Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Obat Patah Hati


__ADS_3

Di tempat yang lain, Dokter Keenan gelisah . Sudah jam segini Erva belum datang, bukannya belum datang tetapi memang tidak tahu kalau dirinya dibutuhkan di rumah sakit ini.


Gelisah, pikirannya tidak tahu ke mana arahnya, bingung juga harus apa untuk . Menghubungi Erva, rasanya Keenan tidak mungkin, nanti salah-salah gadis itu akan menjauhinya bahkan tidak mau datang ke sini lagi.


Siang ini Keenan benar-benar merindukan sosok Erva , sudah hampir 3 jam dia menantikan kedatangan Erva, padahal setahunya hari ini Erva tidak ada kuliah tetapi mengapa Maminya mengatakan kalau Erva hari ini ada kuliah , siapa yang salah ?apakah informasi yang Anto berikan itu salah atau memang Mami Arin sengaja untuk menutupi semuanya, kalau Erva sebenarnya memang tidak kuliah.


"Apakah dia bertemu dengan dokter Anjar?"


Ya, pertanyaan itu yang menjadi pikirannya saat ini. Mungkin tidak tenang kalau sampai pikirannya itu benar dan Erva malah asyik bertemu dengan dokter Anjar sedangkan dirinya terbaring sakit dan tidak berdaya di sini.


Memang bukan salah Erva, Keenan berada di sini, tetapi keinginan terbesar nya adalah Erva. Gadis itu penyemangatnya, Ervalah penyembuh sakitnya dan tanpa Erva, mungkin Keenan tidak bisa apa-apa sampai hari ini.


Bahkan untuk makan pun Keenan tidak mau apalagi minum obat. Hanya Erva yang mampu membuatnya makan, mampu membuatnya minum obat. Sudah seperti anak kecil, tetapi itulah kenyataannya. Tidak bisa dipungkiri, Mami Arin saja sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang entah mengapa sudah dewasa seperti ini masih saja seperti anak kecil.


Tidak mau menunggu lama lagi,.akhirnya Keenan mengambil ponsel untuk menghubungi Anto yang saat ini pasti laki-laki itu sedang berada di kantin untuk makan siang, terserah Keenan tidak peduli...yang jelas ia ingin Erva berada di sini saat ini untuk menuntaskan rasa kangennya dan juga untuk memisahkan Erva dengan Anjar.


Licik sekali memang, tetapi kenyataannya seperti itu. Ia tidak mau kehilangan Erva untuk kedua kalinya bahkan kalau perlu setelah dirinya sembuh ia akan melamar Erva dan menikahinya.


"Hallo, kamu di mana?"


Tanya Keenan dengan suara beratnya. Mungkin ia sedikit meninggikan nadanya supaya Anto mendengar karena ia tau di kantin bukan hanya Anto saja tetapi banyak yang berada di sana bahkan ini adalah jam makan siang yang itu berarti bukan cuma hanya satu atau dua orang saja tetapi belasan orang ada di sana.


"Saya di kantin Bos, ada apa? apa bos juga ingin makan di sini?apa perlu saya belikan makanan untuk bos, terus mau makan apa?"


Jawaban dan pertanyaan dari Anto membuat Keenan menggelengkan kepalanya. Untung saja Anto tidak ada di depannya, kalau saja laki-laki itu ada di depannya saat ini pastinya satu pukulan sudah mendarat di wajahnya. Ditanya apa jawabannya apa bahkan jawabannya lebih panjang dari dari rel kereta api.


"Cckk...kau ini!!! cepat balik selesaikan makan siangmu aku tidak butuh makanan itu yang aku butuhkan adalah Erva."


Klik


Tanpa sopan santun Keenan menutup teleponnya. Yang pasti ia ingin Anti segera datang ke sini dan membawa Erva, entahlah seperti apa Anto membawanya nanti yang Keenan mau Erva sudah ada di sini dalam keadaan utuh dan baik-baik saja tidak ada paksaan tetapi harus juga dipaksa ah entahlah bingung sendiri dengan pikiran Keenan saat ini.


