
Dokter Anjar menghela nafas ini iya takut kan dari kemarin. Kalau Keenan sampai-sampai berbuat nekat kepada Eva Untung saja ia datang tepat waktunya meskipun sedikit terlambat karena Keenan sudah berhasil menggandeng tangan Erva.
Dan setelah melihat Keenan pergi dari parkiran, Anjar langsung saja menuju ke mobilnya tentunya ia ingin melihat bagaimana kondisi Erva saat ini.
"Maaf Mas, Aku dan dia...."
Ucap Erva ketika ia melihat Anjar yang sudah masuk ke dalam mobilnya tentu saja ia tidak ingin calon suaminya itu berpikiran yang tidak tidak bahkan Erva juga kepikiran kalau Anjar malahan melihatnya tadi bergandengan mesra dengan Keenan dan nanti malahan menyangka kalau ia dan Keenan sudah janjian akan ketemuan siang ini.
"Kamu tidak perlu meminta maaf akulah yang salah, maaf aku datang terlambat."
Anjar mengambil tisu kemudian mengusap lembut ke arah tangan Erva yang kini sudah ada di tangannya.
Dengan maksud untuk menghilangkan bekas genggaman tangan Keenan yang sepertinya Anjar memang tidak suka kalau miliknya itu disentuh oleh laki-laki lain.
"Apa Ada yang sakit?"
Tanya Anjar setelah memastikan semuanya bersih dan tidak terkontaminasi oleh tangan Keenan, lalu membuang tisu itu kemudian menggenggam erat tangan Erva saat ini.
Erva menggeleng yang nyatanya memang tidak ada yang sakit cuma tadi sedikit nyeri saja saat tangan Keenan benar-benar menggenggam tangannya dengan sangat erat tetapi itu tidak masalah dan tidak perlu dibesar-besarkan sehingga nanti menimbulkan situasi yang tidak sehat lagi.
"Aku tidak apa-apa mas, tidak ada yang sakit."
"Kalau begitu langsung pulang saja ya kita makan di rumah."
Bukan masalah Anjar tidak mau mengajak Erva untuk pergi makan siang di restoran tetapi kondisi dan keadaan sangat tidak memungkinkan untuk keduanya pergi dari luar rumah mendingan segera memulangkan Erva dan meminta calon istrinya itu untuk istirahat supaya besok pagi terlihat fit dan tidak ada kendala sama sekali.
"Iya mas tidak masalah."
__ADS_1
Erva menurut saja memang ia tidak ingin ke mana-mana ia masih sok dengan kedatangan Keenan tadi. Yang mana kalau Anjar tidak segera datang entah bagaimana nasibnya, akankah ia akan dibawa kabur oleh Keenan dan dinikahi paksa oleh laki-laki gila itu.
"Mas tidak marah kan?"
"Marah untuk apa? apa yang harus membuat aku marah dari kamu?"
"Itu tadi aku dan Dokter Keenan?"
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan berpikir macam-macam, aku tahu kalau Dokter Keenan yang menghampiri kamu dan kamu juga berusaha untuk menjauh dari dia."
Erva tersenyum, beruntung sekali ia mempunyai calon suami seperti Anjar yang memang kalau di lihat lihat laki-laki itu terlalu dingin bahkan tersenyum pun tidak pernah tetapi Anjar paham dengan apa yang dirasakan oleh dirinya saat ini dan tidak begitu mudah percaya dengan orang lain.
"Mas tahu dari mana kalau dia datang ke sini?"
"Aris. Aris yang memberitahu kalau Keenan ada di sini dan tentu saja dari Anto."
"Iya ternyata Anto dan Aris adalah teman baik waktu kuliah dulu tetapi kamu jangan kuatir dalam urusan pribadi mereka tidak akan mencampuradukkan."
Anjar sendiri baru tahu kalau ternyata Anto dan asistennya, Aris itu adalah berteman lama tetapi tidak masalah selama tidak mengganggu pekerjaan agar baik-baik saja toh juga kenyataannya Anto itu orang yang baik tetapi karena pengaruh dan tekanan dari bosnya saja hingga membuat laki-laki itu seperti itu.
