
Makan malam berjalan dengan lancar, baik Erva maupun Mama Risa sama-sama ngobrol menceritakan sesuatu tentu saja sembari makan.
Di dalam keluarga Anjar memang tidak mengharuskan untuk makan hanya diam saja dan fokus kepada makanan. Bisa sambil ngobrol dan juga bercerita entah itu apapun kegiatan mereka sehari-hari.
Beberapa menit kemudian, setelah makan malam tentu saja Erva tidak langsung pulang.
Mamah Risa meminta gadis itu untuk menuju ke balkon atas. Tentu saja ingin berbicara lebih banyak lagi dengan Erva.
Sedangkan Anjar, entahlah kemana laki-laki itu saat ini yang tidak berada diantara kedua wanita cantik yang saat ini telah mengobrol serius.
"Lulus kapan sayank?" Tanya Mama Risa.
Erva tersenyum jika saja yang bertanya itu bukan orang tua pastinya ia sudah tertawa terbahak bahak. Baru saja masuk kuliah tetapi sudah ditanyakan kapan lulusnya yang jelas saja pastinya 4 tahun lagi.
"Masih lama Tante aku juga baru masuk kuliah kalau lancar 3,5 sampai 4 tahun."
Erva menjawab begitu tenangnya dan juga menjawab apa adanya ia tidak memungkiri kalau akan lulus tiga setengah tahun sampai 4 tahun nantinya tergantung nanti di depaApakah ada aral yang melintang atau tidak.
"Lama ya, bisa dipercepat nggak?"
"Ha?"
Kali ini Erva melongo, apanya yang dipercepat? Sementara untuk menempuh pendidikan S1 memang diperlukan waktu minimal 3,5 sampai 4 tahun itu juga minimal belum lagi nanti batas maksimalnya yang Erva sendiri tidak tahu.
Lalu mau di percepat yang bagaimana lagi berapa tahun? Yang pastinya Erva sendiri kaget dengan apa yang diucapkan oleh Mama Risa. Apa tujuannya mengapa wanita yang masih terlihat muda itu bertanya seperti itu kepada Erva.
"Jangan kaget seperti itu, Mama hanya ingin kalian segera melangsungkan pernikahan saja. Tidak masalah bukan kalau menikah sembari kuliah?"
Erva diam, juga tidak tahu harus menjawab apa. Antara dirinya juga tidak tahu maksud dari ucapan Mama Risa melangsungkan pernikahan dengan siapa? Dokter Anjar saja tidak mengatakan apapun kepada dirinya. Tapi kenapa tiba-tiba Mama Risa mengatakan seperti itu.
"Tidak usah bingung Er, Mama tahu apa yang terjadi di antara kamu dengan Anjar. Pastinya Mama juga tahu kalau kalian itu saling mencintai, cuma untuk mengungkapkannya mungkin Anjar tidak bisa."
__ADS_1
"Kamu tahu sendiri kan bagaimana Anjar? bagaimana dinginnya anak itu? Jujur saja baru kamulah perempuan yang dibawa Anjar ke kemari dan juga baru kamulah perempuan yang bisa meluluhkan hati Anjar."
Sejenak Erva tersenyum. Dalam hati ia begitu senang mendengar ucapan yang barusan dikeluarkan oleh Mama Risa. Tentu saja laki-laki seperti Anjar ini adalah laki-laki impiannya setelah ia patah hati dengan Dokter Keenan.
Apalagi dengan Anjar yang tidak mempunyai masa lalu sama sekali. Tidak mempunyai rasa cinta kepada seorang perempuan sebelum adanya dirinya.
"Aku...."
"Tidak perlu dijawab sayang, Mama tahu apa yang kamu pikirkan apa yang ada di dalam hati kamu. Kalau Anjar melamar kamu dan memungkinkan kamu untuk menikah dengan dia apakah kamu bersedia?"
Erva mengangguk, tentu saja tanpa ia berpikir lagi dan begitu cepat mengambil keputusan. Ia tahu keputusannya ini sangat tepat dan tentunya sesuai dengan hatinya harta tidak ada paksaan dari manapun juga.
"Yes!!"
