
Pagi ini adalah hari di mana Dokter Keenan berangkat ke Jerman, bukan untuk liburan atau mengunjungi seseorang, tetapi ..untuk sebuah tugas yang diberikan padanya.
Tidak dapat menolak, karena ini perintah langsung dari pemimpin Rumah Sakit , di mana pemimpin dan wakil nya memang wajib ikut dalam seminar yang diadakan di Jerman selama satu Minggu.
Berat rasanya meninggalkan Erva, di saat hubungan mereka yang lagi hangat hangat nya dan juga sederet persiapan pernikahan yang akan di langsungkan bulan depan.
Memang bukan sebuah pesta besar, tetapi...acara sakral yang dilakukan sekali seumur hidup itu memang harus dipersiapkan dengan matang.
Cup
Keenan mencium kening Erva dan mengusap air mata yang mengalir di pipi gadis cantik nya itu.
"Jangan nangis lagi, Mas pergi untuk kembali...tidak akan lama sayank, hanya satu Minggu..."
Kenapa perasaanku jadi tidak enak??
Tidak ingin Keenan kepikiran, Erva hanya memendam rasa yang aneh di dalam dadanya, yang ada gadis cantik itu meneteskan air matanya, untuk melawan rasa galau.
Satu Minggu memang bukan waktu yang lama, tetapi...bagi Erva itu sudah waktu yang lama, apalagi ia sedang jatuh cinta dengan seorang Keenan.
Sebenernya, hal yang sama juga dialami Keenan, semalam juga laki laki itu tidak dapat memejamkan matanya, mengingat perpisahan singkat yang akan membuat jarak mereka jauh ..
Benar saja, Erva adalah sosok gadis cantik yang berhasil menaklukkan hati Keenan, dengan segala kesederhanaan dan juga sikap manjanya, yang membuat Keenan seolah olah seperti dibutuhkan.
"Satu Minggu lama Mas... apa aku sanggup?"
Mereka sudah mengganti panggilan nya, bukan lagi Kakak, akan terkesan seperti kakak dan adeknya bukan pasangan nya.
"Mas tau, setiap malam atau setiap ada waktu, Mas pasti akan menghubungi kamu. Andai saja kamu tidak ulangan kenaikan kelas, Mas pasti akan ajakin kamu Beby....."
Erva akhirnya mengangguk, ia mau tidak mau melepas kepergian Keenan pagi ini.
Di bandara juga nampak Dimas dan juga pemimpin Rumah sakit yang sudah siap untuk terbang ke Jerman, dan saat itu... Keenan mau tidak mau kembali memeluk Erva...
"Hati hati Mas...jangan lupa ngabarin aku kalau sampai di sana...", pinta Erva dengan tulus, sembari memandang wajah tampan tunangannya yang satu Minggu nanti tidak akan dilihat dengan nyata.
"Pasti Beby, kamu juga hati hati ..jaga kesehatan dan belajar yang rajin...."
__ADS_1
Lambaian tangan melepas kepergian Keenan, bukan nya Erva tidak rela, tetapi..ada perasaan yang aneh dengan diirinya saat ini.
Ada sedikit rasa tidak rela melepas Keenan untuk Ke Jerman, meskipun di sana Keenan tidak sendirian...ada Dimas yang memang di minta ikut menemaninya.
"Apa benar kamu akan kembali??"
Rasa sesak dan hampa dirasakan Erva saat ini, ia masih terus memandangi punggung calon suami nya yang sebentar lagi tidak nampak.
Hingga, tepukan seseorang membuyarkan lamunan dan perhatian matanya dari Keenan.
"Berangkat sekolah yuk....", Ajak Romi.
Romi memang sengaja pagi ini datang ke rumah Erva, ia ingin mengucapkan selamat atas acara pertunangan nya tadi malam. Bukan nya Romi tidak bisa datang, ia memang sengaja tidak datang, yang pasti hatinya sakit melihat Erva bersanding dengan Keenan, meskipun baru sebatas pertunangn saja.
"Rom...kenapa kamu ada di sini??"
