
Baik Erva maupun Anjar, keduanya sudah siap untuk perjalanan menuju ke sebuah acara pertunangan Dokter Keenan dengan Kinara.
Anjar hanya pergi bersama Erva, bukan karena Mamanya yang tidak bisa menghadiri acara itu tetapi ibu mertua dari Erva sudah pergi dari tadi karena menunggu Erva juga Anjar yang lama turun ke bawah.
Anjar mengemudikan mobilnya sangat pelan tentu saja ia tidak ingin buru-buru untuk sampai di acara pertemuan itu kalau bisa malahan sekalian saja tidak menghadiri acara itu tetapi itu tidak mungkin, bukan karena kasihan terhadap Erva namun ia juga tidak enak dengan kedua orang tua Keenan yang secara khusus mengundangnya untuk datang ke sana, terlebih lagi apa yang dikatakan oleh teman-temannya nanti jika tidak melihat dirinya berada di acara pertunangan Dokter Keenan, pastinya mereka akan berpikir jika Anjar cemburu atau takut jika Dokter Keenan nanti memandangi wajah cantik istrinya.
Meskipun perasaan itu benar, Anjar takut jika Dokter Keenan nanti terus menatap wajah cantik Erva yang entah malam ini mengapa istrinya sangat cantik sekali bahkan aura kecantikannya muncul dengan tiba-tiba yang membuat Anjar menjadi was-was, apakah ia harus melanjutkan perjalanan yang menuju acara Dokter Keenan atau balik saja.
"Kenapa Mas sepertinya gugup sekali padahal yang bertunangan kan Dokter Keenan, tapi aku rasa Mas malah melebihi dari Dokter Keenan gugupnya dan entahlah Mas sepertinya tidak tenang."
Anjar tersenyum dengan pandangan matanya yang lurus ke depan tetapi tangannya menarik tangan Erva dan mencium punggung tangan perempuan cantik itu
"Kamu benar dek, aku gugup dan tidak tenang. Bagaimana aku bisa tenang, kamu secantik ini nanti di sana aku takut jika Keenan malah lebih memperhatikan kamu daripada calon istrinya. Bagaimana kalau kita tidak usah ke sana saja dan kita putar arah ke mana gitu yang jelas hanya berdua saja dan jujur saja aku tidak rela jika nanti Keenan menatap kamu dan juga laki-laki lainnya ada di sana, tentu saja pasti banyak pengusaha dan Dokter muda yang diundang oleh Keenan menghadiri acara itu."
Erva tersenyum, kemudian membalas genggaman tangan suaminya. Ia tahu jika suaminya itu sedang cemburu dan mengkhawatirkan dirinya tetapi tidak ada maksud apapun juga ia tampil cantik malam ini.
Bukan karena ingin menarik perhatian Keenan kembali ataupun ingin terlihat wow di mata laki-laki lain tetapi tujuan utama nya adalah hanya satu, supaya suaminya tidak malu mempunyai istri seperti dirinya dan pastinya supaya suaminya bangga mendapatkan dirinya yang bisa tampil cantik dan anggun malam ini.
"Eh mana aja seperti itu, aku sudah dandan cantik..
Mas juga tampak ganteng lalu kita mau balik saja? lagian mau ke mana? mau melanjutkan yang tadi .. aku sudah bilang nanti setelah acara ini Mas bisa melakukan itu sepuas nya, tetapi please kali ini turutin kemauan aku kita datang ke acara pertunangan Kak Ken ya, aku tidak enak jika tiba-tiba tidak datang di sana."
__ADS_1
"Tidak enak? apa kamu takut jika Keenan melarikan diri dari acara pertunangan itu?"
"Nah itu juga takutnya nanti jika Keenan tidak menghadiri acara pertunangannya sendiri ataupun kemungkinan malah membatalkan pertunangannya, aku nantinya akan disalahkan oleh tante Arin, Mas nggak mau kan juga aku yang disalahkan dan menjadi penyebab gagalnya pertunangan itu sedangkan aku sendiri menginginkan jika Keenan bertunangan dengan perempuan lain dengan begitu dia akan lebih mudah melupakan aku dan tidak merusak hubungan rumah tangga kita lagi."
