
"Sudah sampai ya Mas?"
Erva melihat ke sekelilingnya, dan ternyata saat ini sudah berada di parkiran, lalu kemudian gadis cantik itu menatap ke arah Dokter Anjar yang saat ini tersenyum manis padanya.
"Jangan senyum begitu Mas , nanti aku nggak kuat loh. Senyuman Mas itu ngalahin gula...."
Bisa bisanya gadis itu menggombal , tidak tahu saja siapa yang digombalinnya saat ini.
"Ya malah bagus dong berarti kamu kalau minum sesuatu nggak usah pakai gula lah cukup melihat senyuman aku saja."
"Hah...."
Hampir saja Erva tidak percaya kalau yang di depannya saat ini adalah Dokter Anjar, laki-laki itu yang Erva pikir sangat dingin dan tidak bisa bercanda ternyata juga malahan bisa membual.
"Ayo turun, kalau di sini terus kapan makannya nanti yang ada kamu aku makan loh..."
"Eh mana ada begitu aku kan bukan makanan..."
Bukannya tidak paham apa yang dimaksud oleh Dokter Anjar tetapi Erva malah menggelengkan kepalanya pelan, bingung dengan sikap Dokter Anjar saat ini.
Yang kadang laki-laki itu baik kadang juga bersikap cuek, entahlah apa memang karakternya seperti itu?? atau mungkin memang Erva belum terlalu lama mengenalnya jadi tidak tahu bagaimana sebenarnya Anjar.
Tanpa lama lagi,. Erva membuka sabuk pengaman lalu turun dari mobil Anjar ia sudah melihat laki-laki itu turun terlebih dahulu lalu kemudian Erva juga menghampiri Anjar.
"Tempatnya enak ya mas , mas sering ke sini?"
"Belum pernah, baru satu kali ini saja..."
"Aku tidak percaya , baru satu kali ini tetapi sepertinya Mas sudah hafal betul tempat-tempatnya..."
__ADS_1
"Kamu selalu curigaan, apa tidak ada pikiran positif di otak kamu itu?? ini sudah zaman modern Erva, apa nggak bisa menggunakan ponsel untuk mencari tahu di mana tempat makan yang nyaman dan dengan suasana yang tenang??"
"Aku tahu, bisa cari di mana-mana tetapi aneh saja orang seperti Mas mana sempat membuka ponsel, apalagi mencari hal-hal yang beginian yang mas rasa itu tidak penting..."
Anjar tidak menjawab apa yang diucapkan oleh Erva, laki-laki itu hanya tersenyum manis. Memang tidak salah apa yang diucapkan oleh Erva karena lagi lagi, Anjar melakukan hal seperti itu, hal yang tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu saja., tetapi demi Erva...apapun akan ia lakukan.
Tapi demi erva Anjar bisa melakukannya bahkan ia sejak semalam membuka ponsel dan mencari berbagai tempat makan yang enak dan juga nyaman tentunya ada sedikit hawa-hawa romantis meskipun itu bukan bukan pilihan Anjar sendiri.
"Aku nanya serius loh mas kenapa nggak dijawab?"
"Aku harus menjawab apa lagi dek semuanya kan kamu sudah tahu..."
Erva menepuk keningnya sendiri. Memang benar kalau berbicara dengan Dokter dingin itu ia harus mempunyai stok sabar yang sangat banyak dan tidak boleh sedikit-sedikit baper apalagi jengkel. Yang pastinya itu akan membuat kita sendiri merasa tidak nyaman.
Hingga akhirnya obrolan mereka terhenti karena makanan yang dipesan oleh keduanya sudah sampai di atas meja.
Dan kebetulan sekali, Erva yang sangat lapar langsung saja memakan makanan itu tanpa basa-basi, ia melahap semua yang ada di depannya.
"Siap Mas pokoknya, aku kalau soal makanan nomor satu tidak malu dan juga tidak jaim kalau masih lapar pasti aku akan nambah lagi."