Karena mungkin kalau tidak dipaksa, Erva juga tidak mau datang ke sini, memang gadis itu unik dan butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Sedikit ancaman itu lebih manis daripada tidak sama sekali.


Keenan meletakkan kembali ponselnya, ia memejamkan matanya sejenak .... rasa pusing hinggap di kepalanya, bagaimana tidak ?dari pagi ia belum makan apalagi minum obat...percuma saja kemarin minum obat kalau toh akhirnya hari ini ia tidak makan.


Sejenak membayangkan wajah cantik Erva yang berada di pikirannya, sungguh gadisku sangat manis lebih manis dari gula yang selama ini ia konsumsi. Entahlah, kenapa dulu ia bisa menghianati Erva dan memilih untuk kembali dengan Amira yang jelas-jelas sudah menipunya.


Andai saja penyesalan itu tidak ada pastinya ia dan Eva sudah bahagia saat ini, mungkin benar yang Dimas katakan kalau dirinya akan menyesal nanti dan itu terbukti saat ini Keenan memang benar-benar menyesal.


Namun senyumnya hilang ketika ia teringat dengan pertemuannya dengan dokter Anjar beberapa waktu lalu, laki-laki itu tidak bisa diremehkan bahkan sama sekali tidak bisa dibuat enteng. Jelas sudah terlihat kalau dokter Anjar juga menginginkan Erva, bahkan sampai sekarang yang Keenan tau, dokter Anjar juga sedang memperjuangkan cintanya kepada Erva.


Dan untuk itu, Keenan harus bergerak lebih cepat ... dia tidak mau kalah dengan dokter Anjar dan Keenan akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan Erva kembali. Iya Keenan yakin di dalam diri Erva masih ada cinta untuknya, bahkan tidak dipungkiri kalau Erva juga masih sangat menyayanginya dan memperdulikannya.


Ceklek


Pintu dibuka dan menampilkan seorang laki-laki bertubuh kekar tersenyum melihat Keenan saat ini, Anto laki-laki itu yang sudah selesai makan siang langsung saja menemui bosnya ia takut kalau lama menemuinya maka bosnya akan marah. Tau sendiri kalau dokter Keenan saat ini emosinya tidak stabil bahkan hanya salah sedikit saja bisa ngamuk.


"Ckkk lama sekali apa saja yang kamu makan?"


Pertanyaan macam apa itu? yang jelas yang dimakan adalah nasi, emangnya makan batu atau makan hati seperti kamu, Dokter?


Ingin sekali Anto menjawab seperti itu tetapi ia masih sayang nyawa dan pekerjaannya. Anto hanya mengucapkannya di dalam hati saja dengan menatap sekilas ke arah dokter Keenan yang benar-benar emosinya memang tidak stabil, butuh kehangatan dan butuh kasih sayang tetapi sayang sekali yang diharapkan tidak ada di sini.


"Maaf dokter, tadi antrinya panjang... ini kan jam makan siang."


Ya jawaban itu adalah lebih pas dan tepat. Anto mengambil jalan aman saja, ia tidak ingin terlalu pusing dengan pertanyaan dan jawaban yang akan ia berikan. Ia tahu setelah ini, ia juga akan dibuat pusing karena ada tujuan mengapa bosnya memanggilnya saat ini.


"Hmm.... banyak alasannya kamu cepat ke sini ada tugas penting untuk kamu."


Anto mendekat, ia tahu ini adalah tugas rahasia dan penting. Hanya ada dirinya dan juga Dokter Keena yang tahu pastinya. Mami Arin, Maminya Keenan tidak boleh tahu tentang rahasia ini, dan tetap saja rahasia ini adalah menyangkut Erva siapa lagi.


"Ini jam berapa?"


Manja sekali, hanya melihat jam saja masih bertanya.Padahal sudah jelas di dinding dipasang jam dinding yang begitu besar dan juga di ponsel juga ada, tinggal ambil dan melihat apa susahnya., pikir Anto begitu.


