
Dengan lincah nya tangan Dokter Anjar memainkan pisau, bukan untuk melakukan operasi pembedahan pada tubuh manusia, tetapi pada tubuh ikan.
Yah, laki laki itu menunjukkan keahlian lainnya tidak hanya dalam bidang medis saja, tetapi juga urusan perdapuran juga ia kuasai.
Erva menggeleng, ia masih tidak menyangka saja kalau ternyata Dokter Anjar bisa melakukan hal seperti itu ..bahkan Erva sendiri juga tidak bisa melakukan nya.
Mau memuji, tetapi takut kalau nanti jadi Geer tapi tidak memuji, ia begitu terpana dengan apa yang dilakukan oleh Dokter Anjar.
Masih melihat dengan jelas apa yang dikerjakan oleh Anjar, sampai sampai mata Erva tidak berkedip melihat ke arah Anjar. Bukan karena tampangnya saja yang terlihat sangat mempesona, tetapi.. keahlian menguasai pisau tidak bisa diragukan lagi, dan juga takut kalau tangan Anjar terkena pisau.
"Dek, tolong benerin Appron nya..."
"Eh iya Mas.."
Erva mendekati Anjar dan langsung saja membenarkan Appron yang talinya mulai kendor, dan memasangkan lagi dan menalikan ke belakang.
"Nyaman dek, kalau saja aku tidak begini.. pasti akan aku balas pelukan kamu..", ucap Anjar tiba tiba dan lagi lagi membuat Erva tidak bisa berkutik lagi.
"Ha??"
Padahal Erva tidak berniat untuk memeluk Anjar, tetapi kenapa laki laki itu malahan kepikiran sampai arah sana.
Dan entah mengapa, semakin dekat dengan Anjar semakin Erva tau watak asli dari laki laki itu., yang sebenarnya tidak dingin dan tidak menyeramkan, tetapi terkesan mesuumm.
"Sekalian lap in wajah aku, dek... daripada hanya bengong saja "
Erva melongo lagi, ia sudah seperti asisten Dokter Anjar saat berada di ruang operasi...sama persis.
"Kamu cocok jadi asisten pribadi ku, dek... mau daftar enggak?"
What? asisten pribadi?? yang harus ada setiap saat, saat bangun tidur dan mulai tidur lagi itu.... tidak!!!
"Dua puluh empat jam sama aku... tapi...lebih baik kamu jadi istri ku saja... tunggu ya dek...kalau sudah waktunya aku akan datang melamar kamu..."
Erva melongo lagi, tidak bisa menjawab apa apa. Dan lebih tepatnya bingung dengan apa yang diucapkan oleh Anjar, apakah laki laki itu hanya bercanda atau memang serius..karena ekspresi nya tidak bisa di tebak.
"Mau nyicip?"
__ADS_1
Tuh kan, baru saja ngomong yang mungkin menurut orang lain serius, tetapi nyatanya biasa saja..bahkan Anjar tidak membahas lagi tentang lamaran yang mungkin memang benar kalau hanya bercanda saja.
"Boleh...."
Erva mendekatkan wajah nya kemudian berniat untuk mengambil ikan itu tetapi Anjar melarang nya
"Biar aku saja, nanti tangan kamu kotor."
Anjar hanya meminta Erva untuk membuka mulut nya dan komentar kurang apa, supaya Anjar bisa menambahkan bumbunya.
Lagi lagi, tatapan kedua pasang mata mereka saling bertemu, yang membuat mereka saling pandang dan saling mengagumi, hingga tangan Anjar ia arahkan untuk menyuapi Erva tetapi dengan mata yang masih sama sama memandang.
"Bagaimana? kurang apa?"
Tidak ingin terlalu jauh berpikiran ke mana mana, dan pasti nya akan membuat sesuatu di bawah sana tidak baik baik saja dan menginginkan lebih...Anjar memutuskan untuk menyudahi acara tatap menatapnya.
"Enak sekali Mas, kalah sama masakan bibik di rumah..."
Jawab Erva jujur, yang memang masakan Anjar itu tidak ada duanya bahkan sama bibik di rumah saja masih kalah jauh, enakan masakan Anjar.
