
Tidak ada penembakan yang romantis yang nyatanya sampai saat ini Dokter Anjar tidak mengatakan kata cinta itu kepada Erva.
Tetapi yang ada malahan Dokter dingin itu memaksa untuk menikah dengan dia. Tentunya tidak ada adegan lamaran atau adegan yang berbau-bau romantis dengan memberikan bunga atau coklat dan lainnya.
Apa-apaan, meminta untuk menikah tetapi bukan di tempat yang romantis apalagi ini di dalam lift dan tentunya bukan hal yang biasanya dilakukan oleh pasangan kekasih.
Tetapi walaupun begitu Erva senang. Masalah jika memang calon suaminya itu tidak romantis yang memang kenyataannya seperti itu. Dokter Anjar tidak akan pernah bisa romantis meskipun Erva sudah memberikan kursus keromantisan yang berulang kali tetap saja seorang pria dingin akan tetap menjadi dingin.
Mereka punya cara tersendiri untuk menyatakan cinta dan perasaannya kepada seseorang yang dicintai.
Bukan untuk diproklamirkan seperti kebanyakan laki-laki pada umumnya tetapi cukup dibuktikan dengan tindakan dan perhatiannya.
"Jadi kamu mau kan?"
"Mas serius?"
Bukannya meragukan, tapi Erva ingin menegaskan kalau Anjar benar-benar serius ingin menikahi dirinya bukan hanya sekedar ucapan saja tetapi harus niat dan tulus dari hati.
Pernikahan itu sekali seumur hidup dan pastinya tidak ada kata perpisahan dan juga harus dilandasi dengan rasa cinta dan kasih sayang kalau dilakukan dengan terpaksa sebaiknya tidak.
"Aku serius, apa kamu masih ragu?"
"Bukan begitu. Tetapi apakah tidak terlalu cepat ? Apakah semuanya bisa cepat untuk dilaksanakan lusa?"
Anjar kemudian menghampiri Erva dan menatap wajah cantik Erva, seakan-akan meyakinkan kepada calon istrinya bahwa ia benar-benar serius dan semuanya sudah dipersiapkan mata-mata tanpa Erva ketahui sebelumnya.
"Mungkin bagi orang lain dan juga bagimu terlalu cepat tetapi bagi aku tidak. Dan kamu tidak perlu khawatir semuanya sudah aku persiapkan seperti apa yang kamu mau seperti yang kamu inginkan lusa berikan akan dilaksanakan aku sudah menghubungi semua pihak untuk membantu melancarkan acara kita."
Anjar cepat sekali menjawab bahkan kata-katanya sungguh meyakinkan. Itu tidak perlu berpikir sekali atau dua kali untuk menjawab pertanyaan Erva yang katanya memang apa yang ditakutkan Erva itu tidak terjadi, karena benar benar persiapan yang dilakukan akan berjalan dengan lancar meskipun dengan waktu yang singkat.
__ADS_1
"Bagi aku, kalau aku sudah cocok dengan seseorang tidak perlu menunggu lama apalagi menunggu sampai bertahun-tahun itu tidak akan ada hasilnya bukankah sesuatu yang baik memang harus disegerakan dan kamu tidak perlu khawatir aku serius dan aku sudah menyiapkan semuanya."
Anjar meraih tangan Erva kemudian mencium punggung tangan gadis cantik itu.
Sedangkan Erva, melihat ke arah Anjar, menatap wajah tampak Anjar dan juga matanya melihat apakah ada kebohongan di dalam mata Anjar, tetapi sama sekali tidak ada kebohongan pun di sana yang ada hanyalah ketulusan dan juga keseriusan Anjar untuk dirinya.
Akhirnya gadis cantik itu pun mengangguk, dengan pintu lift yang terbuka lalu Anjar dengan cepat meraih dengan erpan dan menggenggam tangan lembut itu lalu membawanya untuk ke apartemen.
"Aku masak dulu menunya terserah ya."
"Apa saja terserah Mas, aku tidak ribet soal makanan. Mau aku bantu Mas?"
Meskipun Erva tidak sepintar Anjar, tetapi siapa tahu bantuannya bisa meringankan pekerjaan Anjar dan masakan itu menjadi cepat matang.
