
Keenan tersenyum, ia merasa menang kali ini karena Erva berhasil keluar bahkan membawakan nya payung. Tidak sia sia pengorbanan yang dilakukan nya, rela kehujanan demi Erva mau keluar dan menemuinya.
Padahal, bukan maksud Erva tidak ingin turun dan menemui Keenan, tetapi karena ada Papah Bram di rumah, dan pastinya...Erva tau kalau Papah nya sangat marah besar pada Keenan.
Keenan senang, rasa dingin mengalahkan segala nya. Ia bahkan ingin berteriak dan melompat lompat, kalau tidak ingat di depan ada masalah besar yang sedang menghadang nya.
Yah, Keenan sadar kalau Papah Bram masih marah padanya....ia tau bagaimana emosinya orang tua Erva padanya.
"Jangan GeEr dulu...cepat masuk Kak...."
Tidak ingin lama lama berdebat dengan Keenan, Erva memilih untuk mengajak Keenan masuk ke dalam daripada mendengarkan ceramah Keenan yang tidak bermutu itu.
"Mas enggak GeEr tapi faktanya memang gitu, kamu tidak tega membiarkan Mas kehujanan kan??"
Erva menggeleng, meskipun jawaban nya iya, tetapi ia tidak mungkin mengatakan kalau memang tidak tega apalagi ada embel-embel masih cinta.... tidak mau Keenan nantinya GeEr dan terlalu berharap yang lebih dari nya.
Meskipun rasa cinta untuk Keenan masih ada tetapi, Erva sudah mantap tidak akan terjerat lagi dalam pelukan Keenan, dan akan menganggap semua telah usai, tidak ada drama balikan apalagi sampai menikah.
"Diam Kak, jangan banyak omong!!!"
Keenan hanya tersenyum, ia memang diam tetapi tidak karena takut dengan Erva. Laki laki itu menahan dingin di tubuh nya, yang memang tidak terelakkan lagi kalau Keenan saat ini sedang kedinginan dan menggigil.
"Masuk Kak... duduk dulu..."
Sebagaimana mestinya seorang tuan rumah kepada tamu nya, Erva juga melakukan seperti itu. Meminta Keenan masuk dan di sofa. Keenan mengangguk dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Erva.
Sedangkan Papah Bram, beliau hanya memperhatikan interaksi antara Keenan dan Erva saja. Tetapi sebenarnya, tangan dan kakinya Papah Bram sudah Gatak apalagi mulut nya, ingin sekali menghampiri Keenan dan memukul nya juga mencaci maki laki-laki itu, tetapi...ada Mamah Hana di sana yang mencoba menenangkan Papah Bram, hingga beliau bisa duduk anteng di ruang tengah
"Biarkan dia ganti baju dan makan malam dulu Pah, kasihan anak orang.", ucap Mamah Hana selembut mungkin.
__ADS_1
Beliau bukan membela Keenan , tetapi melihat Keenan yang basah kuyup dan kedinginan tidak tega, apalagi sebentar lagi waktu nya makan malam.
Soal urusan bisa dibicarakan nanti, setelah semuanya baik baik saja dan tidak dalam keadaan seperti ini.
Papah Bram menurut saja, mungkin itu yang baik. Tidak membiarkan anak orang mati kedinginan di rumah nya yang pasti akan memperparah keadaan saja.
"Er, ambilkan baju ganti untuk Keenan. Ambil pakaian Papah yang belum dipakai..kamu tau kan??", ucap Mamah Hana menghampiri Erva.
"Tau Mah...."
Meskipun jengkel, Erva mau tidak mau mengambilkan baju ganti untuk Keenan, gadis itu langsung berjalan menuju ke atas di mana kamar kedua orang tua nya berada.
Erva masuk ke dalam kamar, ia langsung saja mengambil pakaian santai milik Papah Bram yang belum pernah di pakai. Yah, Keenan dan Papah Bram mempunyai ukuran tubuh yang hampir sama jadi tidak begitu kesulitan untuk memakai pakaian milik Papah nya Erva.
