Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Sesuatu


__ADS_3

"Maaf, menunggu lama ya?"


Siang ini, Anjar memang sengaja untuk menjemput Erva. Laki-laki itu sudah memantapkan hatinya untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya saat ini dan tentu saja ya memang berkeinginan untuk segera memiliki Erva.


Memang kesannya buru-buru, tapi tidak ada yang salah juga tidak ada yang perlu dicurigai. Karena semata-mata ajar tidak ingin kehilangan Erva, tidak ingin kehilangan satu-satunya perempuan yang bisa meluluhkan hatinya.


Oleh karena itu, mau tidak mau bisa tidak bisa ia akan segera menikahi Erva dan tentu saja tidak menunggu lama apalagi menunggu persetujuan gadis itu.


Tentunya semua sudah dibicarakan baik dengan mama Risa maupun kedua orang tuanya Erva dan mereka setuju setuju saja tinggal Erva nya bagaimana.


Maka dari itu siang ini, Anjar memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebentar, untuk sekedar makan siang dan juga membicarakan hal yang sangat penting.


Begitu juga dengan Erva, ia memang sengaja tidak memakai mobil tadi pagi karena sudah tahu kalau Anjar mengirimkan pesan, akan mengajaknya makan siang.


"Tidak Mas, baru 10 menit saja"


Memang tidak lama, tetapi juga tidak masalah bagi Erva. Karena ia pasti tahu kalau Anjar punya kesibukan tersendiri, terlebih profesinya sebagai seorang Dokter yang sudah pasti akan lebih mementingkan nyawa orang lain daripada dirinya.


"Maaf kalau begitu, mau makan siang di mana?"


Sebenarnya Anjar tidak suka basa-basi, lagi bertanya kepada perempuan mau makan di mana sedang apa sudah makan apa belum itu bukan sifat dari Anjar.


Ia berusaha membuat gadis yang dicintainya nyaman bersama dengan dirinya Anjar mengesampingkan ego dan juga apapun.


Ia akan berusaha menjadi laki-laki yang terbaik laki-laki yang perempuan dan laki-laki yang dibanggakan oleh Erva nantinya.


"Terserah Mas saja."

__ADS_1


Jawaban yang selalu diberikan oleh Erva kepada Anjar setiap kali Anjar menanyakan mau makan di mana. Tapi laki-laki itu tidak marah ataupun kecewa malahan ia senang berarti gadisnya itu memang benar-benar tidak mengikat sesuatu dan bisa makan di mana saja dengan menu apa saja tentunya tidak boleh terlalu pedas.


"Bagaimana kalau mencoba menu baru,.masak di apartemenku?"


Sebuah pilihan yang menarik tentunya. Dan Erva langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju. Itu juga sudah bosan dengan masakan rumah nya ataupun dengan masakan restoran dan memang belakangan ini entah kenapa Erva ingin merasakan masakan dari tangan Anjar.


Keduanya langsung saja masuk ke mobil dan setelah siap Anjar melajukan mobilnya menuju ke apartemen.


Kebetulan sekali siang ini memang aja tidak ada jadwal di rumah sakit tetapi entahlah tidak tahu juga nantinya karena profesi Dokter memang seperti itu sudah jelas-jelas tidak ada jadwal atau tidak ada apapun di rumah sakit eh tiba-tiba ada panggilan untuk ke sana ya mau tidak mau Anjar ataupun Dokter yang lainnya harus segera menuju ke rumah sakit.


Anjar berdoa semoga memang kebersamaannya dengan Erva siang ini tidak ada gangguan. Meskipun Anjar sedikit resah salah kalau memang ada panggilan untuknya.


Mobil yang dikemudikan oleh Anjar sudah sampai di apartemen tempat di mana Anjar menghabiskan sedikit waktunya di sana karena laki-laki itu lebih banyak pulang ke rumah daripada ke apartemen.