"Jam dua belas kurang tiga puluh menit Bos ada apa?"


"Kamu yakin tadi Erva kuliah?"


"Iya Bos, saya sendiri tadi yang melihat Nona Erva, yang masuk ke kampus mungkin saat ini sudah selesai.", jawab Anto dengan mantab dan yakin karena dirinya sendiri tadi yang melihat Erva keluar dari rumah dan juga membuntutinya hingga sampai masuk ke dalam kampus, Anto juga tidak lupa untuk mengecek apa saja jadwal kuliah Erva a hari ini dan juga satu minggu berikutnya.


"Kalau begitu jemput Erva sekarang, katakan kalau kondisiku tidak baik-baik saja."


"Kalau Nona Ervanya tidak mau bagaimana bos ? dan tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan?"


"Bodoh!cari saja cara yang lain atau kalau perlu kamu culik Erva dan bawa ke sini , tapi awas jangan sampai menyentuhnya apalagi menyakitinya aku tidak ingin kulit Erva terkelupas oleh kuku kuku tajam mu."


"Ha??"


Mendadak Anto melototkan matanya, bagaimana bisa ia membawaa Erva kemari, dipaksa tetapi tidak boleh disentuh lalu dengan cara apa membawanya kemari? apa perlu diseret seperti kambing? tidak mungkin juga kan?? Bos nya memang sedikit gila bukan sedikit tapi sudah gila.


"Pergi saja jangan ha ha ha tidak jelas, kamu itu seperti tidak bisa menjalankan tugas, ikut sama aku sudah beberapa tahun?tetapi kenapa masih seperti ini ... awas saja kalau sampai datang ke sini tidak membawa Erva akan dipotong gajimu atau kupecat saja."


"Janganlah Bos, saya akan ke sini bawa Nona Erva."


Jelas saja,.Anto takut dengan ancaman Keenan...bagaimana tidak? bertahun-tahun ikut dengan Dokter Keena, dari dokter Keenan berada di luar negeri sampai sekarang dan memang tujuannya ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk bekal nikah tahun depan tidak mungkin juga kalau tahun ini dia dipecah. Pastinya kalau dipecat ia juga akan gagal menikah.


"Bagus, kalau begitu cepat pergilah. Aku tidak ingin mendengar kabar buruk dan satu lagi jangan kamu sentuh Erva, ia hanya milikku dan punyaku , awas saja."

__ADS_1


Tidak ada jawaban lagi dari Anto, laki-laki itu memilih untuk segera pergi dari ruangan, ia takut kalau lama-lama masih berada di sini bukan hanya otaknya saja yang geser tetapi ia juga nanti bakalan ikut gila sama seperti dengan bosnya.


Setelah keluar dari ruang inap dokter Keenan, Anto segera menuju ke parkiran di mana mobilnya ia letakkan di sana dan melajukan kecepatannya penuh untuk segera menuju ke kampus di mana Erva saat ini berada.


Beberapa menit kemudian, Anto sudah berada di parkiran kampus tetapi ia mendongakkan wajahnya ke atas dan melihat kelas Erva yang tampaknya sudah sepi.


Tau saja kalau Erva hari ini berada di kelas di bagian atas bahkan bukan hanya kelas atas saja yang sepi, keadaan di sekitar juga tampak sepi. Bingung apakah ia harus dipecat karena tidak menemukan Erva saat ini.


Tidak kehilangan akal , Anto yang sudah terlahir cerdas menggunakan mulutnya untuk bertanya di mana Erva saat ini berada, ia yakin kalau semua orang yang ada di kampus ini mengenal Erva karena gadis itu sangat cantik pasti populer di antara banyaknya mahasiswi di sana.


Bukannya tidak mau menggunakan teleponnya untuk menghubungi Erva, hanya saja ia takut kalau dirinya menghubungi Erva, gadis itu tidak mau mengangkat bahkan sengaja menyembunyikan di mana keberadaannya.


