
Pagi hari nya, Erva bangun lebih pagi. Bukan karena ingin menghindari Keenan seperti yang dilakukan nya beberapa hari yang lalu, dan juga bukan karena ia ingin menjenguk Keenan, tetapi lebih tepat nya Erva ingin menemui Dokter Anjar pagi ini.
Meminta maaf, itu yang akan dilakukan oleh Erva tau kalau dirinya salah, tetapi bukan murni semua kesalahan nya.
Mungkin lebih tepat nya adalah miskomunikasi saja, dan harus dijelaskan dan diluruskan.
Tapi, namanya Erva..ia tidak tenang kalau belum meminta maaf pada Anjar. Ia tau kalau dirinya salah, bahkan mungkin Anjar sudah berpikir yang tidak tidak tentang nya semalam.
Gadis itu sudah rapi dan cantik, ia bahkan melewatkan sarapan nya dan memilih untuk membawanya saja, bukan untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk Dokter Anjar yang akan ia ajak sarapan bersama untuk menebus kesalahan dan meminta maaf.
Entah dari mana Erva tau kalau pagi ini ada jadwal Dokter Anjar di Rumah Sakit, dan ia ingin menghampiri laki laki itu meskipun sebentar saja setidaknya...perasaan nya lega.
Dengan semangat empat lima dan juga sedikit rasa takut, ia turun dari mobil dan langsung menunju ke resepsionis, dan menanyakan apakah Dokter Anjar sudah datang apa belum.
"Mbak, Dokter Anjar sudah datang?"
Mbak resepsionis itu tersenyum, ia kemudian menggeleng tanda belum melihat Dokter Anjar, dan lebih tepatnya belum datang.
"Belum mbak, langsung tunggu saja di ruangan Dokter Anjar."
Seperti nya memang semua orang yang ada di Rumah sakit ini tau hubungan antara Dokter Anjar dengan dirinya yang mana dengan mudahnya resepsionis itu langsung meminta untuk ke ruangan Dokter Anjar saja.
Padahal, tidak semuanya bisa masuk ke sana, kalau bukan kelurga nya dan juga teman dekatnya.
"Aku tunggu di sana saja mbak, terimakasih."
Tidak mungkin Erva lancang untuk langsung masuk ke ruangan Dokter Anjar, ia siapa?? statusnya saja belum jelas. Dan juga, hubungan yang terjalin antara dirinya dan juga Anjar lagi tidak baik baik saja.
__ADS_1
Erva duduk di ruang tunggu, di mana bisa melihat orang yang keluar masuk lewat pintu utama sekalipun itu adalah pemilik dari Rumah Sakit itu sendiri.
Lima belas menit, Erva sudah menunggu selama itu. Tetapi, Anjar belum juga datang yang membuat Erva was-was, ada apa dengan laki laki itu? karena tidak biasanya... Dokter Anjar telat pergi ke Rumah Sakit.
Hampir saja ia menyerah dan ingin meninggalkan tempat itu, tetapi sekali lagi...Erva belum tenang kalau belum bertemu dengan Dokter Anjar dan meminta maaf kepada nya.
Hingga... setelah tiga puluh menit, seseorang yang ditunggu tunggu akhir nya datang juga. Ia melihat Dokter Anjar dan juga Dokter Rico berjalan beriringan, yang mungkin tidak sengaja datang barengan.
Erva tersenyum, ia kemudian berdiri untuk menyapa Dokter Anjar yang sudah berjalan mendekati nya, tetapi...semua tidak seperti yang diharapkan....jangankan tersenyum , laki laki itu bahkan tidak melihat ke arah nya.
"Mas...."
Tidak ada jawaban sama sekali dari Dokter Anjar yang membuat Erva bingung dan yakin kalau kesalahan nya semalam memang fatal dan Anjar tidak akan memaafkan nya dengan mudah.
Melihat perubahan Dokter Anjar, Erva menghampiri Anjar yang sama sekali tidak melihat ke arahnya, bahkan ekspresi wajahnya begitu dingin dan menakutkan.
