
Tanpa ragu, gadis itu melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah, tujuan utamanya saat ini adalah ke Rumah Sakit untuk bertemu dengan Dokter Anjar.
Entahlah, ada rasa senang dan juga gelisah.. tidak bisa diungkapkan dengan kata kata lagi, perasaan Erva saat ini.
Meskipun yakin, tetapi..asa sedikit was was..karena tau sendiri bagaimana sifat Anjar yang seperti nya sangat pemilih dalam hal makanan, dan juga apa yang sekiranya tidak masuk di mulut nya pasti akan dikeluarkan lagi.
Biasanya kalau laki laki yang dingin itu, apa apa selalu jujur.. meksipun itu sangat menyakitkan untuk yang mendengar nya.
Tetapi, Erva rasa..ia sudah mencicipi masakan nya, yang sudah dapat dipastikan bisa di makan dan rasanya tidak hancur hancur banget.
Sepanjang perjalanan, Erva bingung..harus bagaimana dan berkata apa mengenai kedatangan nya yang bisa dibilang tiba tiba.
"Mas..ini aku bawakan makan siang."
"Ah .. terlalu langsung, tidak ada basa basi nya sama sekali...."
Erva berpikir lagi ..kata kata apa yang tepat saat bertamu dengan Dokter Anjar nantinya, bingung sendiri...belum sempat menyiapkan kata kata untuk diucapkan kepada laki laki dingin itu
"Siang Mas Anjar, belum makan siang kan?? ini aku bawakan makan siang..di makan ya, semoga suka...."
Erva menggeleng, ini susah sekali...padahal beberapa bulan yang lalu melewati ujian nasional tidak seperti ini....tapi kini....
"Terlalu panjang , pasti dia malahan menertawakan aku.", gumam Erva lagi.
Menyetir, sembari memikirkan kata-kata apa yang pas yang digunakan nanti ketika sudah bertemu dengan Dokter Anjar, dan pasti nya sampai detik ini ... Erva belum menemukan kata yang pas.
"Ah ..aku hampir gila!!!! kenapa jadi orang yang lurus lurus banget ya??"
Bukan menyesal, tetapi setidaknya Erva tidak tau bagaimana menjadi seorang perempuan yang sedikit nakal, bisa merayu dan mengucapkan kata kata yang sekiranya bisa membuat laki laki terpana...karena selama ini, Erva lah yang selalu di kejar dan dirayu oleh laki laki.
__ADS_1
Tanpa terasa, mobil yang dikemudikan oleh Erva sudah sampai di halaman Rumah Sakit mewah, yang tentu nya ini adalah tempat di mana Dokter Anjar sehari harinya bekerja.
Gugup, padahal dari rumah sudah biasa dan tidak memikirkan hal yang aneh aneh, tetapi mengapa sampai di sini...rasa gugup dan tidak percaya diri melanda Erva.
Erva turun dari mobil , ia tidak lupa membawa rantang yang isinya menu makan siang untuk Dokter Anjar, tentu saja porsinya cukup untuk di makan berdua nanti..
Tidak pernah Erva gugup seperti ini, padahal.... dulu Erva juga pernah menemui Dokter Keenan di rumah sakit... tetapi kenapa rasanya tidak seperti saat ini.
"Tenang Er....."
Erva mencoba tenang, ia harus berpikir positif supaya bisa mengatakan sesuatu dengan lancar.
Hingga akhir nya, ia sampai di resepsionis dan mengatakan kalau ingin bertemu dengan Dokter Anjar, tidak enak kalau langsung ke atas, apalagi... Dokter Anjar adalah orang paling penting, paling berkuasa di sini.
"Mbak maaf, apa Dokter Anjar nya ada??", tanya Erva dengan begitu sopan.
Mbak resepsionis itu tersenyum, dan melihat ke arah Erva dan menatap dengan intens, seperti nya pernah melihat Erva di sini.
Yah, sebagian besar karyawan rumah sakit itu tau kalau Dokter Anjar pernah merawat Perempuan cantik beberapa bulan yang lalu, dan perempuan itu sangat spesial menurut perawat perawat yang bertugas di kamar inap Erva.
"Ada mbak, tapi sebentar saya hubungkan dengan asisten nya dulu."
Erva mengangguk, memang salahnya tidak menelpon Anjar lebih dulu, jadinya mau tidak mau ia harus menunggu dihubungkan,. Erva juga tidak masalah, apalagi mbak nya itu juga bersikap baik dan sopan.
Sembari menunggu, Erva melihat lihat ke sekitar yang memang saat ini waktu nya berkunjung.
"Bukannya itu tadi perempuan yang ada di foto nya Anjar??",
Rico yang baru saja keluar dari ruangan Anjar, dan langsung saja menuju ke bawah untuk pulang, menghentikan langkah kakinya....karena tidak sengaja melihat perempuan yang sangat mirip dengan yang tadi ia lihat di ponsel nya Anjar.
__ADS_1
Karena penasaran, dan untuk memastikan kalau benar apa tidak yang dilihatnya, Rico melangkahkan kakinya kembali dan menghampiri Erva.
"Benar...doa adalah perempuan itu, sangat cantik aslinya....sumpah...masih muda."
Rico sudah berada di depan Erva dan melihat Erva dengan mata yang tidak berkedip, mengagumi ciptaan Tuhan yang menurut nya sempurna.
"Maaf....mau cari siapa dek?", tanya Rico basa basi.
Meskipun ia yakin kalau itu adalah Erva, tetap saja Rico bertanya terlebih dahulu untuk memastikan, dan juga supaya bisa lama melihat pemandangan indah di depan mata.
"Oh.....mau_"
"Dokter Rico, ini ada mbak Erva yang mau bertemu dengan Dokter Anjar, tadi saya sudah menghubungi asisten nya tetapi tidak diangkat....", ucap Mbak resepsionis itu menyela ucapan Erva.
Astaga, dia tau namaku..padahal aku belum menyebutkan nama...apakah aku jadi terkenal di sini?? batin Erva.
"Sudah ku duga, biar saya yang mengantar calon istri nya Dokter Anjar .", ucap Dokter Rico yang tiba tiba sudah berdiri di samping Erva.
Siapa dia? mengapa seakan akan mengenal aku??
Erva melotot mendengar ucapan dari Dokter yang belum tau siapa namanya, yang sok sok an kenal, lalu mengatakan calon istri... Apa apaan??
"Eh ..bukan lah Dok, Dokter bisa saja. Jangan dengerin mbak...."
Bukannya menolak, ya kalau benar kalau tidak....apalagi Dokter Anjar itu terkenal dingin dan tidak tersentuh dengan wanita., dan juga.. darimana Dokter itu bisa mengatakan seperti itu, dari mana coba??
Erva tidak enak dengan mbak resepsionis yang sedari tadi melihat ke arahnya, apalagi sambil tersenyum setelah Dokter Rico mengatakan yang tidak tidak.
"Jangan begitu...ayok dek, aku anterin."
__ADS_1
Merasa tidak bisa berkutik lagi, lagipula banyak karyawan yang memperhatikan nya, tanpa berpikir panjang...Erva langsung mengikuti ke mana arah Dokter Rico melangkah.
Tentu saja, Erva merasa canggung...ia belum pernah bertemu atau kenal dengan laki laki yang ada di samping nya, tetapi seperti nya dia mengenal Erva .