Dan demi keamanan pekerjaannya dan juga masa depannya , Anto merelakan mulutnya untuk bertanya kemana-mana padahal sebelumnya ia tidak pernah melakukan seperti ini laki-laki itu dingin, seperti dokter Anjar.


"Permisi dek tahu di mana keberadaan Ervania?", tanya Anto dengan nada selembut mungkin dan juga wajah yang tidak menyeramkan. Ia sudah berupaya untuk mengekspresikan wajahnya seimut mungkin hingga tidak menakutkan bagi mahasiswa yang menatap nya.


Ia juga sudah hafal nama panjang dari Erva jadi tidak susah lagi untuk bertanya Erva yang mana Erva Siapa karena nama lengkap dari Erva itu sudah ia kantongi dan pastinya nama itu hanya satu-satunya yang ada di kampus ini.


"Erva?Erva yang cantik itu?"


Anto mengangguk, bener kan dugaannya kalau ia bertanya pastinya semuanya kenal dengan Erva, cantik ... memang sangat cantik kalau tidak dokter Keenan mana mau dengan dengan Erva apalagi sampai tergila-gila seperti ini.


"Iya dek, Erva yang cantik itu adik tau di mana dia sekarang?"


"Ada di kantin, Mas dari sini lurus aja nanti ada tulisannya kantin, Mas tinggal masuk di situ ... di sana Erva dengan sahabatnya berdua, mungkin makan siang sambil ngobrol.", ucap seorang gadis itu dengan yakin bahkan sangat yakin.


Setelah mengucapkan terima kasih, Anto bergegas untuk menuju ke kantin. Tidak susah baginya untuk menemukan kantin kampus meskipun jaraknya amat jauh tetapi Anto mudah menemukannya.


Belum sampai masuk, Anto udah melihat sosok gadis yang cantik... hatinya sedikit tenang karena apa yang dicarinya itu ketemu jadi ia sedikit bisa bernafas dengan lega Tetapi entahlah kalau Erva tidak mau diajak untuk ke rumah sakit, habislah riwayat nya saat ini.


Perlahan-lahan Anto mulai mendekati Erva, ia tidak mau membuat Erva kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


" Mona Erva, senang sekali bisa ketemu dengan Nona siang ini.", sapa Anto yang membuat Erva dan juga Mona menoleh ke arah Anto.


"Om Anto ada apa?"


Erva kaget, mengapa tiba-tiba asisten dari dokter Keenan ada di sini pasti tujuannya tidaklah lain hanya untuk menemuinya.


"Saya diminta dokter Keenan untuk menjemput Nona dan mengantarkan Nona ke rumah sakit sesuai dengan permintaan dokter Keenan." jawab Anto dengan jujur.


Erva menggeleng, apa-apaan menjemput? Bagaimana bisa ... apa hak dia meminta aku untuk ke rumah sakit dan apa pula kewajibanku untuk menjenguk nya... manja sekali...kemarin sudah ...ah laki-laki itu jika dibiarkan semakin melonjak saja aku tidak suka.


"Ayolah Nona, kalau Nona tidak ikut maka pekerjaan saya akan jadi taruhannya ...saya akan dipecat dan tahun depan gagal untuk menikah.", Anto mencoba untuk membujuk Erva dengan ucapannya tidak berbohong memang, siapa tau Erva yang lembut itu akan luluh tanpa ia paksa tanpa ia tarik tarik-tarik seperti kambing.


"Hah??"


Eva melongo seketika ,antara bos dan juga asistennya sama aja sama-sama suka mengancam meski dengan gaya yang berbeda tetapi itu sama saja.


"Mon??"


"Maaf Omnya terlalu ganteng dan sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja."


"Bukan begitu, bagaimana ini?apakah aku harus ikut bersama dengan Om Anto atau pulang saja aku takut nanti Keenan malah macam-macam di sana dan masalahku dengan dokter Anjar tidak akan selesai bagaimana ini?"


"Gue juga bingung di satu sisi gue kasihan sama lo tetapi juga kasihan dengan Om Anto yang ganteng ini."


