
"Tapi Mas aku...."
Anjar langsung saja menutup mulut Erva dengan jari telunjuknya ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh istrinya itu dan tentunya ini waktunya tidak tepat untuk berbicara apapun juga karena ia melihat Erva yang masih lemas dan butuh asupan makanan.
"Makan saja dulu nanti kita bicarakan lagi."
Erva mengangguk patuh. Ia memang sangat lapar sekali bahkan tadi malam melewatkan makan malamnya dan meskipun perutnya lapar tetapi ia tidak punya tenaga untuk sekedar bangun saja apalagi sampai turun ke bawah mengambil makanan.
Beruntung sekali ia mendapatkan suami yang pengertian yang tahu dengan apa yang dirasakan Erva saat ini.
Padahal Erva juga ingin mengatakan sesuatu kepada Anjar dan tentu saja ini mengenai anak, bukan karena Erva tidak ingin mempunyai anak dari Anjar tetapi di usianya sangat mudah dan juga ia masih kuliah, apa bisa ia menjalankan peran sebagai ibu sekaligus mahasiswa yang pastinya akan banyak menghabiskan waktu di luar sana.
"Biar aku yang menyuapimu."
Rasanya tidak tega membiarkan Erva menyendok makanan sendiri meskipun hanya menggerakkan tangan tetapi Anjar melihat kalau Erva sepertinya begitu kesakitan.
Erva kembali mengangguk, perempuan cantik itu langsung saja membuka mulutnya ketika Anjar sudah menyuapinya makanan.
Memang berhadapan dengan laki-laki dengan seperti dokter Anjar ini harus dengan ekstra sabar dan juga kebanyakan dari mereka tidak bisa mengungkapkan perasaannya tetapi mereka melakukan dengan tindakannya dan perhatiannya seperti yang dilakukan oleh Dokter Anjar saat ini.
Hingga lama kelamaan Erva tidak bisa kalau hanya dengan berdiam diri saja. Ia pun mengambil sendok yang sama lalu menyuapi makanan ke dalam mulut suaminya.
"Romantis ya Mas."
Anjar mengembangkan senyumannya ia kemudian mengusap lembut rambut Erva yang nyatanya memang keadaan mereka berdua saat ini benar-benar romantis, tidak menyangka jika kehidupan Anjar setelah menikah bisa sebahagia ini.
Beberapa menit kemudian satu porsi ukuran jumbo sudah habis dipiring, lalu Anjar menaruh piring itu di atas meja kemudian mengambilkan minum dan juga jamu.
"Ini apa Mas?"
Erva tentu saja bertanya karena ia tidak pernah melihat minuman dengan warna seperti itu bahkan sama sekali ia juga belum pernah meminumnya.
"Dari Mama, katanya biar makan rapet."
"Eh...."
Padahal tadi Mama Risa tidak mengatakan seperti itu tapi entah kenapa Anjar bisa-bisanya berbicara seperti itu kepada erfa dan tentu saja dari mana Anjar tahu jamu itu adalah untuk merapatkan sesuatu di bawah sana.
Menghargai apa yang diberikan oleh Mama mertuanya, Erva langsung saja menghabiskan jamunya yang tentu saja berasa agak sedikit pahit.
Lalu ia juga tidak enak dengan suaminya, Erva melangkahkan kakinya satu untuk turun ke bawah ia ingin ke kamar mandi tentu saja ingin mandi sebentar karena badannya lengket-lengket semua.
"Au....ssstttt...."
Erva meringis kesakitan manakala baru saja satu kakinya yang turun belum ia melangkah ke kamar mandi tetapi rasanya ia tidak kuat lagi.
"Sakit dek?"
"Ya Mas, perih dan ngilu .. buat gerak aja sakit dan susah."
"Mau ke kamar mandi, aku bantu ya?"
"Iya Mas pengen pipis dan juga pengen mandi lengket-lengket semuanya."
"Oke sebentar, aku siapkan dulu airnya.'
Erva menurut saja ia menunggu suaminya di atas ranjang mau ikut ke dalam kamar mandi dan mau menyiapkan airnya sendiri tetapi nyatanya tidak bisa benar-benar apa yang dikatakan Anjar kemarin kalau suaminya akan membuat dirinya tidak bisa berjalan yang nyatanya memang iya.
