
Bukan hanya ucapan dari Dokter Anjar saja yang membuat Erva kaget dan juga tidak percaya tetapi sesampainya di rumah, gadis cantik itu dibuat melongo dengan banyaknya barang-barang dan juga beberapa saudara yang sudah datang ke rumahnya.
Bahkan Erva sempat mematung di depan pintu utama dan hanya diam saja sembari melihat banyak orang-orang yang saat ini berada di dalam rumahnya.
Apakah ini mimpi?
Sebenarnya tidak, karena semuanya terlihat nyata bahkan saking penasarannya dengan ucapan Erva, Mona juga ikut pulang dan membuktikan kalau yang diucapkan Dokter Anjar tadi siang adalah benar dan saatnya kini Mona membuktikannya dengan ikut ke rumah ke rumah Erva dan rencana mau menginap di rumahnya Erva saja.
"Lo nggak sedang mimpi gaes, dan ini nyata!"
Mona yang tahu sahabatnya yang melongo dan tentu saja belum percaya dengan apa yang dilihatnya langsung saja mencubit pelan pipi Erva, tentu saja Erva yang merasa kesakitan langsung berteriak.
"Sakit dodol !! siapa suruh nyubit pipi gue."
"Nggak ada yang nyuruh tetapi gue yakin kalau lo nggak percaya dengan apa yang lo lihat."
"Rasanya gue masih bermimpi dengan apa yang gue lihat saat ini benarkah yang dikatakan dengan Dokter Anjar tadi siang."
"Masih tidak percaya? itu lo bisa lihat sendiri kalau ada calon suami dan juga calon ibu mertua lo di sana."
Tunjuk Mona dengan jari telunjuknya ke arah ruangan yang saat ini ada Dokter Anjar dan juga Mama Risa di sana.
Bukan hanya mereka berdua saja tetapi sudah ada kedua orang tua Erva juga beberapa perancang busana yang pastinya Erva tahu, karena mereka sangat terkenal di seluruh penjuru tanah air ini
"Eh kenapa ada mereka juga?"
"Dasar oon, ya untuk fitting baju pengantin lah karena lo sibuk Dokter Anjar juga sibuk makanya mumpung ini tidak sibuk mereka datang ke sini, yuk ke sana."
__ADS_1
Mona yang masih penasaran dengan konsep yang dituangkan oleh sahabatnya itu langsung saja mengajak Erva untuk mendekati Dokter Anjar dan juga beberapa perancang busana yang ada di sana dan tentu saja ia ingin melihat bagaimana persiapan pernikahan yang akan dilangsungkan lusa itu.
"Tante."
Erva salim kepada Mama Risa a dan juga kedua orang tuanya lalu pandangan matanya terarah kepada Dokter Anjar yang ternyata laki-laki itu tersenyum memandang wajah cantik Erva.
"Jangan panggil tante dong panggil Mama kan sebentar lagi kamu jadi anak Mama."
Erva tersenyum kemudian mengangguk lalu ia juga bingung masih berdiri di sana tanpa melakukan apapun juga.
Dan pastinya ini adalah sesuatu yang tidak disangka-sangka padahal baru tadi siang Dokter Anjar mengatakan kalau lusa akan menikahinya tetapi sore ini kenapa sudah ada banyak orang di rumahnya bahkan rancangan gaun pengantin dan juga dekorasi pernikahannya baru saja tadi siang ia berikan kepada asisten Dokter Anjar tetapi mengapa baru 3 jam saja semua orang sudah ada di sini.
"Bagaimana, masih tidak percaya?"
Bisik Anjar di telinga Erva dengan nada yang sangat menggoda dan tentu saja ia ingin menggoda calon istrinya yang sampai saat ini tidak percaya dengan apa yang dilakukannya.
"Aku percaya ini bukan acara sederhana tetapi besar Mas tahu sendiri kan aku pengennya seperti apa dan bukan diadakan untuk bulan depan tetapi lusa."