"Lalu menurut Lo bagaimana apa gue ikut aja atau menolak dan kita langsung pulang saja?"


"Jangan Nona, kalau Nona pulang habislah riwayatku saat ini apa Nona tidak kasihan denganku hanya karena Nona tidak mau ikut pekerjaanku akan dipecat dan aku juga gagal menikah...apalah daya aku hanya asisten bos gila yang sudah tergila-gila dengan Nona."


Erva terdiam, ia berpikir sejenak. Mungkin kalau hanya menjenguk Keenan sebentar tidak masalah daripada kasihan melihat Om Anto yang wajahnya sudah memelas seperti itu. Sejatinya dalam masalah ini ia tidak ingin melibatkan orang lain apalagi tentang pekerjaannya dan juga gagal menikah apalah itu? dirinya juga gagal menikah dan tidak mungkin orang lain akan merasakan seperti apa yang dirasakannya apalagi bosnya adalah dokter Keenan yang saat ini benar-benar gila bukan gila karenanya , tetapi memang otaknya tidak waras dan perlu diketuk dengan palu supaya menjadi benar lagi.


"Oke aku ikut tapi bawa mobil sendiri ya Om, aku tidak ingin merepotkan Om lagi seperti semalam."


"Tidak bisa Nona, Nona harus ikut dengan saya...saya tidak ingin terjadi sesuatu dengan Nona mengertilah Nona untuk kali ini saja."


Ah ribet sekali ...mengapa harus seperti ini bawa mobil saja tidak boleh apakah ini juga salah satu keinginan dari Keenan, iya pasti itu sudah pasti. Pasti Keenan sudah memerintahkan Anto untuk membawa aku dan tidak mengijinkan aku untuk membawa mobil sendiri benar-benar licik itu orang awas saja kalau sembuh aku tidak mau menemui nya, batin Erva.


"Iya ribet sekali hidup orang itu , ayo Om .. aku tidak ada waktu lama karena aku hanya sebentar saja berada di sana. Cepetan sebelum aku berubah pikiran.", ancam Erva.


Memangnya hanya Keenan dan Om Anto saja yang bisa mengancam. Erva juga bisa mengancam dan terbukti Anto saat ini gelapan dan mencari kontak mobil yang entah dia taruh di mana ataupun dia masukkan ke dalam saku celananya.


Erva yang melihatnya ingin tertawa tetapi kasihan dengan wajahnya yang sok imut itu membuat Erva tidak tega bahkan untuk memukulnya atau mengumpatnya sekalipun rasanya Erva tidak mampu.


"Nona mau mampir dulu ke mana gitu?"


Perasaannya sedikit lega setelah ia berhasil membawa Erva tanpa paksaan tanpa ditarik-tarik , yang intinya aman. Kulit Erva juga tidak terkelupas seperti yang dipesan oleh dokter Keenan.


Tetapi memang dasar otaknya yang agak sedikit oleng , mungkin karena banyak pekerjaan dan tekanan dari dokter Keenan ... mengapa laki-laki itu malah bertanya dulu kepada Erva mau ke mana lagi padahal jelas-jelas sudah diwanti-wanti oleh bosnya untuk tidak kemana-mana dan langsung membawa Erva ke rumah sakit.


Lalu apa jadinya kalau Erva tiba-tiba menginginkan ke suatu tempat, jalan-jalan misalnya yang membutuhkan waktu yang lumayan lama apa Anto tidak mendapatkan amukan dari bosnya?


"Langsung saja ke sana om, lagi an ya omnya lucu sekali ... sudah tau dokter Keenan pasti dia tadi berpesan untuk segera membawa aku ke sana mengapa malahan Om mau mengajak aku jalan-jalan dulu apa Om tidak takut kalau gajinya dipotong?"


"Astaghfirullah.... Nona aku lupa saking senangnya aku sampai tidak berpikir seperti itu, ya sudah lain kali saja ya kita jalan-jalan sekarang aku akan mengantarkan Nona untuk ke rumah sakit setelah itu urusanku bebas...makasih Nona sudah mengingatkan."


