
Setelah Erva dibawa keluar dari ruang UGD, Mona yang sedari tadi menemani langsung saja mengikuti ke mana sahabatnya akan di bawa.
Tetapi, tidak dengan Dokter Anjar. Laki laki itu sudah lebih dulu meninggalkan ruangan UGD dan saat ini berada di ruang perawatan Erva.
Mona tertegun, ia bahkan lupa untuk menemui bagian administrasi, tetapi..mengapa saat ini Erva sudah di dibawa di sebuah rumah perawatan dengan fasilitas yang sangat luar biasa, bahkan sudah seperti rumah sendiri yang serba ada di sana.
Dan yang membuat Mona kaget, Dokter Anjar sudah berada di dalam ruangan itu, dengan seragam Dokter dan juga peralatan medis yang yang ada di sana.
Gue jadi curiga, jangan jangan....ada udang di balik rempeyek dari Dokter Anjar.
Gadis itu hanya membatin saja, tetapi tidak bisa mengucapkan nya di depan Dokter Anjar. Kecurigaan Mona semakin bertambah, ketika Dokter Anjar memberikan fasilitas yang lengkap di Rumah Sakit ini, yah... meskipun Mona tau, Keluarga Erva pastinya tidak akan keberatan untuk membayar semua nya.
Mona masih melihat interaksi di dalam ruang perawatan Erva, Dokter Anjar yang begitu telaten dan terkesan perhatian penuh dengan Erva, yang membuat Mona menggelengkan kepala seketika.
"Aneh banget, seperti bukan sama pasien nya, tetapi...sama..."
__ADS_1
"Pacarnya ya MBK..."
"Eh...."
Mona menoleh ke asal suara, di mana di samping nya sudah ada perawat yang tidak sengaja mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Mona tadi.
"Bukan begitu sus, tapi...aduh...gimana ya,...."
Mona bingung sendiri, ia takut kalau perawat itu akan berbicara dengan Dokter Anjar.
"Jangan takut MBK, saya tidak akan memberitahukan kepada Dokter Anjar, dan memang yang mbak lihat itu benar...saya juga setuju, karena tidak biasanya Dokter Anjar itu tidak seperti itu, tapi....ini sangat berbeda....padahal ya mbak, Dokter Anjar itu tidak pernah dekat dengan perempuan, tetapi...saya lihat dengan mbak Erva itu beda ...", bisik perawat itu di telinga Mona.
Sementara Dokter Anjar, laki laki itu memeriksa Erva lagi, mulai dari denyut nadi hingga perut.
"Dasar anak nakal, bandel lagi.", ucap Anjar setelah memeriksa perut Erva.
__ADS_1
Laki laki itu tau, apa yang terjadi dengan Erva, hanya memegang perut nya sana, Dokter Anjar sudah paham.
Tidak segera pergi, Dokter Anjar itu malahan berdiri di samping Erva, dengan menatap ke arah wajah Erva yang cantik meskipun nampak pucat.
Cantik...tapi kenapa masih muda sekali?? apa dia mau???
Ah mikir apa aku ini...
Tanpa sengaja, laki laki itu mengagumi Erva dan ada sesuatu di dalam hatinya yang tidak biasa ia rasakan.
Bertemu wanita wanita cantik, dan pasiennya juga....itu sudah biasa.... tetapi...kenalan bertemu dengan Erva, gadis yang baru saja lulus sekolah menengah atasnya itu....dadanya bergetar,, senyumannya merekah ketika bertemu dengan Erva yang setiap ketemu pasti menyebalkan di mata Anjar.
"Ehem....jangan dilihatin terus Dokter, nanti naksir loh .
atau malahan sudah naksir hahahaha ...."
__ADS_1
Mona tidak tahan untuk tidak berucap, bibir gadis itu terasa gatal untuk menyembunyikan apa yang dipendamnya
Dokter Anjar menoleh, tidak menanggapi apalagi tersenyum.... kemudian tanpa sepatah kata pun, laki laki itu segera pergi meninggalkan Mona yang sedari tadi menunggu jawaban dari Anjar.