Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Lebih Pantas


__ADS_3

Erva kembali ke kampus, entahlah perasaannya sekarang campur aduk antara senang tetapi bingung juga, apakah ia akan melakukan seperti yang disarankan oleh dokter Rico atau tidak.


Atau, Erva mamang masih tetap dengan pendiriannya yang ingin menemui dokter Anjar dan menjelaskan semua yang terjadi.


Erva bingung saat ini. Ia tidak pernah merasa galau seperti ini, benar-benar galau diantara ketidakpastian dan juga rasa kecemasan.


Andai saja yang mengatakan itu tadi adalah dokter Anjar langsung dari mulutnya dan ia bisa menatap matanya mungkin Erva akan senang tetapi kenapa hanya di video. Ya meskipun di video itu juga terlihat dokter Anjar yang benar-benar serius dan Erva dapat melihat wajahnya tetapi kan tidak secara langsung, dan Erva belum puas


"Bagaimana sudah ketemu dengan dokter Rico nya?", tanya Mona yang saat ini Erva sudah berad di dalam kelas dan duduk di sebelahnya.


"Sudah tapi gue galau."


"What?? galau? seorang Ervania bisa galau juga, biasanya lo yang selalu bikin laki-laki galau.", ucap Mona dengan nada yang menyindir.


"Gue juga bingung dengan diri gue sendiri, gue juga tidak tahu mengapa galau seperti ini."


"Hmmm. ... apa dokter Rico mengatakan yang tidak tidak.?"


"Bukan...", jawab Erva cepat.


Dan Erva mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan tadi apa yang dibicarakan dengan dokter Ricoo dan rencana dokter Rico untuk kedepannya.


"Setuju, gue sangat setuju dengan pendapat Dokter Rico dan tentunya itu malahan bisa membuat Lo tahu bagaimana sebenarnya perasaan dokter Anjar."


Erva mengangguk paham , memang kalau seperti ini ia bukan hanya butuh satu orang saja tetapi dua atau tiga orang untuk bisa menenangkan hatinya menyemangatinya dan membuat dia yakin dengan keputusan yang akan diambil nya .


"Jadi menurut lo, Gue harus ikutin saran dokter Rico?"


"Iya, gue pikir saran dokter Rico itu sangat baik, lagian itu juga sangat berguna buat lo."

__ADS_1


Erva diam, mungkin ia berpikir lagi dengan ucapan Mona padahal jelas-jelas tadi depan dokter Rico, Erva sudah mengiyakan dan tidak bertemu dulu dengan dokter Anjar tetapi mengapa malahan jadi galau seperti ini.


Baiklah... Erva mungkin akan mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter Ricoo dan Mona, jadi untuk beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan dokter Anjar dulu yang memang sebelumnya juga tidak bertemu dengan dirinya tetapi sebaiknya kalau saja bertemu menghindar itu lebih baik, karena ingin tahu seberapa besar rasa cinta dokter Anjar kepadanya.


Mata kuliah hari ini pun berlanjut hingga jam demi jam telah Erva lalui dan saatnya untuk pulang.


Erva dan Mona berjalan keluar dari kelas untuk menuju ke parkiran dan Erva benar-benar lupa kalau sore ini ia akan dijemput oleh dokter Keenan.


"Dokter Keenan ngapain dia di sini?", tanya Mona yang sudah melihat Dokter Keenan dari kejauhan.


Mereka berdua menghentikan langkah kakinya saat melihat dokter Keenan yang sudah berdiri di samping mobil dengan kacamata hitam dan juga kaos dan celana santainya.


"Jemput gue, astaga... gue lupa padahal lagi nggak pengen ketemu sama dia, males."


"Jemput lo? kalian belikan lagi?"


"Ngaco!! mana mungkin gue balikan lagi sama dia!! Lo kan tahu sendiri gimana gue, dan pastinya sampah yang sudah gue buang tidak mungkin gue ambil lagi....tidak akan."