Lagi lagi itulah yang disukai oleh Anjar, gadisnya itu benar-benar sangat istimewa ...tidak memandang siapa yang mengajaknya ia bisa menempatkan di mana saja dan dengan siapa saja.
...****************...
Sementara di sisi lain dan masih di tempat yang sama, seorang Dokter muda yang tampan sedang memperhatikan kedua insan manusia itu yang saat ini juga sedang makan siang.
Seperti berbalik, kalau dulunya ia yang berada di posisi itu tetapi sekarang ia yang berganti posisi.
Dengan tangan terkepal, Dokter Keenan melihat secara intens ke arah Erva dan juga Anjar. Begitu juga dengan Anto, yang ikut memperhatikan Ke mana arah pandang dari bosnya.
__ADS_1
"Sabar Bos, mereka hanya makan siang saja tidak lebih dari itu...."
Meskipun faktanya bukan, tetapi sebagai seorang asisten yang baik dan juga berusaha untuk meredamkan emosi Keenan. Anto tidak mau kalau bosnya sampai marah-marah di tempat umum apalagi nanti banyak wartawan yang akan mengekspos mereka dan tentu saja citra dari seorang Dokter Keenan akan buruk di mata masyarakat nantinya.
"Bisa kau bedakan antara hanya makan siang atau tidak. Kamu lihat sendiri bagaimana ekspresi wajah Erva?"
Sepertinya Dokter Keenan memang paham , dan ia yang sudah lama mengenal Erva tahu betul bagaimana tatapan gadis itu memandang ke arah laki-laki.
Apakah ada rasa cinta atau bukan, Keenan paham dan ia tahu seluk-beluk dari Erva, karena sempat berhubungan dengan gadis itu meskipun tidak bertahan lama.
Mendengar ucapan dari bosnya, Anto hanya diam saja. Ya, memang apa yang dikatakan oleh Keean itu ada benarnya karena Anto juga bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Erva jika bersama dengan Dokter Anjar atau dengan Dokter Keenan.
Tentu saja sangat berbeda terlihat ceria di wajah Erva saat menatap ke arah Dokter Anjar tetapi jika menatap Dokter Keenan hanya biasa saja.
Namun sayang sekali, hal seperti itu tidak akan dikatakan oleh Anto. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, takut kalau gajinya dipotong atau malah dipecat.
"Aku harus menemui Dokter Anjar, bisa-bisanya dia mengajak makan siang Erva, siapakah dirinya??"
Tidak sadar, padahal Keenan juga sama. Siapakah dirinya di mata Erva saat ini yang tidak lain dan tidak bukan hanyalah seorang mantan, dan tidak lebih.
Mengapa seakan-akan Dokter Keenan itu mempunyai hak penuh terhadap Erva dan seakan-akan ialah yang sudah memiliki Erva saat ini.
"Jangan Bos, tahan!!"
Keenan melihat ke arah Anto,.ia sendiri tidak tahu mengapa asistennya itu malah menahannya, bukannya malahan mendukung untuk dirinya menemui Dokter Anjar dan mengatakan sebenarnya.
"Kenapa ditahan,.kau mau membuat Erva jatuh cinta dengan Dokter Anjar??"
"Bukan begitu Dokter, kalau Dokter menghampiri Dokter Anjar saat ini yang ada Erva malahan semakin tidak respect kepada Dokter dan Erva juga akan semakin membenci Dokter."
__ADS_1
Sekuat tenaga Anto menahan tangan Dokter Keenan yang ingin beranjak menghampiri ke meja Erva, tentu saja ia tidak mau kalau cinta yang dimiliki oleh Dokter Keenan membuat Dokter Keenan itu menjadi gelap mata.
Dokter Keenan diam , ia memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh Anto yang mana memang benar kalau dirinya maju untuk menghadapi Dokter Anjar dan mengatakan yang tidak tidak kepada laki-laki itu sudah dapat dipastikan kalau Erva akan semakin membencinya dan peluang untuk mendapatkan Erva semakin jauh saja.