
Erva menggeleng pelan, ia juga menepuk pipi nya. Yah, seperti mimpi saja. Entah ini sebuah keberuntungan dan awal yang baik untuk nya setelah keterpurukan dan patah hati, atau malahan sebaliknya nanti.
Sempat tidak percaya, tetapi.. berulang kali Keenan meyakinkan Erva kalau semuanya tidak mimpi, dan Keenan juga yakin dengan apa yang diucapkan nya.
"Masih ragu??"
Tanya Keenan tiba-tiba memecah keheningan nya siang ini. Laki laki itu tau dan paham, tidak mudah untuk memulai hubungan yang sebelumnya memang mereka sama sama mempunyai masa lalu yang bisa dikatakan tidak baik-baik saja, diselingkuhi oleh orang yang dicintai nya.
Keenan memegang tangan Erva, dan mengambil cincin yang ada di dalam kotak kecil itu.
"Kakak serius, dan tidak main main...."
Dengan cepat Keenan memasangkan cincin yang ditaksir harganya tidak main main itu di jari manis Erva.
"Eh....."
"Sudah terpasang, dan tidak boleh di lepas....Kakak serius ingin membina rumah tangga bersama dengan kamu...."
Erva hanya mengangguk, meyakini diirinya sendiri kalau memang pilihan nya adalah tepat. Dan memang beberapa bulan bersama dengan Keenan, Erva sudah merasakan tulusnya cinta dan kasih sayank yang Keenan berikan.
"Terimakasih sayank, Kakak janji akan membuat kamu bahagia..."
"Tapi...."
__ADS_1
Ada sesuatu yang membuat Erva ragu, meskipun ia sudah yakin dengan Keenan, tetapi... bagaimana dengan orang tuanya...
"Ada apa??"
Keenan memegang dada Erva, laki laki yang berprofesi sebagai Dokter itu nampaknya belum melihat kebahagiaan di dalam diri Erva.
"Mamah dan Papah gimana?? aku takut kalau mereka tidak setuju."
"Jangan khawatir, kakak akan meyakinkan mereka....karena Kakak mencintai kamu dan tidak berniat untuk mempermainkan kamu...."
Erva menghela nafas panjang, mungkin... kalau hanya bertunangan saja, ia tidak keberatan.... tetapi...ini menikah, sebuah pernikahan yang tidak boleh main-main.
"Langsung nikah??"
"Mau nya gimana??"
Bukan menjawab, Keenan malahan memberikan pertanyaan yang jelas jelas Erva tidak bisa menjawab nya.
"Aku tidak tau..."
Benar saja, gadis cantik itu tidak tau harus menjawab apa, hingga Keenan yang gemas sedari tadi langsung saja mendekatkan wajahnya dengan wajah Erva.
Erva dibuat gelagapan dengan tingkah Keenan yang tiba tiba mendekat. Aroma mint yang menyeruak dari nafas Keenan, membuat Erva memejamkan matanya seketika.
__ADS_1
Keenan semakin dekat, hingga... keduanya sama sama merasakan hembusan nafas yang membuat keduanya ingin sekali merasakan sesuatu yang berbeda.
Cup
Satu kecu_pan menempel di bibir Erva, yah ... hanya itu saja, Keenan tidak berani lebih karena akan membuat dirinya tersiksa.
Erve membuka matanya, meskipun hanya sekilas.... tetapi....ia bisa merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan dengan laki-laki lain, yah ... hanya dengan Dokter Keenan saja.
"Besok malam, kita tunangan dulu... bulan depan nikah nya, gimana??"
"Hah?? cepat sekali?? aku masih sekolah Kak??"
"Tidak masalah, seperti yang pernah Kakak katakan kalau Kakak akan menunda punya anak dulu, sampai kamu lulus sekolah, satu tahun tidak masalah bukan???"
Tidak bisa berkata lagi, mau menolak juga tidak bisa. Resiko pacaran dengan laki laki yang lebih dewasa memang begitu, kalau tidak ditinggalkan karena hanya untuk mainan, ya diajak nikah cepat....
"Kenapa cepat sekali??"
"Itu sudah lama sayank, lusa Kakak harus berangkat ke Jerman selama satu Minggu, ada seminar yang mengharuskan Kakak ke sana, maka dari itu....besok malam..kakak akan mengikat kamu, dan setelah pulang dari Jerman, kita persiapkan secara matang....dan Kakak sudah pikirkan matang matang, bulan depan...itu pas banget kamu liburan kenaikan kelas..."
"Aku terserah Kakak dan Mamah Papah saja, kalau mereka merestui... aku mau...."
Tidak ada obrolan lagi, baik Erva dan Keenan sama sama saling pandang kemudian tersenyum. Rasa cinta yang singkat itu dan trauma akan kisah masa lalu nya, membuat Keenan langsung memutuskan untuk segera mengikat Erva.
__ADS_1