Erva tidak menjawab, ia memilih untuk memalingkan wajahnya dan melihat ke samping di mana banyaknya pengendara yang lalu lalang saat ini... karena ini adalah jam makan siang dan juga waktu istirahat orang-orang yang berada di kantor., jadinya jalanan akan macet tetapi Erva senang dengan begitu ia tidak akan lama-lama untuk bertemu dengan dokter Keenan yang sangat menyebalkan.


Tiga puluh menit , mobil yang dikemudikan oleh Anto sudah berada di depan pintu utama rumah sakit, ia kira gadis itu tidur tetapi ternyata tidak, sama sekali tidak ada ucapan atau pergerakan dari Erva

__ADS_1


"Aku turun dulu om, om nanti juga turun kan aku tidak mau di sana sendirian... takut bosmu itu benar-benar gila hahaha.".


"Iya Nona, pasti saya akan turun dan tentunya hanya berjaga di depan ruangan saja tidak ikut masuk ... takut juga dengan bos yang gila salah-salah nanti saya yang akan dimakan ih takut...."


"Hahaha Om lucu sekali tidak pantas menjadi asisten dokter Keenan lebih baik jadi asisten aku saja pasti tidak se tegang ini tapi sayang sekali aku belum bisa menggaji Om dengan gaji yang besar...."


Erva langsung turun, tidak memperdulikan lagi apa yang ingin diucapkan oleh Anto yang jelas ia juga harus buru-buru untuk segera bertemu dengan dokter Keenan bukan karena kangen atau semacamnya. Tetapi lebih tepatnya semakin dia cepat bertemu semakin cepat pula ia pulang, tidak ingin terjebak seperti kemarin dan ia harus tegas dengan perasaannya dan juga perasaan dokter Keenan.


Ceklek


Erva membuka pintu dan benar apa yang dikatakan oleh Anto kalau di ruangan Keenan tidak ada siapa-siapa,, entahlah ke mana kedua orang tuanya saat ini atau memang sengaja meninggalkan dirinya dan juga Keenan di sana.


Erva melihat kalau Keenan saatnya sudah bisa duduk bahkan tersenyum dan menatapnya dengan tatapan mata yang sangat tajam entahlah bukan merasa senang tapi Eyva malahan takut takut kalau-kalau diterkam seperti apa yang dikatakan oleh Anto.


"Sayank, aku kangen.", ucap Keenan yang sudah melihat Erva datang, entahlah kangen beneran atau pura-pura saja kangen.


Ervatidak menjawab tetapi ia tersenyum lalu segera mendekati Keenan di mana laki-laki itu sedang tersenyum dan sebenarnya memang menunggunya.


"Aku lapar bisakah menyuapi Mas ,beb seperti semalam.", pinta Keenan lagi .


Sudah Erva duga, ujung-ujungnya juga ia diminta untuk ke sini untuk menyuapi Keenan, apa tidak ada perawat lain yang bisa menyuapinya atau mungkin maminya kenapa hal semacam ini harus ia yang melakukannya, siapakah dirinya siapa juga Keenan.


Tak ingin banyak drama lagi Erva segera mengambil piring yang memang sudah ada di samping tempat tidur Keenan. Mungkin memang Keenan sengaja untuk tidak makan padahal tangannya juga tidak sakit yang sakit adalah perutnya dan wajahnya . Tetapi kalau dilihat-lihat semuanya sudah sembuh dan pastinya hari ini sudah bisa pulang.


"Terima kasih, tetapi kalau kamu tidak ikhlas untuk melakukannya jangan dilakukannya Beb, Mas tidak suka."


"Aku ikhlas Kak, cepatlah makan lalu minum obat biar cepat sembuh.. apa Kakak juga tidak ingin bekerja lagi dan masih ingin terus berada di sini?"


"Kalau itu bisa membuatmu terus berada di sampingku, Mas ikhlas..Mas rela untuk tetap sakit bahkan bertahun-tahun lamanya pun Mas ikhlas."


