satu satunya yang mampu membuat hati Anjar berdesir, tetapi sampai saat ini...Anjar belum mampu untuk mengungkapkan apa yang terjadi dalam hatinya.
"Makan dulu, nanti keburu dingin."
Akhir nya Anjar menyudahi sesi tanya jawab nya, di samping sudah ada makanan di depan mata ..ia juga tidak mau menambah beban pikiran hatinya, yang jelas saja saat ini sedang tidak baik baik.
Erva mengangguk, mengingat Keenan membuat ia melupakan apa yang sudah di depan mata, dan jujur saja ..ia malahan kepikiran dengan laki laki itu.
Baik Erva maupun Dokter Anjar saling diam, bukan karena tidak mau ngobrol satu sama lain... tetapi....ini saat nya makan. Erva takut kalau Dokter Anjar tidak suka makan dengan bicara... meskipun ia tidak begitu.
"Enak??", tanya Dokter Anjar tiba tiba yang membuat Erva melongo seketika. Pasalnya apa yang dipikirkan ternyata salah .... Dokter Anjar malahan mengajak ngobrol.
"Banget Mas...kok bisa Mas pesan tempat di sini? padahal aku yang sudah lama ingin ke sini kenapa enggak bisa bisa...dan Mas dukun ya, tau saja kalau aku lagi pengen ke sini...Tapi, sayang sekali..ini enggak pedas..coba kalau pedas..pasti enak."
Dokter Anjar hanya tersenyum menanggapi ucapan Erva, ia juga tidak menjawab pertanyaan Erva dan lebih memilih untuk memandangi wajah cantik Erva yang terlihat senang senang tetapi juga sebal.
__ADS_1
"Ih ditanya malahan senyum saja ..enggak menjawab.... dasar Dokter es..."
Sebal dengan Dokter Anjar yang tidak merespon.. padahal Erva ingin tau darimana Dokter Anjar bisa memboking tempat ini, dengan tempat yang paling khusus pula...
"Dokter es?? dingin dong dek??"
Tidak sadar kalau memang dirinya adalah Dokter es yang dingin nya minta ampun... membuat orang melihat nya saja takut apalagi kalau sudah bicara..pasti langsung kabur karena tidak punya nyali.
"Ckk gak sadar....Mas apa enggak sadar kalau memang dingin banget....apa enggak pernah ngaca di rumah?? atau coba ingat ingat deh... apakah selama ini ada perempuan yang berani mendekati Mas??"
Anjar tersenyum, melihat ke arah Erva. Kamu Isa mengambil tisu yang ada di meja dan mendekati Erva.
Deg.
Deg
Deg
Jantung Anjar berdegup kencang, manakala wajahnya mendekat ke arah Erva.
Tangannya terulur untuk mengusap lembut sudut bibir Erva yang sudah penuh dengan saus, sangat pelan dan perlahan lahan. Dan seperti nya...Anjar sangat menikmati momen siang ini bersama Erva, apalagi saat wajahnya beradu pandang yang sangat dekat dengan Erva...dekat dan begitu dekat...
Jangan GeEr Er...jangan GeEr
"Terimakasih Mas..."
Erva yang malu, langsung saja menundukkan wajahnya. Bukannya tidak suka, tetapi jantung nya tidak aman. Erva yang sudah pernah merasakan jatuh cinta....tentu saja ia tau apa yang di rasakan saat ini ..apalagi dekat dengan Anjar membuat jantungnya berdetak kencang..
Tetapi, bagi Erva yang pernah gagal....ia tidak mau terlalu berharap dengan apa yang dilihat dan di rasakan. Takut saja ...kalau semua tidak seperti apa yang diinginkan.
Bahkan mungkin Erva menganggap, kalau Anjar hanya menganggap nya sebagai pasien nya saja ... tidak lebih.
Anjar lagi lagi Hanay tersenyum, masih dengan ekspresi yang biasa biasa saja. Itu yang membuat Erva harus meyakinkan diri nya sendiri untuk tidak terlena dengan apa yang Anjar lakukan.
"Dilanjut makan lagi, kalau kurang bisa nambah...atau mau pesan yang lainnya??"
"Pedas boleh??", tanya Erva.
Bukan hanya kedua orang tua nya saja yang melarang Erva untuk makan pedas...eh...ini Anjar juga.... tetapi sebagai apa??
__ADS_1