Anjar memikirkan apa yang diucapkan oleh Erva dan tentu saja ucapan dari Erva itu ada benarnya meskipun tidak sepenuhnya benar dan nampaknya ekspresi wajah Anjar menjadi yang cemburu ketika ia mendengar nama Keenan disebut oleh Erva.
"Iya kamu memang benar, jelas aja aku tidak mau juga kalau istriku disalahkan dalam pertemanan ini dan juga aku menginginkan jika Keenan menikah dengan perempuan lain, jadi setelah itu dia tidak bisa untuk mengejar kamu lagi, namun aku khawatir dek.. kamu cantik banget hari ini dan entah kenapa aku tidak rela,.benar-benar tidak rela kamu nanti dipandang oleh laki-laki lain."
Erva tersenyum lagi, pernyataan dari suaminya membuatnya bangga belum belum ia sudah melambung ke atas awan meskipun yang mengatakan cantik itu adalah suaminya sendiri.
"Percayalah meskipun mereka mengagumiku tetapi orang yang ada di dalam hatiku hanyalah Mas, hanya Mas yang aku cintai jadi apapun yang akan mereka lakukan itu tidak akan membuat cintaku kepada Mas goyah."
Cup
"Aku juga sangat mencintai kamu, dek dan akan selamanya mencintai kamu, tidak pernah sama sekali mata ini melirik ke arah perempuan lain apalagi untuk berpikir mengkhianati kamu."
"Nah kalau begitu biarkanlah mereka memandang aku tetapi Mas tidak perlu khawatir karena cinta dan kasih sayang aku hanya untuk Mas."
Anjar mengangguk meskipun ia masih tidak rela jika Nanti istrinya dipandang oleh laki-laki lain tetapi ia juga tidak mau egois, terlebih lagi ia akan membatalkan kehadirannya di acara pertunangan Dokter Keenan dan itu tidak mungkin sekali.
Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Anjar sudah sampai di sebuah gedung mewah, di mana di sana sudah berjajar rapi mobil mobil mewah, yang pastinya diketahui keluarga dari Dokter Keenan sengaja mengundang beberapa rekan bisnis dari Papahnya Dokter Keenan dan juga beberapa Dokter hebat di kota ini.
__ADS_1
"Ayo Mas,.kita turun sepertinya kita datang terlambat."
Anjar mengangguk kemudian membantu istrinya untuk membukakan sabuk pengaman lalu ia juga sengaja untuk mencium bibir Erva yang entah kenapa gemes sekali ketika Erva berbicara.
"Kamu kenapa semangat banget dek,.aku cemburu loh jika kamu seperti ini."
"Astaga suamiku ada apa lagi sih kenapa harus cemburu segala bukannya aku semangat tetapi lihat saja semuanya sudah datang dan pastinya tinggal kita saja yang belum datang ke acara itu."
"Iya tapi dari ucapan kamu terlihat kamu senang sekali atau jangan-jangan kamu memang senang ingin bertemu dengan Dokter Keenan malam ini."
Cup
"Bukan begitu Mas tetapi aku tidak enak saja jika kita datang terlambat terlebih lagi nanti jika acaranya sudah dimulai."
Tentu saja melihat suaminya yang cemburu, Erva kemudian mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Anjar lalu meraih dagu Anjar dan mencium bibir Anjar., dan itu jelas membuat Anjar tersenyum ia tidak akan melepaskan bibir Erva begitu cepatnya lalu tangan Anjar menekan tengku Erva kemudian menye_sap bibir Erva hingga sangat dalam, dan melu_mat bibir manis itu.
"Sudah Mas, nanti dibicarakan lagi..yang penting kita masuk dulu ke dalam. Tapi apa Mas, mau melakukan itu di mobil?"
"Tidak masalah, tetapi boleh dicoba juga, dek."
Tentu saja itu membuat Anjar menjadi semakin semangat saja dan pastinya gemes melihat ekspresi wajah istrinya seperti itu.
__ADS_1
Kemudian keduanya sama-sama keluar dari mobil dan Anjar langsung menghampiri istrinya, meraih tangan Erva dan menggenggamnya dengan sangat erat karena ia yakin di dalam gedung itu pasti banyak pasang mata yang melihat ke istrinya dan tentu membuat Anjar jadi cemburu.