Langsung saja turun dan bergegas untuk menuju ke lantai atas tempat di mana apartemen Anjar itu berada.


Keadaan di sana masih sangat sepi entah karena siang hari penghuninya kebanyakan sedang beraktivitas termasuk juga lift yang mereka masukin hanya ada aja dan juga Erva di dalamnya.


Anjar bingung sendiri bagaimana caranya mengatakan isi hatinya kepada Erva sedangkan saat ini mereka sudah masuk ke dalam medan mungkin sebentar lagi akan ke luar dari lift.


Entah apa yang dipikirkan oleh Anjar saat ini tiba-tiba ia mendekati Erva, Erva hanya diam bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Anjar.


Hingga tubuh Anjar saat ini sudah berada di depan tubuh Erva dengan pandangan mata ajaran lurus ke depan memandang wajah cantik Erva dengan sejuta pikiran yang ada di benaknya saat ini.


Anjar mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan dekat lagi ke wajah Erva. Dan tentunya Erva hanya pasrah mendapatkan perlakuan manis dari Anjar saat ini.


Tidak ingin GR dulu atau berharap lebih dengan apa yang akan dilakukan oleh Anjar, Erva hanya diam dan menganggap ini adalah pandangan mata seperti biasanya Anjar memandang ke arahnya.

__ADS_1


Tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang bertandang di bibirnya yang membuat Erva seketika langsung membulatkan matanya.


Cup


Satu ciuman menempel di bibir manis Erva yang membuat gadis itu terpaku, tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa, yang jelas Erva kaget dengan apa yang dilakukan oleh Anjar terlebih ini berada di lift dan tentu saja hanya ada dirinya dan juga Anjar di sini.


Anjar melepaskan ciuman singkat itu kemudian matanya memandang lekat ke arah Erva dan ia mengembangkan senyuman manisnya.


Merasa tidak mendapatkan penolakan dari Erva, kemudian Anjar mendekatkan wajahnya lagi ke arah Erva dan kemudian mencium lembut bibir Erva.


Tahu kalau lift itu akan segera terbuka, tangan Anjar terulur untuk menekan tombol yang membuat lift itu bergerak lagi dan tidak jadi berhenti.


Kemudian....


Cup


Anjar mencium bibir Erva, bukan hanya sekedar ciuman saja, tetapi laki-laki itu juga melu_mat dan merasakan manis dari bibir gadisnya saat ini.


Sejenak Erva terpana, kaget dan juga terdiam sesaat dengan perlakuan manis yang Anjar berikan. Hingga akhirnya gadis itu juga melakukan hal sama dengan apa yang Anjar lakukan, membalas ciuman dan juga melu_mat bibir Anjar.


Mereka melakukan dengan penuh perasaan, penuh kasih sayang dan juga cinta. Bukan hanya sekedar nafsu saja tetapi memang dilakukan dari dalam hati hingga kedua mata mereka terpejam sama-sama menikmati apa yang dirasakan saat ini.


Kegiatan panas itu, membuat keduanya terlena dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Sangat manis dan manis hingga tanpa sadar sesuatu yang di bawah sana sudah mulai bergejolak dan dan aksi panas mereka harus segera dihentikan.


Anjar yang sadar dengan sesuatu yang tiba-tiba bergejolak di bagian bawahnya langsung saja melepaskan ciuman dari bibir Erva.


Karena ia tidak ingin melanjutkan sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan. Tetapi kalau diteruskan akan semakin bahaya baginya dan juga bagi Erva.

__ADS_1


Karena Anjar adalah laki-laki normal yang pastinya, akan melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dirasakan saat ini.


Kedua mata masih saling memandang dan entah mengapa saat ini setelah bibir mereka terlepas tanpa tersenyum dan juga malam-malam mendapati dirinya juga membalas apa yang dilakukan oleh Anjar bahkan Erva akui kalau permainan bibir Anjar begitu sangat memabukkan.


__ADS_2