"Air sudah siap, mau aku gendong?"
"Tidak usah...ah..."
Lain di bibir dan juga lain di hati itulah Erva, perempuan itu berpikir kalau berdiam diri sejenak akan membalikkan keadaan seperti semula tetapi nyatanya tidak, ia bahkan untuk berdiri saja susah dan terpaksa Anjar menggendongnya ke dalam kamar mandi.
"Mau aku bantu?"
Anjar sudah meletakkan Erva di bathup yang di dalam sana sudah berisi ramuan yang akan membuat tubuhnya segar dan juga bagian intinya tidak terasa sakit.
Tentunya Anjar juga tidak tega untuk meninggalkan Erva sendirian di sana, ia bahkan menawarkan diri untuk membantu Erva padahal ia sendiri sudah cenat-cenut saat ini pastinya melihat tubuh Erva yang tanpa pakaian itu membuatnya semakin gila saja.
"Boleh, tapi aku takut..."
Memang nyatanya Erva tidak sanggup untuk sekedar menggosok tubuhnya tetapi ia juga mempertimbangkan bagaimana kalau nantinya suaminya itu membantunya tetapi malah kepengen, ia tahu bagaimana seorang laki-laki yang sudah melakukan malam pertama pasti ada keinginan untuk melakukannya lagi apalagi suasananya mendukung dingin-dingin di kamar mandi dan tentu saja dengan kondisi yang sepertinya juga menunjang.
"Takut kalau aku pengen ya?"
__ADS_1
Tentu saja jawabannya iya meskipun ia memang butuh bantuan dari Dokter Anjar tetapi ia juga mempertimbangkan suaminya saat ini.
"Aku bisa tahan, aku bantu ya."
Jelas saja Anjar berbohong, mana mungkin ia akan tahan di posisi sekarang ini yang tidak dekat dengan Erva, laki-laki itu sudah kepengen dan ingin mengulang lagi dan lagi apalagi nanti ketika ia berada satu bathup yang sama.
Lagi lagi Erva tidak dapat menolak Anjar , dan dengan cepat membuka pakaiannya kemudian ikut masuk ke dalam bathub.
Anjar langsung saja mengambil sabun, menggosok punggung Erva dan seluruh tubuh Erva tetapi tidak disangka-sangka sesuatu yang sedari tadi memang sudah menunggu dan meminta dikeluarkan akhirnya tidak tahan juga.
Erva merasakan ada sesuatu yang berubah di bawah, ia tahu kalau sedari tadi suaminya itu mati-matian menahannya dan tidak ingin mengatakan nya.
Sedangkan Anjar memang benar apa yang dirasakan Erva itu dari awal ia melihat tubuh polos istrinya sesuatu sudah meminta untuk keluar tetapi ia tahu kondisi Erva saat ini tidak baik-baik saja yang mungkin istrinya akan semakin tambah sakit jika ia meminta.
Anjar berusaha mati-matian untuk mempertahankannya Ia tidak ingin kalau Erva semakin tersisa dengan keinginannya ancer tidak boleh egois cukup kemarin sore sampai pagi ini ia mengerjai istrinya dan mungkin akan melakukannya nanti malam lagi tetapi bukan sekarang.
Jangan mesum Anjar kamu harus bisa kasihan istri kamu sudah kamu hajar seperti itu masa kamu masih mau menghajarnya lagi....
Anjar menghela nafasnya pelan, tetapi ia masih penasaran bagaimana melakukannya di dalam kamar mandi yang menurut seseorang yang pernah bercerita dengannya akan terasa luar biasa jika dilakukan di tempat yang berbeda dengan gaya yang berbeda pula.
"Mas..."
Erva kemudian melihat ke arah suaminya dan memang benar kalau ekspresi wajah Anjar saat ini begitu berbeda seperti menahan sesuatu tetapi tidak ingin mengungkapkannya
"Lakukan saja jika Mas ingin."
Erva mengatakan jujur kepada Anjar meskipun ia masih terasa sakit di bagian bawahnya tetapi ia juga tidak tega melihat suaminya seperti itu apalagi menurut cerita jika tidak dilakukan maka akan pusing tujuh keliling bahkan sampai tidak mood untuk ngapa-ngapain.