Erva melongo, iya pingsan saat ini karena calon suaminya benar-benar ajaib sudah membuktikan kalau benar-benar serius dengan dirinya bahkan gaun pengantin rancangan aku sudah ada di depan mata tinggal mengukur ukurannya apa saja dengan tubuhnya.
"Jangan pernah berpikir seperti itu, dicoba dulu atau kalau ada kurang kamu bisa membicarakannya dengan desainernya."
Erva tidak bisa berbuat apa-apa lagi, langsung saja tangannya dipegang oleh Dokter Anjar untuk melihat gaun rancangan yang seperti Erva inginkan.
Dan laki-laki itu duduk sembari memperhatikan Erva yang saat ini masih bingung dengan apa yang ada di depannya.
"Bisa dicoba dulu, cin..." Ucap salah satu desainer yang gemulai itu dengan memperhatikan Erva dari atas ke bawah kemudian tersenyum, lalu tatapan matanya terarah kepada Dokter Anjar yang langsung menganggukkan kepalanya, sepertinya ia setuju dengan pilihan Dokter Anjar saat ini.
__ADS_1
"Cantik sekali, ini belum dirias dan pakai gaun ini, masih polosan juga bagaimana kalau sudah dirias pasti lebih cantik lagi. Memang benar-benar pemilih ya. Berpuluh-puluh tahun tidak dekat dengan seorang wanita sekalinya dekat ih cantik banget, aku jadi iri deh... makan nya apa sih cin? kamu cantik sekali."
"Makan nya nasib dong kak emangnya makan hati nggak mau lah sakit..."
"Pintar sekali ngejawabnya, ayo cinta ..aku anterin untuk ganti pakaian."
"Stop!! jangan kamu yang lain saja!"
Anjar tiba-tiba melototkan matanya ketika ia mendengar perempuan jadi-jadian itu ingin mengantarkan calon istrinya untuk berganti pakaian, enak saja dia adalah laki-laki cuma kelihatannya saja yang perempuan tetapi asli ada tongkatnya di bawah.
"Astaga sayank nggak apa-apa kita kan sama-sama."
"Sama-sama apanya lo punya tongkat sedangkan calon aku tidak, ganti yang lainnya saja."
Laki-laki gemulai itu langsung saja kesal ketika suara Anjar yang keras terdengar di telinganya.
Sedangkan Erva saat ini bersama dengan satu desainer yang tentunya memang perempuan sungguhan, tidak jadi-jadian seperti yang barusan tadi bersama Erva.
"Kak mau tanya, ini kenapa cepat sekali bukannya tadi siang barusan Dokter Anjar nyerahinnya."
"Memang beberapa jam yang lalu Dokter Anjar nyerahin gambar itu kepada aku tetapi sudah dari jauh-jauh hari sebelumnya Dokter Anjar sudah berpesan kalau dia memesan satu gaun yang spesial yang tentunya seperti keinginan abege saat ini dan kebetulan pas aku lihat desainnya tidak jauh-jauh berbeda dengan apa yang kamu buat, tinggal ngerubah sedikit saja seperti yang ada di dalam coretan kamu itu"
Lagi lagi Erva hanya melongo, ia tidak mampu berkata apa-apa karena sepertinya Dokter Anjar memang sudah melakukan persiapan ini semua jauh-jauh hari sebelumnya seperti yang Mona katakan tadi.
Memang rancangan busana yang Erva inginkan itu tidak jauh dari model gaun pengantin masa kini yang biasanya dipakai di kalangan Sultan dan juga abg-abg yang ingin menikah muda dengan konsep yang begitu luar biasa tetapi sangat anggun dan juga menawan dipakai oleh Erva.
"Ini seperti yang kamu inginkan apa tidak? Mbak siap benerinnya kalau belum pas."
__ADS_1
"Tidak mbak sepertinya ini sudah pas dan cocok sekali ini."
Erva sangat senang memakai desain hasil tangannya sendiri, ia bahkan tidak ingin melepas gaun itu dan ingin memakainya tetapi ia tahu ini belum saatnya, masih ada hari lusa dan semoga rencana pernikahan dengan Dokter Anjar itu berjalan dengan mulus tanpa ada hambatan satupun.