"Setuju!! ini baru sahabat gue walaupun gue tahu sebenarnya kalau lo masih mencintai dokter brengssekkkk itu tetapi, apa yang lo bilang gue setuju, sampah tidak boleh diambil lagi sampai tetap sampah dan biarkan dia di tempat sampah seperti sedia kala."


Dokter Keenan melambaikan tangannya ke Erva, ia kemudian membuka kacamatanya dan tersenyum manis.


Melihat dokter Keennan yang sudah melambaikan tangan, Erva pun dengan segera melangkahkan kaki untuk menghampiri laki-laki itu.


"Sudah siap pulang beb,?"


"Eh iya.", jawab Erva sedikit gugup.. bukan gugup karena kembali merasakan getaran cinta kepada dokter Keenan tetapi entahlah gugup saja dan kegugupnya ini lebih mengarah pada rasa takut takut, kalau saja dokter Keenan macam-macam jika ia tidak ikut dengannya sore ini.


Seperti biasa laki-laki itu merupakan pintu mobil untuk Erva dengan tangannya yang ia letakkan di atas kepala Erva supaya Erva tidak terbentur atas mobil.

__ADS_1


Erva yang sedikit canggung langsung saja masuk ke dalam mobil dan segera memakai sabuk pengaman ia tidak ingin kejadian tadi pagi terulang lagi.


"Kita makan dulu ya beb setelah itu baru Mas anterin pulang."


Ingin rasanya Erva menolak, tetapi pastinya nanti dokter Keenan juga akan mengancam, dan tidak ada bantahan....itu yang selalu diucapkan oleh dokter Keenan.


"Oke kalau diam berarti iya kita makan di restoran Jepang ya masih ingat kan dulu pertama kali kita makan bersama di restoran itu?"


Kenapa harus di restoran itu sih, orang ini ada-ada saja pasti dia mikirnya yang macam-macam nanti di sana.


Tidak menjawab, Erva hanya diam dan mengambil ponsel.. entahlah bertemu dengan dokter Keenaan tidak membuatnya senang tetapi malah membuatnya jengkel.


Sepanjang perjalanan, Keenan yang lebih banyak membuka obrolan, bukan obrolan tentang pekerjaannya tetapi tentang kisah cintanya dengan Erva yang dulu terjalin dengan manis dan indah.


"Kamu tau nggak Beb, Mas kangen saat-saat kita seperti dulu , Mas jemput kamu, anterin sekolah lalu kita makan di taman dan Mas ingin mengulanginya lagi, bisakah kamu memberikan Mas kesempatan?"


Erva menghela nafas, kenapa selalu pertanyaan seperti itu yang ditanyakan oleh Keenan, apakah tidak ada yang lainnya atau apakah tidak ada yang akan ditanyakannya lagi selain itu?


Walaupun Keenan mengatakan itu sudah 1000 kali , Erva juga akan menjawab 1000 kali pula yang intinya ia tetap akan menolak keinginan Keenan dan menganggap Keenan sebagai teman biasa saja tidak lebih.


"Aku kan sudah bilang sama kakak kalau kita temanan aja kenapa Kakak masih bertanya terus?"


"Apa karena dokter Anjar?"


Melihat ke arah dokter Keenan kalau bisa ia akan turun dari mobil ini dan tidak jadi makan bersama dengan laki laki itu, tetapi Erva masih takut kalau saja dokter Keenan akan macam-macam dengannya.


"Kalau kakak bertanya seperti itu dan menyangkut pautkan dengan orang lain lebih baik aku turun di sini saja, kita mau makan kan bukan mau membahas orang lain?"


"Oke, maaf maafkan Mas, tapi perlu kamu ingat Mas tidak akan menyerah Mas akan membuktikan karena Mas yang pantas mendampingi mu dari pada laki-laki lain."

__ADS_1


__ADS_2