"Tapi dek?"
Bukannya menolak tetapi Anjar bingung untuk melakukannya, ia tahu istrinya masih kesakitan dengan ulahnya dan ia akan mencoba untuk sekuat tenaga menahannya, tidak meminta.
"Tidak masalah, Aku siap. Aku tahu Mas dari tadi menahannya kan?"
Anjar mengangguk, tidak ia pungkiri memang apa yang dikatakan oleh Erva adalah benar.
"Lakukanlah, Aku siap Mas aku tidak apa-apa Lagian suamiku seorang Dokter pastinya setelah ini aku akan diberikan vitamin untuk menambah daya tahan tubuhku."
"Terima kasih dek."
Tidak tanggung-tanggung laki-laki itu langsung saja bekerja yang membuat suasana di kamar mandi itu semakin panas dengan nyanyian-nyanyian yang dikeluarkan oleh Erva maupun Anjar.
Hingga satu jam kemudian..
Anjar sudah berhasil mengeluarkan oli yang sendiri tadi memang ingin keluar, kemudian dengan cepat membantu istrinya untuk mandi kali ini benar-benar ia ingin membantu Erva mandi bukan ingin macam-macam lagi.
Tentu saja untuk kali ini ia cukupkan karena melihat Erva yang wajahnya sudah pucat karena kedinginan tentunya.
"Terima kasih dek...."
"Sama-sama Mas itu sudah menjadi kewajibanku."
Anjar tersenyum, betapa beruntungnya dirinya mempunyai istri yang pengertian yang baik meskipun kadang-kadang juga ngeyelan tetapi tidak masalah selama keduanya sama-sama pengertian hal-hal sekecil apapun bisa diselesaikan dengan baik.
Seperti pasangan pengantin baru pada umumnya agar juga membantu Erva untuk mengeringkan rambut mengambil pakaian yang ada di lemari dan juga membantu Erva untuk mengganti pakaian itu.
"Biar aku saja Mas, nanti Mas pengen lagi."
"Tidak apa-apa. Kalau pengen itu sudah pasti dek, tetapi kali ini aku bisa menahannya."
Anjar dengan cepat mengambil pakaian Erva kemudian memakaikannya, dan hanya memakaikan pakaian Erva sama, ia tidak macam-macam lagi dan sudah cukup untuk siang ini mungkin akan memintanya nanti malam.
"Mau ke mana? bukankah kamu tadi capek ingin istirahat?"
"Ke bawah Mas, aku tidak enak sama Mama sejak kemarin kita kan belum bertemu dengan Mama apalagi pagi ini aku tidak membantu Mama untuk menyiapkan sarapan."
Anjar tersenyum, kemudian menarik tangan Erva dan membawa istrinya itu untuk duduk di atas ranjang.
"Tidak apa-apa dek, lagi pula Mama tidak ada di rumah."
"Tidak ada di rumah, lalu di mana Mas? aku jadi semakin tidak enak baru satu hari tinggal di sini tapi aku tidak bertemu dengan Mama bahkan tidak membantu beliau."
"Mama pergi ke rumahnya Om, kebetulan di sana lagi ada acara kecil-kecilan dan tentunya sekalian ngumpul dengan keluarga yang jarang bisa bertemu."
"Mas nggak ikut ke sana?"
__ADS_1
"Ya tidaklah, mana mungkin Mas ikut ke sana enakan di sini saja sama kamu kita bisa berduaan."
"Mas...."
Erva memukul dada Anjar kemudian laki-laki itu dengan cepat menarik kepala Erva dan menyandarkan di pundaknya lalu tangan Anjar meraih tangan Erva dan mencium punggung tangan Erva.
"Maaf jika selama ini aku masih ada kekurangan tetapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik dan pengertian serta perhatian sama kamu."
"Semua orang pasti punya kekurangan Mas, bukan hanya Mas saja tetapi aku juga dan kita akan sama sama memperbaiki semua yang kurang di diri kita masing-masing."
"Terima kasih dek mau menerima aku menjadi suamimu."
"Iya Mas sama-sama, begitu juga dengan aku, Mas mau menerima aku jadi istrimu."
