
Erva mendekati Anjar dan tentu saja suaminya itu masih saja memandang wajahnya tampak berkedip. Erva sendiri belum memakai riasan wajah yang masih tampak alami seperti apa adanya saat ini.
Namun entahlah hal itu yang membuat Anjar semakin terus personal kepada istrinya, dan bukan karena make up tetapi karena tampilan Erva yang apa adanya.
"Aku bantu mengeringkan rambut kamu ya?"
Dapat dari mana perkataan dan sikap Anjar seperti itu yang pastinya ini bukan Anjar sebenarnya yang bisa bersikap romantis dan juga perhatian kepada istrinya.
Tentu saja tutorial seperti ini Anjar dapatkan dari Dokter Rico, Dokter Riko sudah mengajari bagaimana cara memperlakukan seorang wanita sebelum memangsanya tentu nya.
Erva mengangguk kemudian tangannya dipegang oleh Dokter Anjar dan keduanya melangkahkan kaki sampai di depan meja rias.
Anjar dengan terampil dan teladan mengambil hair dryer kemudian mengeringkan rambut Erva.
Erva diam saja, ia sudah tidak berkutik lagi jika suaminya sudah berbuat seperti ini.
Hingga beberapa menit kemudian, rambut Erva sudah kering dan itu tandanya pekerjaan Anjar kali ini sudah selesai dan Anjar langsung meraih tangan Erva untuk membantu istrinya berdiri.
"Sudah siap dek?"
Kaku sekali, tetapi wajar saja jika itu diucapkan oleh Anjar, laki-laki yang tidak pernah dekat dengan seorang wanita Apalagi malam ini adalah malam pertama kalinya Anjar akan menyentuh seorang wanita dan tentu saja bagi ajar ini sudah kemajuan untuk dirinya.
"Iya Mas..." jawab Erva dengan gugup, mau tidak mau siap atau tidak Erva sore ini harus siap dan menyerahkan semuanya kepada Anjar yang sudah sah sebagai suaminya.
Tentu saja ia tidak boleh memikirkan apa-apa, tidak boleh memungkinkan bagaimana nanti sakit atau tidak yang jelas ia pasrahkan kepada Dokter Anjar saja yang Erva yakin kalau suaminya itu akan berbuat yang terbaik untuk dirinya.
Anjar tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke arah wajah Erva dan melihat ke arah Erva yang saat ini menunduk malu.
Dengan cepat tangan Anjar terulur untuk meraih dagu Erva dan mengangkat wajah cantik Erva dengan sangat lembut, ia tahu jika istrinya itu saat ini malu ditatap olehnya seperti ini.
"Jangan malu, aku adalah suamimu saat ini dan rileks saja."
Kedua pasang mata itu saling bertemu, saling mengisyaratkan sesuatu yang entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing hingga Anjar dengan berani mendekatkan wajahnya terlebih dahulu ke arah Erva dan....
Cup..
Anjar dengan cepat meraih bibir Erva mencium bibir ranum itu dengan sangat lembut. Ya pertama yang anda lakukan hanyalah pemanasan, ia mencium lembut bibir Erva kemudian menye_sapnya pelan-pelan hingga gadis itu membuka bibirnya lalu membalas ciuman yang diberikan oleh Anjar saat ini.
Ciuman itu berubah semakin panas mana kala tangan Anjar sudah berani membuka satu persatu kancing pakaian tidur yang dikenakan oleh Erva dan tentu saja kesempatan ini tidak akan Anjar sia-siakan.
"Euhhh....."
"Sungguh luar biasa..."
Anjar tersenyum manakala ia sudah berhasil untuk membuka semuanya yang Erva kenakan bahkan Erva saat ini sudah tidak mengenakan apapun juga dan ia juga berhasil untuk memberikan sensasi yang mungkin ini adalah awal dari permainan panasnya nanti.
Ini adalah pertama kalinya bagi Anjar begitu juga dengan Erva, meskipun perjalanan panas masih belum terjadi, dan masih nanti tetapi dengan pemanasan ini tentu saja Erva semakin dibuat tidak karuan dengan perlakuan yang Anjar berikan.
Tidak ingin langsung membawa Erva ke atas ranjang, laki-laki itu malah memundurkan satu langkah kakinya ke belakang kemudian menatap Erva dari atas ke bawah.