"Hahaha lucu sekali, kakak yang mau tetapi aku tidak mau. Ogah ngapain Aku berteman dengan orang penyakitan, ya nggak mau ah... lebih baik aku pulang saja kalau tujuan kakak ke sini hanya untuk sakit dan tidak untuk sembuh."


Keenan menarik tangan Erva dan menggenggamnya, ia tidak ingin Erva pergi secepat ini padahal memang tujuannya mendatangkan Erva ke sini untuk menemaninya dan membuat Erva atuh cinta lagi padanya, terserah apa yang ada di pikiran Erva saat ini yang penting tujuannya ingin segera memiliki Erva selamanya kalau perlu menikahi nya saat ini bukan besok-besok lagi tetapi sekarang.


"Jangan Beb, Jangan pergi. Mas akan sembuh, janji deh setelah makan ini minum obat lalu anterin Mas jalan-jalan ke taman, sudah lama tidak melihat-lihat kondisi rumah sakit sekitar sini mau ya?", pentakinan dengan wajah yang memelas yang membuat erva tidak tega dan langsung menganggukkan kepalanya.


Tidak ada pilihan lagi, Erva akan menemani Keenan yang kini entahlah pikirannya bercabang-cabang, bukan karena ia masih mencintai Keenan sepenuhnya, tetapi dirinya sendiri juga tidak tau.. bosan di rumah membuat ia lebih memilih untuk berada di rumah sakit ini.


...****************...


Di tempat yang berbeda nampaklah seorang laki-laki yang tampan dan dingin sudah siap dengan jas kebanggaannya. Dokter Anjar, siang ini mendapatkan telepon untuk segera berangkat , bukan ke rumah sakit miliknya dan bukan pula untuk operasi tetapi harus bertemu dengan seseorang di rumah sakit dan sayang sekali rumah sakit itu adalah Rumah Sakit milik Keenan.


Malas sebenarnya untuk dokter Anjar pergi ke rumah sakit itu bukan karena pemiliknya ataupun karena Siapa yang ada di sana tetapi yang jadi masalah saat ini ia takut untuk melihat kenyataan, kenyataannya kalau Erva yang saat ini sedang berada bersama dengan Keenan.


Bukan karena ia tau apa yang dilakukan Erva hari ini tetapi tidak menutup kemungkinan untuk gadis itu menemui mantan pacarnya ah... ya bukan mantan tetapi mungkin sekarang sudah menjadi pacarnya lagi.


Cemburu tentu saja, harapan satu-satunya ada pada diri Erva, ia yang belum pernah pacaran sama sekali sudah menaruh harapan yang besar dengan seorang gadis cantik yang bernama Erva, tetapi belum juga iyla berjuang untuk mendapatkan cintanya kenyataan di depannya sudah memukulnya pelan-pelan.


Tetapi dokter Anjar tidak ada pilihan lagi karena dia adalah pemilik Rumah Sakit dan pertemuan ini adalah pertemuan dengan berbagai pemilik rumah sakit yang ada di seluruh Indonesia dan juga tidak bisa diwakilkan, sehingga dengan berat hati Anjar datang siang ini.


Anjar juga berharap ia tidak bertemu dengan Erva bukan tidak suka melihat wajah cantik gadis itu . Tetapi semakin dia melihatnya dia akan semakin tidak bisa melupakannya.


Tidak lama mobil yang dikemudikan oleh dokter Anjar sudah berada di parkiran rumah sakit. Tampaknya di sana sudah berjejer mobil-mobil mewah yang sudah dipastikan adalah pemilik dari berbagai rumah sakit di Indonesia.


Mata Anjar melirik ke segala sisi parkiran itu ia melihat apakah kira-kira ada mobil Erba yang ada di sana, dan sedikit lega karena Anjar tidak menemukan adanya mobil Erva di sana dengan begitu ia sangat yakin kalau Erva juga tidak ada di tempat ini.


Dokter Anjar keluar dari mobil dan segera masuk ke rumah sakit yang di sana sudah sudah ada seseorang yang bertugas untuk menunggunya.


