
Baik Erva maupun Anjar masih terdiam, saling menatap tanpa bisa berkata kata. Setelah kepergian Rico, Erva juga masih berdiri di depan pintu, dengan tangan nya yang masih memegang rantang. Rasanya aneh sekali, canggung dan entahlah.....
"Maaf, aku mengganggu Dokter??"
Erva tidak tahan, ia membuka suaranya. Lagian juga salah tingkah karena di lihat oleh Dokter Anjar seperti itu. Tidak bersuara tapi hanya menatap, seakan akan Erva ini adalah makanan lezat yang siap di santap.
Bukannya tersenyum, mendengar ucapan dari Erva... Dokter Anjar malahan semakin melihat Erva, kali ini dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Mas...., aku ganggu tidak??"
Melihat ekspresi wajah Anjar yang seperti itu, Erva langsung merubah panggilan nya. Ia pikir ini di Rumah Sakit.... tidak enak kalau di dengar oleh orang lain... padahal... tidak ada orang lain di sana.
"Tidak, duduklah."
Benar, setelah panggilan nya di ganti.... Dokter Anjar langsung merubah ekspresi wajahnya.... tidak menyeramkan tetapi juga tidak menyenangkan. Entahlah, dulunya bagaimana orang tuanya membuat, hingga Anjar menjadi laki laki yang dingin dan kaku .
Erva tersenyum manis, ia melangkahkan kakinya untuk mendekati Anjar, tidak lupa dengan wajahnya yang menatap lurus ke depan.
Deg
Deg
Semakin dekat, jantung Anjar rasanya semakin berdetak kencang. Erva benar benar membuat hati Anjar porak poranda.... tetapi, Anjar tidak tau bagaimana cara mengutarakan perasaan nya.
"Mas Anjar sudah makan??"
Tanpa perlu basa basi dan terlalu lama berada dalam situasi yang membingungkan, Erva langsung saja menanyakan kepada Anjar tentang apa yang ingin disampaikan nya.
"Belum...., belum sempat."
Wah ..belum sempat dari mana, sedari tadi duduk duduk saja tidak melakukan apapun juga, bahkan memang tidak ingin makan sama sekali, hanya melihat foto Erva yang terpasang cantik di ponsel nya.
"Kebetulan, aku bawakan makan siang... semoga suka Mas ..."
Tidak perlu lama lama, Erva membuka rantang yang berisi nasi putih, sambal dan juga ayam bakar madu..menu simpel yang pasti nya bikin perut kenyang.
Anjar tidak berkata apa apa, ia malahan asik melihat Erva yang sedari tadi ribet sendiri dengan menatakan makan siang untuk nya
Sudah seperti istriku saja, batin Anjar
"Silahkan makan Mas, maaf.... seadanya...dan ini buatan aku sendiri ayam bakarnya "
Erva menyodorkan piring yang sudah diisi oleh nasi dan ayam bakar beserta sambalnya dan meletakkan pas di depan Anjar.
"Oh ya lupa..."
__ADS_1
Ada yang lupa, tentu saja Erva ingin mengambil minum untuk Anjar dan juga cuci tangan nya. Sementara, Anjar...hanya memperhatikan tingkah laku gadis kecil yang malahan ribet sendiri dengan urusan nya .
"Kamu juga makan, nanti aku bisa ambil minum sendiri...."
Tidak enak, akhirnya Anjar meminta Erva untuk segera makan saja , yang seperti nya dari tadi ribet ngurusin dirinya saja .
"Iya Mas ..."
Baik Anjar dan juga Erva makan siang berdua, dan tentu saja mereka bingung ingin berbicara apa.
"Gimana rasanya Mas??"
Sengaja Erva menanyakan, ia ingin tau bagaimana pendapat Anjar saat ini. Yah, meskipun makanan itu bisa tertelan di mulut Anjar dan tidak dikeluarkan tetapi Erva masih saja penasaran karena ini adalah pertama kalinya masak untuk seseorang.
"Lumayan.. meskipun banyak kurangnya."...
Jlebbb...