"Tidak perlu, kamu duduk di sini saja. Mau mendesain seperti apa gaunnya yang kamu inginkan, dan juga tema pernikahan yang kamu inginkan, aku terserah kamu."
"Kamu bisa rancang di sini, aku tinggal masak dulu."
"Nggak apa-apa, aku nggak bantuin Mas?"
"Nggak masalah. Menu makan siang kita simpel saja yang pastinya aku masak dan kamu selesaikan tugas kamu kalau bisa setelah masak semua sudah selesai."
"Nggak mungkin lah Mas emang sulapan apa?"
"Siapa tahu kamu benar-benar menyulapnya karena semua sudah ada di dalam otak kamu kan tinggal kamu tuangkan saja."
Memang konsepnya seperti itu semua memang sudah ada di otak Erva tetapi untuk menuangkannya Erva membutuhkan suatu keseriusan dan juga ketenangan.
Nyatanya memang bayangan tidak semudah dengan kenyataan hingga pada akhirnya Erva harus mulai mencoretkan tinta di atas kertas dan membuat sketsa seperti yang apa yang ada dalam pikirannya apa yang ia impikan selama ini.
__ADS_1
Hingga satu jam kemudian. Anjar sudah selesai masak dan tentu saja makanan yang dikarenakan hanya biasa saja ternyata luar biasa.
Bukan hanya satu atau dua menu saja tetapi siang ini Anjar memasak tempat minum sekaligus dan tentu saja semua masakan itu adalah masakan kesukaan Erva yang tidak mengandung banyak cabenya.
"Makan dulu dek, itu nanti bisa dilanjut setelah makan."
Semua sudah tertata rapi di meja makan kemudian Anjar menghampiri Erva yang masih bergelut dengan tinta dan juga kertas.
Memang menuliskan sebuah sketsa di kertas itu tidak gampang dan pastinya Erva sudah bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan tugasnya dengan cepat tetapi apalah daya kemampuan otak Erva yang memang kurang dalam melukiskan sesuatu membuat waktu 1 jam kurang untuk Erva.
"Gaun pengantinnya sudah jadi tinggal dekorasi ruangannya."
"Tidak masalah, makanlah dulu biar otak kamu encer lagi, siapa tahu nanti ada sesuatu yang perlu ditambahin lagi."
Memang begitu kenyataannya, kalau perut kosong pastinya tidak akan bisa konsentrasi. Erva meletakkan pulpen dan juga merapikan kertas-kertasnya lalu ia menuju ke ruang makan untuk menghampiri Anjar yang lebih dulu berjalan di sana.
"Ini bukan sederhana lagi Mas tapi ini spesial. Mengapa dalam waktu 1 jam Mas bisa memasak dengan beberapa macam menu seperti ini."
"Sudah terbiasa melakukan ini semuanya ketika di luar negeri dek, jadi tidak masalah. Dan kamu harus mencobanya semua juga, tentu saja kamu harus menghabiskan, tidak mau calon istriku terlihat kurus nanti."
Mendengar ucapan dari Dokter Anjar, Erva tersenyum malu-malu apalagi pernyataan yang mengatakan kalau calon istri membuat Erva semakin diterbangkan ke awal-awal tetapi tidak dijatuhkan karena Anjar memang benar-benar ingin memiliki Erva dan sudah jatuh cinta dengan gadis cantik itu.
"Jangan malu-malu begitu aku serius karena kamu adalah calon istriku, sudah makan dan tidak ada penolakan semua nya harus kamu habiskan."
Tidak ada jawaban lagi dari Erva. Bukan hanya karena malu saja tetapi gadis itu juga sudah lapar. Seperti biasa Erva langsung saja mengambil makanan, terlebih dulu ia mengambilkan makanan untuk Anjar. Entah mengapa tangannya tergerak untuk mengambil piring dan mengisi piring Anjar dengan nasi dan juga yang dari sana.
"Sudah seperti istri sungguhan, oh ya kan tidak lama lagi."
Tentu saja ia tidak menyangka kalau Anjar bisa sejauh ini padahal dulu Erva tidak berpikir untuk bisa lebih tekan dekat dengan Dokter itu, yang mana pastinya melihat saja enggan tetapi sekarang malah Anjar yang banyak omongannya daripada Erva.
__ADS_1