Dokter Anjar berjalan bersama-sama dengan rombongannya tanpa ia sadari ia melihat ke sebuah ruangan khusus, dan aneh sekali mengapa mata Anjar kali ini tidak bisa tinggal diam laki-laki itu melihat ke arah samping di mana di sana terlihat seorang laki-laki sedang bercanda gurau dengan seorang gadis.


Deg


Kaget, dadanya terasa sakit bukan karena serangan jantung tetapi mendadak tiba-tiba rasa nyeri menyerang di hatinya ia tahu dan ia kenal betul dengan siapa gadis yang berada di dalam ruangan itu tidak lain dan tidak bukan adalah erva ... gadis yang selama ini ia cintai bahkan sudah terukir namanya di dalam hatinya.


Jadi benar kalau kamu sudah balikan lagi dengan dia ,dek? apalah daya... aku adalah orang baru... laki-laki yang tidak romantis tidak sehangat dengan Keenan, dan Mungkin saja dia lebih baik daripada aku, batin Anjar.


Sedih, Itu sudah pasti tetapi Anjar berusaha untuk bersikap profesional ia akan mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadinya dan akan berusaha keras untuk tidak melirik lagi ke samping yang nyatanya melihat itu akan membuatnya semakin sakit.


Padahal sejak tadi ia sudah berpikir dan berpikir lagi untuk menemui Erva dan meminta maaf dengan gadis itu tetapi dengan adanya kejadian ini Anjar lebih baik memilih mundur, ia sama sekali tidak ingin mengganggu hubungan antara Erva dengan Keenan yang mungkin baru saja terjalin.


Mungkin memang nasibnya seperti ini , jomblo dari lahir dan bahkan tidak tahu kapan ia akan mengakhiri masa jomblonya ,pasrah saja semuanya sudah ada jodohnya masing-masing kalau bukan dengan Erva mungkin kedepannya Anjar akan menemukan jodoh yang lebih baik lagi.


"Maaf saya perwakilan dari Kusuma hospital, saya di sini mewakili dokter Keenan karena beliau sedang tidak enak badan dan sakit tetapi sepertinya tidak akan lama lagi beliau juga sembuh.", salah satu perwakilan dari Kusuma hospital tempat di mana Rumah Sakit Keenan berada.


"Tidak apa-apa kami tidak keberatan dengan anda sebagai pengganti dokter Keenan dan saya berdoa supaya dokter Keenan segera sembuh dan bisa berkumpul dengan kami lagi.", jawab salah satu laki-laki yang juga pemilik Rumah Sakit di Bandung.


"Wah cepat sekali sembuhnya memangnya Dokter Keenan sakit apa?"


Sebelum memulai obrolan memang pemilik Rumah Sakit itu kebanyakan ngobrol-ngobrol dan bercerita terlebih dahulu , biasalah untuk menyegarkan suasana sebelum nantinya akan tegang.


"Kurang tahu sebenarnya dokter Keenan sakit apa tetapi melihat kondisinya saat ini beliau sudah baik-baik saja hanya saja masih butuh istirahat biasalah anak muda, patah hati sedikit ... tetapi kalau sudah ada obatnya pasti langsung sembuh."


"Sudah ada obatnya? Obat apa itu aku mau dong dikasih obatnya yang bisa langsung menyembuhkan rasa patah hati."


Jlebbbb


Anjar hanya sebagai penyimak di sana ia bahkan sama sekali tidak membuka mulutnya hanya sebagai pendengar,.padahal sebenarnya telinganya sudah panas tidak ingin mendengar lagi kata-kata cinta dan juga patah hati apalagi yang dibicarakannya adalah dokter Keenan dan juga Erva tentunya.


"Wah kalau obatnya untuk dokter Keenan itu spesial dokter, tidak boleh ada yang memiliki karena yang menjadi obatnya adalah calon istri dari Dokter Keenan itu sendiri."

__ADS_1


Jedarrr.


__ADS_2