"Bagaimana, apakah masih sakit?"
Saking asiknya ngobrol Anjar lupa dengan apa yang harus dilakukan kepada istrinya tentu saja habis mandi tadi seharusnya Anjar memeriksa keadaan Erva dan memberikannya salep jika memang lecet dan luka.
Erva mengangguk, tidak ia pungkiri bahwa sesuatu di bawah sana masih terasa sakit apalagi jika dibuat berjalan.
"Berbaringlah, Mas akan periksa dan akan obati sebentar"
"Pakai masker Mas."
"Pakai masker untuk apa lagi? wangi kok tidak bau."
"Mas... bukan itu, masker bukan buat tutup mulut dan hidung tetapi untuk menutupi mata Mas, aku takut kalau nantinya Mas malah menginginkan lagi."
Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya apalagiĀ tentang masker, dan yang benar saja masker itu untuk menuntut mulut dan hidung, bukan untuk menutup mata, apa-apaan erfa.
"Kamu aneh dek masker itu penggunaannya bukan di mata."
"Bukan aneh tetapi khusus untuk Mas, Mas itu dipakai di mata apalagi saat ini rawan bahaya."
"Oke tenang aku akan kuat iman."
Tidak ingin berdebat lagi, Erva mengiyakan saja dan ia berharap kalau kali ini suaminya benar-benar tidak khilaf, bahaya jika sampai meminta lagi bukannya akan sembuh tetapi malahan akan semakin luka saja.
Anjar menggeleng pelan manakala ia sudah melihat sesuatu yang membuatnya tidak percaya. Tentunya semua yang terjadi pada Erva itu karena ulah dirinya yang dengan ganasnya melakukan sebuah serangan kepada istrinya hingga tanpa henti.
Astaga, ganas sekali aku... sampai bisa seperti itu...
Rasanya tidak percaya dengan apa yang sudah ia perbuat, terlebih melihat apa yang ada di depan matanya rasanya ia masih tidak percaya kalau dirinyalah yang telah melakukan itu.
Mengingat lagi memang sejak sore malam hingga tadi pagi Anjar tidak henti-hentinya untuk membuat Erva menjerit dan tentu saja itu membuat luka yang tadinya kecil berubah melebar seperti saat ini.
"Tahan ya, perih sedikit tidak apa-apa."
Sssttt....
Erva mengeringis manakala Anjar sudah mengobati lukanya yang lecet tentu saja benar yang apa dikatakan oleh Anjar kalau dirasa memang perih karena lukanya masih basah.
"Sudah... Maafkan Mas sampai seperti itu."
"Sudah sadar ternyata.."
"Bukannya tidak sadar dek, tetapi tidak percaya juga kalau aku bisa melakukan seperti itu."
"Jangankan kamu Mas, aku sendiri juga tidak yakin kalau Mas bisa ganas dan brutal dan sepertinya memang yang diceritakan oleh kak Adel adalah benar kalau laki-laki dingin itu lebih ganas daripada laki-laki yang yang biasanya.."
"Eh mana bisa?"
"Mana bisa apanya? buktinya saja sudah dan aku sudah membuktikan sendiri, apa Mas masih ngeyel dan masih menolak. Nyatanya bukan hanya aku saja yang sudah membuktikan itu kalau memang orang yang dingin itu ternyata n@vvsu nya begitu besar."
"Tapi kamu suka kan dek?"
"Iya."
Erva menjawabnya dengan malu-malu, tentu saja ia suka dengan apa yang dilakukan oleh suaminya dan memang benar Anjar bisa ganas juga ternyata di ranjang.
"Jadi masih penasaran dengan apa saja keahlianku selain bisa memasak dan juga bisa memegang alat kesehatan dan mengobati orang?"
"Iya, aku masih penasaran Mas punya keahlian apa lagi selain itu."
"Membuat kamu menjerit di atas ranjang." bisik Anjar pelan di telinga Erva kemudian laki-laki itu membawa istrinya untuk naik merebahkan tubuhnya tubuhnya di atas ranjang dan entahlah apa yang akan dilakukan Anjar nanti apakah ia hanya ingin tidur berdua dengan Erva atau akan melakukan sesuatu lagi.
__ADS_1