Erva masih mencoba untuk membuat Anjar membuka suaranya, meskipun pada kenyataannya nanti hanya sia sia saja, tetapi harus ia coba.
Anjar tidak menjawab, ia memang menghentikan langkah nya tetapi masih tidak melihat ke arah Erva, yang membuat gadis itu terdiam seketika.
"An...."
Tidak enak dengan Erva, Rico yang paham lalu menyenggol Anjar, ia juga tidak mungkin membiarkan Erva berdiri tanpa jawaban dari Anjar.
Anjar menoleh ke arah Erva, dan melihat dengan jelas wajah cantik Erva yang saat ini ada di samping nya. Tidak dipungkiri lagi kalau ia sangat tertarik dengan gadis itu, bahkan di dalam hatinya sudah ada benih benih cinta yang tertanam untuk Erva seorang.
Tetapi, setelah kejadian semalam... Anjar jadi berubah, bukan karena ia tidak cinta lagi dengan Erva, tetapi....ia akan berusaha untuk tidak terlalu berharap lagi dengan gadis itu, yang nanti nya akan membuat hatinya semakin terluka.
__ADS_1
Karena menurut pikiran Anjar, Erva tidak bisa makan malam dengan nya, karena Keeenan, dan mungkin sudah balikan lagi dengan laki laki itu.
"Aku sudah sarapan sebaiknya kamu pulang", jawab Anjar dengan ketus bahkan tidak menatap matanya saat bicara dengan Erva.
Deg
Jawaban dari Anjar membuat Erva menatap tajam ke arah Dokter itu, ia juga menggeleng, tau akan kesalahan tetapi ingin meminta maaf namun Dokter Anjar bersikap dingin dan seakan akan tidak memaafkan nya..
Erva bingung, haruskah ia pulang dan gagal meminta maaf kepada Anjar, atau terus mengekori laki laki itu sampai dimaafkan.
Anjar tidak bicara lagi, ia langsung saja meninggalkan Erva yang masih diam di tempat dengan sejuta penyesalan yang ada. Hatinya menjerit, ia tau ..kalau dirinya memang salah... tetapi..kenapa Dokter Anjar tidak mau mendengarkan penjelasan dari nya dulu, dan memilih untuk pergi begitu saja...
Ingin rasanya Erva berteriak tetapi itu tidak mungkin karena ia tau apa resiko yang harus di hadapi nanti nya.
"Ikut saja, sebaiknya di bicarakan di dalam saja, ayok dek "
Seperti pahlawan di pagi hari, tanpa meminta pendapat dari Anjar...Rico langsung saja meminta Erva untuk ikut ke atas, ke dalam ruangan Anjar
Memang sebaiknya begitu, karena Rico tau cerita tentang Erva, bahkan tentang makan malam yang gagal pun ia tau.
Tidak menutup kemungkinan kalau Anjar marah dan kecewa terhadap Erva. Anjar yang kaku dan dingin, juga baru pertama kali mengenal cinta tetapi terpatahkan dengan sikap Erva yang tiba tiba mengingkarinya janjinya.
Tidak ada yang benar di sini, antara Erva dan juga Anjar sama sama salah. Erva salah karena tidak memberikan kabar kalau tidak bisa makan malam, begitu juga dengan Anjar... yang tidak mau mendengarkan dulu dari Erva, ataupun mencari tau yang sebenarnya.
Kalau seperti ini, Rico yang teman baiknya Anjar jadi ikut pusing sendiri, padahal ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua nya.
Erva mengangguk, tidak ada salahnya untuk ikut Rico ke atas, ke ruangan Anjar. Ia sebisa mungkin akan menjelaskan kejadian sebenarnya... mungkin Anjar memang salah paham.
__ADS_1
Entah itu diterima baik atau tidak, urusan belakangan...yang penting Erva sudah memberikan penjelasan yang benar dan tidak ada yang ditutup tutupi lagi