Jawaban Anjar yang jujur, tentu saja tidak ingin menyakiti hati Erva, karena Erva sudah capek capek datang kesini membawakan makanan.
"Banyak??"
Erva menarik piring yang kini masih ada di tangan Anjar dengan tujuan supaya Anjar tidak meneruskan makanan nya yang menurut Anjar banyak kurang nya.
"Eh, kenapa diambil??"
"Jangan dimakan, kita makan di luar saja Mas....."
Meskipun ia sudah susah payah untuk membuat makanan ini, tetapi kalau rasanya tidak enak, mau diapain lagi...sebaiknya tidak usah di makan.
"Bukan begitu dek, ini masih bisa dimakan..hanya saja rasanya kurang pas bumbunya..kurang mantap saja."
Wajah yang tadi nya sedikit murung kini tersenyum kembali, begitu mudah perempuan mengembalikan mood nya.
"Kurang mantap?? maaf karena ini adalah untuk pertama kalinya memasak makanan."
Yes, didalam hati Anjar senang , ternyata isi dirinya lah yang menjadi orang pertama kalinya bisa menikmati masakan Erva langung dari tangan nya sendiri.
Tetapi, yang namanya Anjar, ia akan menutupi semua yang terjadi dan bersikap biasa saja.
"Mau mencoba resep yang lebih pas??"
Anjar menawarkan sesuatu yang juga belum pernah dilakukan nya dengan seorang perempuan mana pun, dan entah kenapa dengan Erva .. bibirnya bisa mengatakan apapun juga.
"Boleh, memangnya Mas bisa??"
__ADS_1
Seakan tidak percaya kalau seorang Anjar bisa menemukan dan memasak enak sesuai dengan komposisi nya.
"Kalau bisa mau dikasih apa??"
Eh ..malahan bertanya... pertanyaan Anjar membuat Erva malu seketika, bingung jawaban apa yang akan diberikan.
"Terserah mau nya Mas apa...."
"Eh...."
Erva menutup mulut nya, bisa bisanya dia mengatakan seperti itu. Yah kalau Dokter Anjar hanya menginginkan ditemani makan dan jalan jalan saja, tetapi kalau lebih dari itu ..
Bukan nya menolak, tetapi Erva masih belum mau terikat dengan laki laki yang hanya menambah luka hatinya saja.
"Jangan dipikirkan, ada kuliah lagi setelah ini??", tanya Anjar memastikan...
"Tidak ada Mas...."
"Kalau begitu setelah makan, ikut aku.."
Erva mengangguk setuju, dan ia tidak bertanya lagi mau dibawa ke mana dan ngapain, pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh dokter Anjar nantinya.
Lima belas menit kemudian, makanan yang ada diatas meja sudah habis. Meskipun tidak seperti yang diinginkan oleh Anjar, tetapi masakan Erva bisa diterima dan juga terbilang enak.
"Makasih makan siang nya, tetapi ini dalam rangka apa??"
Setelah makan, baru laki laki itu menanyakan ada gerangan apa tiba tiba Erva datang dan membawakan makan siang.
"Apa ini salah satu bentuk proses merayuku??"
Erva belum menjawab, tetapi Anjar sudah lebih dulu bertanya lagi ..dan lebih tepatnya pernyataan untuk Erva.
"Bisa jadi."
Jujur saja memang niatnya seperti itu, merayu Dokter Anjar untuk dapat satu tempat di resto nya.
"Bisa jadi?? yang jelas Erva."
Ucapannya memang sedikit dikeraskan, tetapi pandangan matanya lembut mengarah pada Erva yang saat ini salah tingkah ingin menjawab apa.
"Bisa minta satu tempat di resto nya Mas??"
Sudah Anjar tebak, pasti Erva sengaja melakukan ini karena ingin minta tempat disana., seperti informasi yang didapatkan dari karyawan nya yang ada di AI resto.
"Boleh....kapan??", ucap Anjar sembari berdiri dan membuka satu kancing kemejanya bagian atas. Bukan ingin macam macam , tetapi lebih tepat lagi apalagi setelah makan.
__ADS_1
"Seriusan??", Anjar mengangguk yakin