Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Membisikkan Sesuatu


__ADS_3

Suara itu sangat mengejutkan di telinga Erva. Sontak Erva kaget mendengarnya.


"Eh lo Mon, bukan siapa siapa."


Terang saja Erva menutupi tentang Dokyer Keenan, ia tidak mau geer duluan dengan perasaan Dokter Keenan, sayang kan?? bukan cinta....dan Erva juga paham kalau sayang itu bisa diartikan yang macam macam, bisa sayang kepada adiknya ataupun teman nya.


'Ya, aku tidak boleh geer dulu...'


"Bukan siapa siapa tetapi Lo nya mesem mesem sendiri, parah."


Mona melihat ada yang aneh, semenjak keluar dari Rumah Sakit beberapa hari yang lalu, Mona melihat kalau sahabatnya itu agak beda... entahlah...baru putus bukannya sedih, tetapi...malahan senyum senyum dan terlihat bahagia.


"Kapan kapan gue ceritain deh, tapi gak sekarang".


Akhirnya, kalimat itu yang keluar dari bibir Erva, ia tau kalau Mona, sahabat nya saat ini sedang menaruh curiga padanya.


"Gue tau, Lo lagi bete kan?gara gara liat si Romi ma Mirna tadi ber......"


"Stop Mon gak usah diterusin, jijik gue dengernya, apalagi lihatnya tadi, ups".


"Ada yang cemburu nih, tapi gue denger denger Romi mutusin Mirna"


"Bodo amat, mau putus mau enggak, bukan urusan gue, kalau saja papi maminya Romi gak baik banget ke gue, gue juga ogah nympe sekarang masih deket ma Romi", jujur Erva.


Karena kedua orang tua Romi yang sudah menganggap Erva seperti anaknya sendiri, makanya Erva bersikap baik pada Romi, padahal di dalam hatinya dongkol dan juga jengkel.


"Oh berarti masih deket nih?" ucap Mona sambil menoel noel pipi Erva, menggoda Erva.


Mona juga tau sebenarnya kalau sahabat nya itu masih mencintai sang mantan, tapi ditutupi nya.


"Apaan sih...iya deket tapi gak balikan ya, catet gak balikan apalagi pacaran".


"Ih sewot banget sih neng".


"Biarin"


...***...

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul 14.00 berarti pembelajaran hari ini telah selesai. Erva merapikan buku nya kemudian memasukkan ke dalam tasnya, sambil sesekali melihat ke arah ponsel, Erva tersenyum memandangi tulisan yang ada diponselnya itu.


Tiba tiba Romi masuk ke kelas Erva, tanpa di duga dan juga tanpa kabar, sudah seperti ****** kung saja


"Pulang bareng ya??" , pinta Romi yang sudah duduk di depan Erva, kebetulan teman yang duduk di depan sudah pulang.


Erva menggeleng dan tersenyum "Makasih Rom, tapi aku sudah ada janji". Tolak Erva manis, meskipun ia masih sedikit risih dengan dengan Romi, tetapi...ia hati mengendalikan nya.


"Sama Dokter Keenan??"


Erva mengangguk "Iya".


Tidak mungkin ia menutupi semua nya, apalagi dengan Romi. Meskipun antara dirinya dan juga Dokter Keenan tidak ada hubungan apa apa, tetapi....


"Yawdah aku pulang dulu, nanti malam aku ke rumah" kemudian Romi keluar kelas menuju ke parkiran sekolah.


"Dokter Keenan?? siapa itu Er??"


Jiwa keponya Mona terlihat, ia tidak tau apa apa dengan Dokter Keenan.


"Boleh...nanti sore gue ke rumah lo, penasaran banget deh...."


Kedua gadis itu langsung keluar dari kelas, karena di dalam kelas sudah sepi.


Sedangkan Romi, ia sudah sampai di parkiran, dan melihat mobil yang tadi pagi mengantarkan Erva ke sekolah.


Romi tersenyum tipis, kemudian mengepalkan tangannya. Walau sudah putus, tapi rasanya Romi tidak rela jika Erva dekat dengan laki laki lain, apalagi sampai menjalin hibungan serius.


Erva keluar kelas, dilihatnya Dokter Keenan sudah berdiri di samping mobilnya sambil tersenyum.


"Udah lama?".


Dokter Keenan melihat jam , "Lumayan, tapi suka".


"Maksud kakak?".


"Lupain, ayok jalan, kakak lapar".

__ADS_1


Erva mengangguk dan masuk ke dalam mobil Dokyer Keenan, begitu juga dengan sang Dokter yang ikut masuk ke dalam mobil.


Sepanjang jalan, Erva dan Dokter Keenan hanya diam, rasa canggung masih menyelimuti kedua insan itu. Entah karena malu akan kejadian tadi pagi, atau karena memang pertemuan mereka yang dirasa masih sangat singkat.


Erva mencoba membuka suara, gadis ini tidak suka jika hanya berdiam saja.


"Kak makan dimana? dari tadi cuma muter saja!".


Seketika Dokter Keenan langsung tersadar dari lamunannya. Iya Pak Dokter itu melamun, tetapi mata nya masih fokus melihat jalan didepannya, cuma pikirannya saja yang melayang entah dimana.


Dokter Keenan masih diam, entah karena suara Erva yang pelan atau karena Dokter Keenan masih memikirkan sesuatu.


"Kak? aku gak mau mati muda loh! aku belum menikah" kata Erva dengan sedikit membentak.


Emang apa hubungannya antara tidak menjawab dengan mati muda, ada ada saja.


Iya ketika Erva berbicara dengan Dokter Keenan dan orang yang lebih tua, maka kata kata dan gaya bahasa juga berbeda. Erva bisa menempatkan dimana ia akan berucap.


Karena suara Erva yang agak keras, membuat Dokter Keenan akhirnya tersadar dari lamunannya.


"Eh apa Er?", maaf kakak gak dengar.


Erva kesal, merasa baru kali ini dirinya dikacangin.


"Kakak ih...dari tadi aku nanya, kita mau makan dimana, karena kulihat kakaa hanya muter muter saja, dan juga kakak ngelamun, inget ya kak, aku gak mau mati muda, aku belum nikah, aku belum bisa merasakan nikmatnya surga dunia, aku...."


Dokter Keenan menghentikan mobilnya, kemudian mendekat ke arah Erva.


Cup


Dokter Keenan mencium kening Erva, gadis itu melototkan matanya, seakan gak percaya jika Dokter Keenan kembali menciumnya. Erva sadar, ia berusaha melepaskan dirinya dari tubuh Dokter Keenan, dan memalingkan wajahnya.


Astaga... apalagi ini? kenapa aku begitu gampangan menerima semua nya ini.


Dokter Keenan masih menatap wajah Erva, gadis kecil yang manis. Dan ia pun tersenyum, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Erva.


"Er......"

__ADS_1


__ADS_2