Pandangan matanya masih lurus ke depan, meskipun sudah tidak melihat punggung Keenan, tetapi...Erva masih berharap Keenan kembali dan tidak jadi berangkat.
"Aku tadi ke rumah, dan kata Tente kamu ngenterin Dokter Keenan ke Bandara, jadi aku susul ..."
"Berangkat sekolah yuk, nanti telat...", ajak Romi lagi.
"Aku diantar supir Rom...", bukannya menolak untuk... tetapi mamang Erva tadi kesini di antar supir yang sekalian mengantarkan ke sekolah.
"Pak Ali sudah pulang, katanya mau nganterin Tante...."
"Astaga aku lupa...."
Romi tersenyum, pagi ini ia dan Erva akan berangkat bersama, dan tentunya ini jarang dan hampir saja tidak dilakukan.
Erva masuk ke dalam mobil Romi, ia tidak mau banyak drama toh juga selama putus, Romi tidak lagi mengejar nya, dan menganggap sebagai sahabat yang siap membantu apa yang dibutuhkan.
"Maaf, aku semalam tidak bisa datang....", ujar Romi penuh penyesalan, yah...menyesal karena telah melepaskan Erva.
"Tidak masalah Rom, aku tau kalau kamu sibuk."
Erva paham kenapa Romi tidak datang, bukan karena sibuk yang menjadi alasan nya, tetapi...ia tau kalau Romi tidak sanggup melihat dirinya dan Keenan di sana.
__ADS_1
"Semoga kamu bahagia...aku selalu berdoa untuk mu....", ucapan yang terkesan tulis, meskipun di dalam hatinya menangis pilu.
"Amin...doa yang sama untuk kamu...."
Romi tersenyum, Sebenernya ia tidak begitu yakin dengan Dokter Keenan, apalagi Romi sudah tau seluk beluk dan layar belakang sang Dokter.
Bukan karena bibit bebet dan bobotnya, tetapi karena masa lalu Keenan yang masih saja sekali membayangi pikiran Dokter tampan itu.
Dan tak terasa, mobil Romi sudah sampai di parkiran sekolah, di man Erva membuka sabuk pengaman dan berniat untuk turun.
"Tunggu Er....," Romi menahan tangan Erva yang sudah ingin membuka pintu mobil.
Erva menoleh ke arah Romi dan melepaskan tangan nya yang masih dipegang oleh Romi.
"Apa kamu bahagia??"
Romi seakan tidak yakin dengan apa yang dilihat nya, memang jika dilihat antara Erva dan Dokter Keenan terlihat bahagia dan sama sama saling mencintai, tetapi tidak tau bagaimana aslinya di belakang.
"Aku bahagia, kenapa Rom??"
Romi menggeleng, tidak mungkin ia memberi kegelisahan nya, apalagi menceriakan kalau sang mantan tunangan Dokter Keenan juga berada di Jerman.
Memang Jerman itu luas, tetapi..entah kenapa Romi merasa was was jika kedua orang itu bertemu Lagi.
Dan jangan tanyakan Romi mendapatkan informasi dari mana, kalau soal itu sangat mudah di dapat kan, bahkan sekarang anak buah Romi sudah menyebar di Jerman, tentu saja ingin memantau Keenan di sana.
Kalau pikiran nya tidak terbukti benar di sana, Romi akan mengikhlaskan Keenan dengan Erva, tetapi..
kalau memang terbukti seperti apa yang dipikirkan, Romi akan kembali mengejar Keenan.
"Keluar yuk!!",
Lagi dan lagi Romi tidak tega, apalagi saat ini adalah ulangan kenaikan kelas, bukannya tidak mungkin itu akan memecah konsentrasi Erva nantinya.
Erva mengangguk, meskipun didalam hati merasa ada yang aneh dengan ucapkan Romi, tetapi..ia tidak mau terlalu memikirkan nya.
Dengan malas, Erva melangkahkan kakinya menuju ke kelas untuk mengikuti ulangan kenaikan, meskipun ia Disni.... tetapi.. pikirannya ke mana mana, masih belum siap di tinggal Keenan meskipun hanya satu Minggu saja.
__ADS_1