
Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore dan itu tandanya semua tamu undangan sudah pada datang dan juga sudah pulang, yang tertinggal di tempat itu hanyalah keluarga dari kedua mempelai saja dan juga beberapa orang yang bertugas untuk membersihkan dan mengamankan jalannya acara acara pernikahan pagi ini.
"Mau langsung pulang atau istirahat dulu di hotel?" tanya Mama Risa yang ia tahu bagaimana rencana dari Anjar.
Anjar melirik ke arah Erva kemudian Erva mengangguk, yang pastinya mereka sedua sudah mempunyai kesepakatan kalau setelah selesai acara langsung pulang dan tentu saja bukan pulang ke rumah Erva tetapi langsung pulang ke rumah Anjar yaitu rumah dari Mama Risa.
Dan mereka berdua juga sudah sepakat untuk tinggal di rumah Mama Risa. Bukan karena Anjar tidak mampu untuk membelikan rumah untuk Erva tetapi di sini Ervanya yang memilih untuk tinggal di rumah Mama Risa, kasihan dengan Mama Risa jika ditinggal maka Mama Risa hanya sendirian dengan asisten rumah tangga.
Lagi pula, jarak rumah Mama Risa dengan kampus Erva lebih dekat daripada dengan rumahnya sendiri.
Dan juga Erva bisa nanti bolak-balik ke rumahnya jika kangen dengan kedua orang tuanya, dan juga Erva memang tidak suka jika berada di rumah sendiri yang rasanya sepi karena ia sudah terbiasa dengan kedua orang tuanya bisa ngobrol dan juga bercanda.
Anjar sendiri tidak keberatan, malahan ia senang jika istrinya mau diajak tinggal dengan Mamanya dan itu berarti hubungan antara istri dan juga Mamanya akan semakin erat dan Anjar tidak perlu repot repot lagi untuk mengakrabkan keduanya.
"Langsung pulang saja Mah."
Jawab Anjar dengan sangat yakin, bukan hanya ia sudah merasa lelah tetapi ia juga penasaran bagaimana rasanya dengan malam pertama seperti yang pernah dokter Rico ceritakan.
"Kalau begitu kalian pulang saja mungkin Mama masih mau nginep di hotel ini bersama dengan om dan tante kamu."
"Baik Mah, kalau begitu kami pamit pulang dulu."
Mama Risa memang sudah mengatakan kepada Anjar kalau setelah acara ini selesai beliau tidak ingin pulang dulu ke rumah.
Bukan hanya saja karena tidak ingin mengganggu pengantin baru tetapi memang ia masih kangen dengan keluarganya dan kesempatan kali ini digunakan oleh Mama Risa untuk temu kangen dan juga ngobrol-ngobrol dengan sanak keluarga yang mungkin jarang bertemu.
__ADS_1
Tidak masalah untuk Anjar lagi pula ini adalah kesempatan bagus untuknya karena bisa berduaan dengan istrinya tanpa ada seorangpun yang mengganggu.
Dan tentu saja setelah berpamitan kepada kedua keluarga, Anjar mengajak istrinya untuk pulang ke rumah yang tentunya Aris sebagai sopirnya kali ini.
Selang beberapa menit mobil yang dikemudikan oleh Aris sudah berada di halaman rumah Dokter Anjar dan tentu saja Anjar dan Erva langsung turun sedangkan Aris masih harus kembali lagi ke hotel untuk meramukan semua urusan yang belum selesai.
Anjar meraih tangan Erva kemudian menggandeng istrinya untuk menuju ke atas tentu saja mereka langsung menuju ke kamar utama kamar di mana Anjar tempati.
Ceklek.
Anjar membukakan pintu kamar untuk Erva dan kamar Anjar tidak dihias sebagaimana pengantin baru pada umumnya hanya saja terlihat lebih rapi dan ada penambahan ruang belajar desainnya yang tentunya itu untuk tempat belajar Erva nantinya.
"Bersih dan rapi ya Mas?"
Erva menggelengkan kepalanya manakala melihat kamar Anjar yang sangat bersih dan rapi berbeda dengan kamarnya yang sering acak-acakan kalau rapi itu pasti ada asisten rumah tangganya yang membersihkan kamarnya itu.
"Kamu mandi saja dulu dek..."
Ucap Anjar kepada Erva yang meminta istrinya untuk mandi terlebih dahulu meskipun dirinya sudah ingin menerkam Erva secepatnya tetapi tidak mungkin membiarkan istrinya itu tanpa mandi terlebih dahulu.
"Iya Mas."
Erva menjawab dengan sedikit gugup, gadis itu kemudian mengambil pakaian yang memang sudah dipindahkan semuanya ke sini dan tentu saja langsung saja masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi jantung Erva berdegup sangat kencang Ia juga merinding mana kala mengingat apa yang diucapkan oleh Adel tadi yang membuat pikiran Erva saat ini melayang-layang entah ke mana.
__ADS_1
Apalagi setelah ia beberapa hari lalu juga mendengar cerita dari sepupunya Mona yang mengatakan kalau setelah masuk ke kamar langsung suaminya meminta untuk mandi dahulu dan setelah mandi tentu saja suaminya langsung saja menerkam dan itu sama persis seperti apa yang dikatakan oleh Dokter Anjar tadi yang memintanya untuk mandi terlebih dahulu.
Erva menggeleng belang manakala ia kembali mengingat ucapan dari sepupunya Mona kalau pertama kali melakukan itu sangat sakit dan pastinya erpan sakit takut untuk melakukannya tetapi ia juga tidak mungkin untuk menolak apa yang Anjar r inginkan.
Hingga beberapa menit kemudian Erva sudah selesai mandi dan ia memakai pakaian tidur seperti yang biasanya digunakan dan langsung saja keluar dari kamar mandi.
Ceklek...
"Astaghfirullahaladzim"
Erva mengusap dadanya ketika ia sudah membuka pintu kamar mandi dan ternyata suaminya sudah berada di depan yang membuatnya kaget.
Terlebih lagi ia melihat Anjar yang sudah segar dengan hanya memakai kimono saja dan juga rambutnya yang basah menambah ketampanan dari laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
"Jangan kaget seperti itu, maaf jika aku berdiri di sini..."
Bagaimana tidak kaget , yang tadinya Anjar ingin menunggu erpan saja mandi dan meminta Erva untuk mandi terlebih dahulu tetapi nyatanya suaminya malah sudah selesai mandi dan berdiri di depan pintu.
Ya Anjar memang sengaja untuk mandi di tempat lain karena ia pikir daripada menunggu Erva yang nantinya pasti akan lama dan membuang waktu saja Anjar mempunyai pikiran seperti itu dan tentunya Ia juga tidak ingin berlama-lama di kamar mandi dan ingin segera menerkam istrinya.
"Kenapa masih berdiri situ, sini mendekatlah."
Entah gugup atau takut Erva malahan masih diam saja di depan pintu kamar mandi dan tentunya setelah Anjar memintanya untuk mendekat, Erva baru melangkahkan kakinya untuk mendekati.
"Rileks dek, jangan takut begitu aku tidak gigit kok, hanya memakan kamu saja."
__ADS_1
Anjar tahu apa yang sedang Erva pikirkan yang pastinya istrinya itu pasti ketakutan dengan tingkatnya saat ini.
Ya memang Anjar saat ini sedang menatap Erva dari atas ke bawah padahal Erva tidak memakai pakaian seksii hanya memakai baju tidur saja tetapi entahlah pandangan mata Anjar malah sudah membuat Erva grogi dan ketakutan saat ini.