Tentunya Erva memalingkan wajahnya, bukan tidak ingin melihat suaminya tetapi ia malu.
__ADS_1
Bagaimana bisa dengan keadaan tubuhnya yang polos seperti ini Anjar malah memandangnya kemudian tersenyum dan entah apa yang dipikirkan oleh suaminya itu mengapa tidak langsung membawanya saja ke ranjang malah melihat dengan tatapan mata yang menginginkan seperti itu.
"Tidak usah malu sayank, tubuh kamu begitu indah."
"Jangan dilihatin terus Mas aku malu..."
Merasa sesuatu di bawah Anjar sudah meronta-ronta, laki-laki itu langsung saja menghampiri istrinya dan kembali mencium bibir Erva dan melu_matnya.
Begitu juga dengan Erva yang seakan-akan terbuai dengan sentuhan bibir Anjar yang langsung saja ikut membalas mama_gut, kemudian menye_sap bibir Anjar tanpa henti hingga tanpa sadar dirinya saat ini sudah berada di atas ranjang dengan kedua bibir yang saling menempel.
"Euhhh....."
Kembali Erva mengeluarkan nyanyian kecil yang membuat Anjar semakin bersemangat saja, saat salah satu tangan Anjar sudah berada di bawah dan tentunya Anjar tahu kalau istrinya saat ini sedang merasakan sesuatu yang pertama kali dirasakan oleh Erva.
"Rileks sayank, jangan tegang seperti itu."
Anjar kembali tersenyum manakala ia melihat sesuatu yang baru saja ia lihat dan di situlah ia bisa bernafas dengan lega, karena pernyataan apa yang dikatakan oleh Dokter Keenan beberapa waktu yang lalu itu adalah salah dan ia yakin kalau istrinya saat ini masih perawan.
"Mas...ssttt......"
Satu jam kemudian, pemanasan dari permainan semi panas itu Anjar hentikan kemudian laki-laki itu menghampiri istrinya dan mencium seluruh wajah Erva dengan tatapan yang menginginkan.
Puas dengan apa yang dilakukan di bawah sana, Anjar ingin melakukan yang lebih lagi dari itu, dan laki-laki itu penasaran bagaimana rasanya malam pertama.
"Enak kan dek?"
Erva mengangguk pelan yang nyatanya memang apa yang dirasakan itu benar-benar enak meskipun ada sesuatu rasa ngilu-ngilu sedikit tetapi memang benar rasanya seperti apa yang dikatakan oleh Anjar.
Ucapan dari Anjar membuat Erva semakin merinding seketika kemudian laki-laki itu langsung saja bergerilya untuk kembali menelusuri tubuh Erva.
Dan kini saatnya Anjar membuka kimono yang sedari tadi masih menutupi tubuhnya hingga terlihat sesuatu begitu mengejutkan untuk Erva.
"Astaga.... Mana mungkin?"
Erva merinding ketika membayangkan sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dan juga ia berpikiran kalau sesuatu itu tidak akan pernah muat untuk dimasuki ke dalam miliknya.
"Rileks dan aku akan melakukannya selembut mungkin."
Kembali lagi yang dilakukan Erva hanyalah menganggukkan kepalanya ia benar-benar pasrah sore ini mau diapa-apakan oleh Anjar itu sudah haknya Anjar sebagai suaminya saat ini.
Anjar tersenyum, ia tidak akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang diberikan oleh Erva kemudian laki-laki itu langsung saja memposisikan tubuhnya di bawah Erva dan melakukan pemanasan sedikit terlebih dahulu supaya nanti Erva tidak terlalu kesakitan.
"Sa...kit...."
Anjar menjeda kegiatannya sejenak, ia melihat ke arah istrinya yang saat ini sedang kesakitan dengan kedua air mata yang sudah membasahi pipinya.
Tentunya Anjar senang, bukan senang melihat Erva seperti ini yang kesakitan tetapi senang karena ia adalah yang pertama kali mendapatkan Erva dan pertama kalinya memiliki tubuh Erva.
Tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu tetapi Anjar juga tidak akan mundur, malam ini ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menenangkan Erva kemudian baru akan melanjutkan aksinya.
Anjar menghentikan sejenak permainannya kemudian mengusap lembut wajah Erva dan membuat istrinya itu nyaman lalu mencium bibir Erva hingga membuat istrinya itu merasa rileks.
