
"Mah...."
Dokter Anjar menggeleng lagi, rasanya ia ingin menghilang saja dari tempat itu. Kalau tau begini, ia tidak akan masuk ke dalam ruangan Erva.
"Sudah sudah, mau periksa Erva kan?"
Tidak ingin anaknya hanya diam saja, Mamah Risa menyudahi untuk mengejek Anjar dan memilih untuk menjadi penonton setia saja.
"Iya, Mamah minggir...biar aku periksa Erva."
Padahal niatnya tidak ingin memeriksa, hanya melihat saja Erva yang sedang tidur atau bangun. Hanya melihat saja, Anjar jadi senang, dan itu entah mengapa bisa begini.
Mamah Risa memberikan ruang untuk Anjar memeriksa Erva, beliau dengan senang hati mundur dan melihat ekspresi wajah putranya saat dekat dengan seorang gadis.
"Ada keluhan?"
Pertanyaan kaku sekali. Yah meskipun memang seorang Dokter dan pasien itu seperti itu, tetapi...apa Anjar tidak ingat kalau sudah akrab.
"Tidak, aku boleh pulang kan Dokter??"
__ADS_1
Canggung, tidak mungkin memanggil Anjar dengan Mas, apalagi ada Mamah nya, bisa gawat.
Dokter?? kenapa rasanya aneh sekali saat Erva bilang Dokter, lebih adem kalau manggil Mas...
Anjar mengernyitkan alisnya, menatap tajam ke arah Erva, sebagai isyarat untuk mengganti panggilan nya.
"Boleh pulang kan Mas??", ulang Erva lagi.
Seperti nya Erva paham dengan kode yang Anjar berikan, dan segera mengganti panggilan nya demi mendapatkan jawaban dan ijin pulang.
Mas?? o...o...aku ketinggalan berita nih...rupanya mereka sudah lebih jauh berkembang...oke.. baguslah...
"Yakin mau pulang??"
Tanya Dokter Anjar. Laki laki itu masih saja memeriksa keadaan Erva, dan berharap kalau semua nya baik baik saja. Yah, meskipun tidak rela kalau Erva meninggalkan rumah sakit ini.
"Yakinlah Mas, aku sudah sembuh dan tidak merasakan sakit lagi, boleh pulang ya??", pinta Erva dengan wajah imutnya, berharap kalau sang Dokter akan mengijinkan nya pulang besok.
"Lihat besok pagi, kalau semuanya sudah baik baik saja, boleh pulang.", jawab Anjar.
__ADS_1
Setidaknya nanti malam ia bisa melihat Erva, dan memandang wajah cantik gadis itu.
"Kalau enggak boleh pulang, ya aku pulang sendiri Mas..bosen di sini..."
Erva juga tidak diam saja, bukan masalah biaya nya...la wong semua nya geratis. Tetapi, tidak enak saja dengan Dokter Anjar dan juga tidak enak tinggal lama lama di rumah sakit.
"Ke tempat Mamah Risa saja ya nak, Mamah sendirian tidak punya teman... Anjar jarang pulang..ya mau ya??"
Tanpa di minta, Mamah Risa menawarkan Erva untuk pulang ke rumah, dan tentu saja tinggal di sana karena ada maksud terselubung.
"Bisa janjian ketemuan di mall Tante, kalau ke rumah Tante..enggak enak sama pacar nya Mas Anjar...."
Alasan, hanya alasan Erva saja. Mau menolak tentunya tidak bisa, tetapi...kalau di terima..ya enggak mungkin lah... siapa ia di sana???
"Jangan Tante, Mamah ya Er.... dari dulu Mamah pengen banget punya anak perempuan, eh tidak kesampaian...dan pas Anjar besar ... berharap lagi pengen cepat punya mantu dan gendong cucu, tapi nyatanya... sampai sekarang dan mau kepala tiga saja , belum dapat gandengan."
"Dan apa tadi, pacar?? mana mungkin sayank, Anjar tidak pernah pacaran dan mungkin akan langsung nikah sama kamu.", lanjut Mamah Risa lagi.
Glekk....
__ADS_1