Tidak lama, gadis itu sudah keluar dari kamar dan menuju kembali ke bawah. Erva melihat kedua orang tuanya yang masih ada di rumah tengah dan seperti nya memang sengaja untuk mengawasi nya, mengingat bagaimana perlakuan Keenan padanya satu tahun yang lalu.
Keenan tersenyum, ia begitu bahagia hari ini. Diperlakukan dengan baik oleh Erva bahkan sampai di ambilkan pakaian ganti segala. Bener bener ini yang ia harapkan dari Erva.
Tidak mungkin membiarkan Keenan menuju ke kamar tamu yang disana ada kamar mandinya sendiri... maskipun sedikit agak canggung, Erva mengajak Keenan menuju ke kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari ruangan di mana tadi Keenan berada.
"Ganti di sini, aku tinggal.", ucap Erva yang sudah membuka pintu kamar tamu dan meminta Keenan untuk masuk ke dalam dan mengganti pakaian nya
"Terimakasih, tapi kalau aku tidak mau gimana??"
Erva melototkan matanya, apa apaan Keenan ini?? tidak mau yang bagaimana yang dimaksud... bener bener otaknya yang sudah tidak waras lagi.
"Jangan gila.... aku tidak mau kalau Kakak mati gara gara kedinginan, apalagi di rumahku....", jawab Erva jutek
Sebel dengan tingkah Keenan yang seperti anak kecil, lebih tepatnya abege labil yang selalu ingin diperhatikan oleh pasangan nya, padahal mereka bukan pasangan sesungguhnya.
__ADS_1
"Mas tau, kamu tidak akan pernah membiarkan Mas mati karena kamu masih mencintai Mas kan??"
Astaga....itu itu saja yang diucapkan oleh Keenan, hingga membuat telinga Erva rasanya panas dan mau pecah mendengar ucapan yang selalu itu dan itu, apa tidak ada topik pembicaraan lainnya lagi yang tidak menjurus ke sana??
"Jangan banyak ngomong deh cepat masuk nanti keburu kedinginan....", ucap Erva lagi dan ingin menutup pintu kamar, tetapi...
Grepp...
Kekuatan tangan Keenan lebih cepat dari tangan Erva. Belum sampai menutup pintu dan meninggalkan kamar, tangan Erva sudah didorong masuk ke dalam.
"A...jangan gila Kak!!"
"Diam sayank...Mas bisa gila kalau kamu teriak!!!"
Bukan hanya menarik tangan Erva saja, Keenan juga membawa tubuh Erva ke atas ranjang. Benar benar gila dan berani. Beruntung bagi Keenan, meskipun letaknya tidak begitu jauh dari ruang tamu dan ruang tengah , tetapi ada dinding yang menghalangi nya... sehingga apapun yang dilakukan, tidak akan terlihat oleh kedua orang tua Erva yang saat ini masih berada di ruang tengah.
Keenan mengunci tubuh Erva, menaikkan tangan Erva ke atas dengan sebelum nya ia sudah membuka kemeja dan juga celana panjang nya, hingga hanya menyisakan celana pendek yang tidak begitu basah.
"Jangan gila kamu!!"!, teriak Erva.
Gadis itu ketar ketir, ia sadar kalau percuma saja berteriak juga tidak akan didengar orang. Kamar ini sudah dilengkapi dengan peredam suara yang meskipun berteriak sekencang-kencangnya.. tidak akan sampai terdengar di luar.
"Mas tidak gila!! hanya saja tergila gila sama kamu....."
Dengan cepat Keenan mengusap lembut pipi Erva, di mana ia sangat merindukan betapa halus dan lembut nya pipi itu.
Erva memejamkan mata, ia berusaha untuk melepaskan diri...dan tidak ingin jadi santapan Keenan....
"Jangan macam macam Kak, ingat ini di rumah siapa??"
__ADS_1
Siapa tau Keenan lupa, hanya sekedar mengingatkan saja ...dan mungkin setelah sadar ...ia bisa terlepas dari Keenan.