
Hari berganti dengan hari, dan Erva kini sudah menjadi mahasiswi di salah kampus terbaik yang ada di kota nya . Bukan. hanya Erva saja, tetapi Mona dan juga Romi masuk dalam kampus yang sama, jurusan yang sama dan juga kelas yang sama
Yah, seperti nya mereka memang sepakat untuk melanjutkan pendidikan di kampus yang sama, setelah Erva memutuskan untuk tidak mengambil beasiswa kedokteran nya ke London
Dan setelah pertemuan nya dengan Dokter Keenan beberapa waktu lalu, Erva tidak bertemu lagi dengan laki laki itu, yang mana malahan membuat Erva sangat bahagia dan tidak tertekan lagi.
Bukan tanpa alasan, kenapa juga Dokter Keenan tidak menemui Erva, padahal ia sudah berada di Jakarta, tentu saja.... Dokter muda yang tampan itu juga sibuk dengan Rumah Sakit yang baru dibangun dan diresmikan nya. Jadi, untuk sementara waktu... Dokter Keenan fokus dulu dengan rumah sakit nya tetapi masih tetap memantau Erva.
"Er...gue denger denger... di gedung sebelah ada seminar kedokteran....dan yang jadi bara sumber nya katanya... seorang Dokter yang ganteng dan masih single...", ucap Mona.
Entah apa yang di pikirkan oleh Mona, hingga ia menceritakan kepada Erva, yang jelas jelas kalau Erva anti dengan namanya Dokter.
"Dokter?? ganteng??"
Pikiran Erva tertuju pada seorang Dokter tampan yang sudah menyakiti hatinya, siapa lagi kalau bukan Dokter Keenan. Yah, bagi Erva dan mungkin bagi wanita wanita diluar sana.... Dokter Keenan adalah Dokter paling tampan di kota ini, bahkan di seluruh dunia. Yah, Erva sendiri mengakui nya.
Setelah mengatakan itu, raut wajah Erva jadi berubah.. Tentu saja ia takut untuk bertemu dengan Dokter Keenan lagi. Sudah lebih baik laki laki itu tidak menampilkan batang hidungnya, eh... sekarang ada di kampusnya.
"Upss...sorry Er....", ucap Mona yang baru sadar jika sahabat nya tidak suka mendengar nama Dokter.
"Tidak masalah, Lagian aku dan Dokter itu sudah tidak ada hubungan apa apa lagi...."
Memang iya, setelah Keenan berkhianat...Erva sudah memutuskan hubungan dengan laki laki itu.
"Pulang yuk!!", ajak Mona lagi. Yang mana memang mata kuliah nya hari ini sudah selesai, dan mereka berdua memilih untuk duduk di kantin dulu sebelum pulang.
"Ayok ah ..."
Tidak berpikir panjang, Erva langsung saja menyetujui ajakan Mona untuk pulang, karena sudah tidak ada kuliah dan perutnya juga kenyang.
__ADS_1
Dan juga, Erva takut kalau bertemu dengan Dokter Keenan lagi. Ia tidak siap, apalagi mengingat Dokter Keenan sudah mempublikasikan istri, dan tidak mau kalau diirinya di bilang sebagai pelakor.
"Lewat samping saja ya.?", ajak Erva.
Samping adalah jalan keluar paling aman, karena tidak melewati gedung fakultas kesehatan, yang mana sedang berlangsung acara seminar di sana.
"Oke deh .. tidak masalah."
Meskipun jalan yang ditempuh saat ini lebih jauh dari parkiran tetapi... demi Erva, tidak masalah.
Kedua gadis itu berjalan menelusuri sepanjang lorong kampus, yah ..hanya berdua saja karena Romi sudah pulang duluan sejak tadi.
Saking asiknya ngobrol, tiba tiba Mona tidak sengaja menabrak punggung seseorang, yang membuat laki laki itu terjatuh seketika, sementara Mona aman karena tubuh nya ditahan oleh Erva.
"Aduh. .eh sorry...."
Laki laki yang ditabrak Mona itu langsung berdiri dan melihat ke arah Mona, tanpa ekspresi sama sekali. Bukannya tidak kenal, tetapi.... memang seperti itu wataknya.
Dia?? batin Erva.
Anjar hanya diam saja, ia merapikan jas putih yang kotor terkena debu, sembari melihat ke arah Mona. Tetapi, sedetik kemudian... pandangan matanya mengarah ke samping gadis itu, yang tidak lain adalah Erva.
Gadis itu?? jadi dia kuliah di sini??? semakin cantik saja...
"Maaf Om, aku tidak sengaja...", ucap Mona yang sadar dengan tatapan tajam Anjar.
Mona juga takut, kalau kalau dirinya akan di bawa juga seperti Erva kemarin.
Tidak ada jawaban Anjar, bahkan laki laki itu tidak menatap Mona sama sekali, dan malah mengarahkan perhatian dan pandangan matanya ke Erva.
__ADS_1
Kenapa malahan menatap aku?? aku kan tidak salah??
Erva mulai ketar ketir, manakala Anjar mulai mendekati nya. Kali ini memang Erva tidak salah, tetapi...bukan ini alasan Anjar untuk mendekati Erva.
"Kita bertemu lagi...kamu kasih punya hutang sama aku...", ucap Anjar di depan Erva yang membuatnya gadis cantik itu melototkan mata nya tajam.
Hutang?? astaga...dia masih ingat dengan kejadian dulu...dan memang aku belum memperbaiki mobil nya....
Mona menggeleng, ia dibuat bingung dengan laki laki yang ada di depannya, yang bisa bersikap ramah dan juga membuka mulutnya, sementara dengan dirinya.... tersenyum saja tidak.
"Er, bukan nya dia yang Lo tabrak mobilnya?", bisik Mona...yang kini susah mendekapl Erva dan melihat dengan jelas interaksi antara Erva dengan Anjar.
"Iya, diem Lo, Mon!!", jawab Erva lirih dan masih berbisik di telinga Mona.
Erva menghela nafasnya, jujur saja ia takut dengan laki laki di depan nya saat ini, yang mana malahan semakin mendekat setelah mengucapkan kata kata itu.
Mungkin saja, Dokter Anjar kesal karena tidak mendapat jawaban dari Erva, yang mana gadis itu hanya diam saja.
"Kamu tidak lupa kan?? atau perlu aku bawa kamu lagi???", ucap Anjar yang kini sudah berada dalam jarak yang sangat dekat Erva, dan terdengar hembusan bas Anjar dengan aroma parfum yang sangat menenangkan.
"Eh....tidak.... aku tidak lupa."
Dan aku harus mencari makan keluar untuk kabur dari sini, aku tidak mau kalau di ajak ke Rumah Sakit itu lagi, dan ujung ujung nya diminta membersihkan ruangan nya.
Erva mendorong pelan dada bidang Anjar, dan langsung kabur dari tempat itu.
"Let's go Mon!!", teriak Erva lantang.
Lalu gadis cantik itu berlari dengan menjulurkan lidah dan juga jari tengah nya, hingga membuat Anjar menggeleng dan melototkan matanya tajam.
__ADS_1
"Awas saja, kalau bertemu lagi... tidak akan aku lepaskan!!!"
Tanpa sadar, Anjar mengembangkan senyuman nya, senyuman yang tidak pernah ia perlihatkan ke orang lain, tetapi....kini gara gara kelakuan Erva, laki laki itu bisa tersenyum dengan bebas.