__ADS_1
Hingga.....
"Sttt.....Mas....."
Dengan pelan-pelan Anjar menggerakkan, kemudian membuat istrinya juga nyaman dan tidak akan menyakitinya meskipun ia tahu apa yang dirasakan Erva ini sangat sakit karena ia juga merasakan sesuatu yang sangat sempit di bawah sana.
Perlahan tapi pasti Anjar berhasil melakukan itu dan membuat lama-kelamaan Erva rileks.
Hingga hanya terdengar suara nyanyian dari keduanya yang membuat Anjar semakin bersemangat manakala Erva semakin mende_sah dan meracau.
"Jangan gigit bibir kamu dek,.cakar saja punggungku!!"
Anjar melihat kalau Erva sedang menggigit bibirnya dan tentu saja jika itu dilakukan dalam waktu yang lama akan menyakiti bibir Erva dan membuat bibir itu berdarah dan pastinya Anjar tidak mau Erva begitu.
Dengan cepat Anjar menawarkan punggungnya, tidak apa punggungnya menjadi korban dari cakaran Erva meskipun itu tidak sebanding dengan apa yang Erva rasakan saat ini.
Erva mengikuti apa yang diucapkan oleh Anjar, tangan nya terulur untuk mencakar punggung Anjar saat merasa ada sesuatu yang mulai bergerak-gerak di bawah sana dan tentu saja rasanya sakit hingga ia mencakar hebat punggung Anjar.
"Sayank....."
Bukan hanya Erva saja yang bernyanyi sore ini tetapi yang lebih dominan adalah Anjar, mengapa laki-laki itu malah cerewet dan mengeluarkan suara kepuasannya.
Bahkan suara Erva kalah dari suara teriakan Anjar yang entah mengapa sepertinya laki-laki itu memang sangat puas mendapatkan Erva saat ini.
Hingga akhirnya 1 jam kemudian, sesuatu sudah keluar dari bawah sana, dan Anjar langsung saja mempercepat aksinya hingga membuat keduanya berteriak karena merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ah......"
"Done Nyonya Anjar....."
Laki-laki itu tersenyum senang manakala ia sudah berhasil memiliki Erva seutuhnya tetapi senjatanya masih berada di bawah dan Anjar tidak ingin untuk melepaskannya.
"Terima kasih, kamu sudah menjaganya untuk aku dan kamu sangat luar biasa dek....."
Erva mengangguk meskipun ia masih merasakan sakit dan ngilu di bagian bawah tetapi ia juga senang karena ternyata suaminya memang puas dengan apa yang ia miliki saat ini.
"Kamu benar-benar luar biasa dek dan membuat aku candu."
Anjar mengusap lembut bibir Erva yang basah karena dirinya, dan juga mengusap wajah Erva yang penuh dengan keringat saat ini, tetapi laki-laki itu masih saja memposisikan dirinya di atas tubuh Erva hingga Erva yang merasa sedikit agak keberatan langsung saja bergerak, tetapi bukan nya Anjar yang turun ke atas tubuhnya namun malahan sesuatu kembali berkedut di bawah sana.
"Kamu memancing aku, dek dan aku mau lagi."
Erva melongo tentu saja bagaimana ia bisa memancing suaminya padahal ia sendiri tidak melakukan apa-apa, hanya menggeser tubuhnya sedikit tetapi mengapa reaksi dari si itu langsung saja bekerja dan membuat Erva mau tidak mau mengikuti apa yang diinginkan oleh suaminya.
Lagi lagi pergulatan panas sore ini Anjar lakukan bahkan sepertinya satu atau dua kali saja Anjar belum bisa menghentikan permainannya dan ia ingin mengulang lagi dan lagi.
Apakah seperti ini rasanya dan apakah setiap malam pertama harus diulang berulang-ulang seperti ini? batin Erva.
Erva hanya menganggukkan kepala nya saja, ia tidak mungkin mengucapkan ini kepada Anjar apalagi suaminya saat ini masih bersemangat berada di atasnya.
"Ganti posisi dek."
__ADS_1
Erva yang tidak tahu maksud dari ucapan Anjar, hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh suaminya yang saat ini sudah membolak-balikkan tubuhnya dan entah apa yang dilakukan oleh Anjar sekarang yang pastinya Erva tidak melakukan apa-apa. Ia hanya pasrah dan menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh suaminya saat ini.