Hari yang spesial, bukan karena tempat makannya yang enak dan juga ada sesuatu yang ingin di sampaikan, tetapi ini spesial banget karena Erva bisa makan masakan dari tangan seorang Dokter dingin.
"Aku kupasan saja, awas nanti kena durinya."
Erva mengangguk, ia melihat Anjar yang dengan telaten menyingkirkan duri duri ikan itu,, Jujur saja, Erva terpana dengan apa yang dilakukan oleh Anjar yang mana tidak menyangka sebelum nya kalau laki laki itu bisa juga bersikap romantis.
Romantis?? apa iya...?
Jangan geer dan terlalu pede dulu Erva, mungkin memang keahlian tersembunyi nya adalah bisa bersikap romantis., tetapi memang tidak pernah di tunjukkan.
"Makan dek, jangan lihatin aku terus...nanti kalau naksir aku bahaya...."
Anjar menyerahkan piring yang sudah ada ikan tanpa dirinya itu, dan langsung diambil oleh Erva.
"Bahaya?? kenapa??"
"Aku enggak main main, dan langsung halalin kamu...", jawab Anjar serius.
__ADS_1
"Hah??"
Mungkin setelah ini, Erva akan memeriksakan kondisi bibir nya yang mulai kering karena terlalu lama dibuka.
Erva menggeleng pelan, kalau saja ia tidak membentengi dirinya untuk tidak mudah jatuh cinta lagi .. mungkin akan geer dan lambung mengiyakan kata kata Anjar..
Tetapi Erva sadar, ia dan Anjar berbeda dan juga tidak mungkin memutuskan untuk menerima orang baru di dalam hatinya setelah semua yang sudah dialami. Apalagi, ia dan Anjar belum lama saling mengenal.
Makan siang yang kedua diwarnai dengan obrolan yang tidak serius bahkan Dokter Anjar menunjukkan siapa dirinya sebenarnya, bukan lagi seorang Dokter yang dingin, yang tidak mudah senyum tetapi sosok pribadi yang hangat dan menyenangkan...nyaman pula kalau versinya Erva.
"Sudah lama Mas beli ini?"
Masih berada di ruang makan, Erva mengedarkan pandangannya lagi ke segala arah di mana memang desain dari apartemen ini sangat berbeda dengan yang lainnnya.
"Lumayan, satu tahun sebelum pulang ke Indonesia...Mamah sudah meminta aku balik..dan aku harus menyelesaikan kontrak pekerjaan aku di sana...."
Erva mengangguk, maskipun ia tidak paham... tetapi mencoba untuk mengerti.
"Lagian Mas aneh...sudah punya Rumah Sakit sendiri tapi kenapa harus bekerja di tempat orang lain...."
"Bukan seperti itu konsepnya, sudah aku pikirkan dari jauh jauh sebelum nya....dan aku memang akan kembali dan mengurus Rumah Sakit dan juga aset penting peninggalan Papah, tetapi aku juga butuh mencari pengalaman di luar sana yang mungkin tidak aku dapatkan di sini....."
Jawaban Anjar memang sangatlah benar, pikiran laki laki itu berkembang pesat dan tidak seperti kebanyakan orang orang lainnya.
"Dan berhasil?"
"Iya, bukan hanya pengalaman saja ... tetapi..aku juga dapatkan calon istri di sana.", jawab Anjar dengan senyuman.
Deg
Calon istri?? siapa?? jangan jangan dia memang sudah mempunyai calon istri di sana, dan lagi menunggu calon nya datang...lalu, bagaimana dengan aku???, batin Erva.
Pikiran Erva sudah ke mana mana, gadis itu mendadak jadi diam tanpa kata. Takut saja kalau ia terlalu berharap dengan apa yang terjadi hari ini, dan takut juga mendapatkan kenyataan yang berbeda dengan apa yang ia pikirkan.
Sedangkan Anjar, ia tersenyum dan melihat ke arah Erva yang saat ini mungkin saja lagi galau. Tau betul apa yang dipikirkan oleh Erva....
Calon istri ku adalah kamu, Er..batin Anjar
__ADS_1