Sementara di sudut ruangan yang lainnya, Anjar yang memang sengaja menguping pembicaraan antara Mamahnya dengan Erva langsung saja tersenyum lebar.
Setelah mendapatkan jawaban dari Erva yang tentunya ia sendiri juga menginginkan Erva, laki-laki itu ingin sekali berteriak tetapi Anjar urungkan.
Laki-laki itu saat ini memang sedang menguping pembicaraan kedua perempuan itu dan tidak mungkin langsung masuk saja ke dalam.
Meskipun Anjar sendiri belum mengutarakan cinta kepada Erva tetapi dengan apa yang baru saja ia dengar ia yakin kalau suatu saat ia mengatakan cintanya kepada Erva, Erva akan langsung menerimanya.
Tetapi kebersamaannya malam ini dengan Erva harus disedahi karena Anjar tiba-tiba menerima telepon kalau ada pasien gawat darurat di rumah sakitnya dan ia juga harus buru-buru ke rumah sakit sekarang.
"Ehem..."
Anjar masuk ke ruangan yang di sana masih ada Erva dan Mama Risa dan yang membuat Erva seketika kaget.
Apa mungkin tadi Dokter Anjar mendengar apa yang aku dan Tante Risa bicarakan bisa gawat kalau memang dia mendengar malu aku.
Erva gugup, ia benar-benar gugup sehingga mengalihkan pandangan mata dari Dokter Anjar.
__ADS_1
Sepertinya Dokter Anjar memang sengaja untuk memandang lekat wajah cantik Erva hingga membuat gadisnya itu malu dan tidak berani menatap ke arahnya.
"Maaf, aku harus segera ke rumah sakit karena ada pasien gawat darurat. Kamu bagaimana dek,.
mau pulang sekarang atau nanti biar diantar sama sopir?"
Tidak enak sebenarnya Anjar untuk mengatakan itu kepada Erva. Apalagi saat ini Erva lagi asik-asiknya ngobrol dengan Mama Risa. Tetapi kalau tidak begitu juga kasihan dengan Erva dan pastinya Anjar sendiri nanti tidak tahu Erva mau pulang jam berapa sedangkan dirinya juga tidak tahu sampai kapan berada di rumah sakit.
"Kalau aku ikut pulang nggak ngerepotin Mas atau Mas mau buru-buru di sana?"
"Masih ada waktu, pasiennya sudah ditangani dulu oleh Dokter Rico."
Erva lalu menoleh ke arah yang tentunya ia tidak enak dengan Mamah Risa.
"Maaf tante..."
"Tidak apa-apa Er, besok bisa dilanjutkan lagi kita ngobrolnya atau kalau perlu besok siang kita ketemuan jalan-jalan di mall sambil ngobrol bagaimana?"
"Boleh Tante kebetulan besok aku hanya kuliah 2 jam saja.."
Hingga akhirnya Erva berpamitan lalu meninggalkan kediaman Anjar.
"Tadi ngobrol apa sama mama?" Tanya Anjar saat mereka sudah berada di perjalanan tentu saja ia ingin memancing Erva untuk mengatakan apa yang dikatakannya tadi dengan Mamahnya.
"Banyak lah Mas, ternyata Mamahnya Mas asyik juga ya biarpun sudah tidak mudah lagi tetapi gaul."
"Ngobrol banyak itu ada macam-macam Er , apa kamu tidak mau menceritakan semuanya padaku?"
"Rahasia perempuan itu Mas, laki-laki tidak boleh tahu."
Bukan rahasia perempuan tetapi rahasia dirinya sendiri dengan Mama Risa dan tentu saja tidak mungkin ia mengatakan kepada Anjar kalau dirinya menaruh hati kepada laki-laki yang saat ini ada di sampingnya.
__ADS_1
"Hahaha itulah perempuan kalau sudah ngobrol pastinya tidak mau diganggu dan ada ada saja rahasianya. Tapi beneran kan tidak membicarakan tentang aku?"
Erva menoleh ke arah Anjar dan tentu saja ia dan Mama Risa tadi membicarakan tentang dirinya namun tidak mungkin juga Erva akan mengakui kalau dirinya sudah menurun rasa pada Dokter Anjar.