
Anjar menghentikan apa yang akan dilakukannya, lalu melirik sekilas tangan Erva yang memang sedang membawa sesuatu di sana yang pastinya itu adalah makan siang untuk dirinya.
Anjar tersenyum, betapa bahagia dirinya mempunyai istri seperti Erva yang tahu apa yang dibutuhkan saat ini, bukan hanya saja sesuatu yang sudah ditahannya tetapi makan siang pun ternyata Erva sudah menyiapkannya.
Dengan cepat Anjar mengambil bungkusan yang ada di tangan Erva, kemudian laki-laki itu menaruhnya di atas mejanya lalu kembali lagi ke arah Erva.
"Eh mau apa lagi, Aku lapar mas makan siang dulu."
"Aku juga laper dek, tapi mau makan kamu dulu baru makan yang lainnya."
Erva melotot mendengarkan apa yang diucapkan oleh suaminya dan memang benar setelah itu Anjar langsung menggendong tubuh Erva dan memasukkannya ke dalam kamar pribadi yang ada di ruangan Anjar saat ini.
Erva tidak bisa berkutik lagi ketika Anjar sudah merebahkan tubuh Erva diatas ranjang dan tentu saja Anjar dengan cepat melakukan sesuatu yang dari tadi ditahannya.
"Pelan-pelan Mas, aku tidak kemana-mana."
Erva merasa kalau suaminya memperlakukan dirinya dengan begitu cepat, bukan kasar tetapi terkesan buru-buru sepertinya mengejar waktu sekali.
"Maaf dek, tapi aku sudah tidak tahan."
Erva menggelengkan kepalanya pelan, bukan karena ia tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh suaminya tetapi aneh saja seorang Dokter Anjar yang terkenal dingin dan tidak tersentuh oleh wanita tetapi bisa memperlakukan dirinya seperti ini.
__ADS_1
Satu persatu semua yang menempel di tubuh Erva sudah terlepas, tentu saja laki-laki itu dengan cepat memangsa habis Erva hingga membuat Erva tidak bisa berkutik dan menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya.
Keringat sudah mengucur di seluruh tubuh Erva, begitu juga dengan Anjar. Siang ini iya bagaikan mendapatkan sebuah undian dan tentu saja sangat menyenangkan.
Terlebih lagi mendapatkan kejutan seperti ini yang memang dirinya sejak tadi kangen dengan istrinya eh tiba-tiba Erva datang ke sini tanpa diundang dan pastinya menyuguhkan sesuatu yang membuat Anjar tidak berdaya lagi.
Satu jam kemudian...
Anjar merebahkan tubuhnya di samping Erva kemudian menutup tubuh keduanya itu dengan selimut dan menarik tubuh Erva untuk di dekapnya.
"Terima kasih, meskipun kamu sangat nakal tetapi aku suka."
Ternyata obrolan mereka masih berlanjut, tentu saja itu masalah pesan yang dikirimkan oleh Anjar tetapi hanya dibaca saja oleh Erva dan tidak juga dibalas Erva tetapi dengan tiba-tiba istri cantiknya itu sudah berada di depannya.
"Untung saja kamu memberikan kejutan yang sangat menyenangkan untuk aku, coba aja tidak. Habis kamu malam ini dek, dan Aku pastikan besok kamu tidak bisa kuliah."
"Ih kejam banget, masa' nggak mau kalau istrinya pintar."
"Siapa juga yang nggak mau kalau kamu pintar. Bahkan kalau kamu tidak kuliah pun kamu sudah pintar dan aku senang jika kamu hanya duduk diam di rumah menanti aku pulang, dan melayani aku saja itu sudah cukup untuk aku."
"Hais ya nggak mau lah kalau aku cuma duduk manis di sana aku kan juga pengen kuliah Mas bertemu dengan teman-teman."
__ADS_1
"Hmmm....."
Keduanya terdiam sesaat tetapi ada sesuatu yang mengganjal dipikiran Erva saat ini, bukan apa-apa hanya saja ia menyampaikan kepada Anjar tetapi takut jika suaminya akan marah atau akan berpikir yang lainnya namun kalau tidak dikatakan ia sendiri akan penasaran dengan apa jawaban dari Anjar.
"Dek kamu bahagia enggak nikah sama aku?"
Belum juga Erva mengatakan apa yang ada di pikirannya tetapi Anjar sudah menanyakan dulu kepadanya dan tentu saja Erva memilih untuk menjawab apa yang ditanyakan oleh Anjar daripada mengungkapkan yang ada di dalam hatinya.
"Jangan ditanyakan Lagi bahagia atau nggak Mas, apa Mas nggak lihat bagaimana ekspresiku kalau aku tidak bahagia, pasti nya aku juga tidak mau menikah dengan mas."
"Bukan begitu, aku kan ngajakin kamu nikah mendadak apa kamu terpaksa menerima aku? Jujur saja aku kepikiran dek, takut takut kalau kamu terpaksa menerima aku. Tetapi kalau aku tidak gerak cepat pasti aku tidak akan mendapatkanmu."
Lagi lagi Anjar mengeratkan pelukannya di tubuh Erva, iya benar-benar sangat mencintai istri kecilnya itu dan tidak akan melepas kannya bahkan kalau nyawa taruhannya pun ia akan berikan demi membuat Erva nyaman kepadanya saat ini.
"Mas lucu sekali, kalau aku hanya terpaksa mungkin aku tidak akan menyerahkan semua ini kepada Mas. Mas tahu sendiri bagaimana ekspresiku setiap kali Mas menyentuhku pastinya tanpa aku katakan Mas sudah tahu kalau aku tidak terpaksa menjalani semuanya ini dengan mas."
"Tapi benar kan kamu tidak terpaksa menerima pernikahan ini aku takut dek jika nanti suatu saat kamu akan meninggalkanku dan memilih bersama dengan laki-laki lain."
"Pikiran macam apa itu Mas, kamu tahu sendiri bagaimana prinsipku. Aku hanya akan menikah satu kali seumur hidup dan pastinya jika kamu tidak menghianatiku lebih dulu aku juga tidak akan meninggalkanmu."
"Tidak akan, tidak akan pernah aku menghianatimu, untuk apa meninggalkan mu kalau aku sudah mendapatkan istri yang sangat luar biasa seperti kamu."
__ADS_1