"Oh jadi begitu lalu bagaimana dengan Mas, apa ada yang terluka?"
Erva tadi melihat kalau Keeman ingin melakukan sesuatu kepada Anjar tetapi memang ia tahu kalau belum sampai Keenan melakukan pukulan tante Arin sudah datang untuk menghampiri Keenan.
"Aku tidak apa-apa, tenanglah yang penting adalah saat ini kamu."
Mobil yang dilajukan oleh Anjar sudah berada di parkiran halaman rumah Erva dan tentu saja Anjar ikut turun dan mengantarkan Erva sampai masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Dan suasana rumah Erva sekarang ramai tentunya saudara-saudara dari jauh sudah datang meskipun dadakan tetapi Dokter Anjar sanggup untuk mendatangkan semua saudara saudara Erva . Begitu juga dengan saudara-saudara dari Anjar sendiri.
"Mampir dulu Mas, makan siang gimana?"
"Maaf bukannya aku menolak tetapi satu jam lagi ada operasi dan besok kita sudah makan siang bareng tidak masalah kan?"
"Tidak masalah Mas hati-hati kalau begitu."
Anjar mengangguk kemudian mengusap lembut rambut Erva dengan tangannya lalu berpamitan sebentar kepada kedua orang tua Erva dan juga saudara-saudara Erva yang ada di sana, lalu laki-laki itu langsung saja melajukan mobilnya untuk menuju ke rumah sakit.
Dan tentu saja ia meminta beberapa bodyguard untuk mengawasi rumah Erva yang pastinya bodyguard bodyguard itu memang sengaja dipilih oleh Anjar yang besar dan mempunyai otot kuat supaya nanti jika Dokter Keenan kalau datang bisa menghalau dan tidak sampai masuk ke dalam rumah Erva.
Sedangkan di sisi lain Keenan yang sudah dibawa pulang oleh Mami Arin langsung saja menuju ke kediamannya.
Sebenarnya Keenan tidak mau pulang dan ingin berada di kampus untuk memaksa Erva pergi dengan dirinya tetapi karena paksaan dari Mami Arin, Keenan mau tidak mau mengikuti apa yang diperintahkan oleh Mami nya itu.
"Sadar Keen, Erva itu tidak mau sama kamu!"
"Bukan tidak mau Mi, tetapi Erva sudah dibutakan oleh Anjar dan aku tahu kalau Erva itu tidak mencintai Anjar, hanya dia terpaksa untuk menerima pernikahan itu."
Mami Arin bingung harus bagaimana lagi menjelaskan kepada anaknya tentang Erva yang memang sudah tidak mau berhubungan lagi dengannya, apalagi menikah dengan Keenan.
Karena setiap kali Mami Arin menjelaskan pasti jawaban Keenan seperti itu. Dan menganggap kalau Erva itu terpaksa menerima cinta Anjar dan juga terpaksa menikah dengan Anjar karena bujuk rayu dari Anjar bukan murni dari perasaan Erva tersendiri.
Dan kalaupun iya, Mami Arin bisa apa, apalagi Keenan. Itu adalah hak Erva dan itu adalah keputusan Erva untuk menerima siapa saja yang akan jadi suaminya dan baik Mami Arin maupun Keenan tidak berhak untuk membatalkannya ataupun tidak menyetujui siapa laki-laki yang dipilih oleh Erva.
"Lebih baik kamu masuk kamar mandi, coba otakmu itu bisa bersih. Bukannya Mami tidak suka kamu bersama dengan Erva tetapi kamu lihat Erva lebih bahagia dengan Dokter Anjar daripada dengan kamu, sadarlah kamu sudah menyakiti hati gadis itu bahkan kalau Mami jadi Erva, Mami juga tidak sudi lagi untuk menerima kamu, apalagi menikah dengan kamu. Apa yang kamu lakukan dulu itu sangat membekas di hati Erva dan mungkin karena alasan itu Erva hanya bisa memaafkan kamu tetapi tidak bisa menerima kamu lagi."
__ADS_1