Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Pelajaran


__ADS_3

"Jangan macam-macam deh Mas, ini tempat umum."


Evya berusaha untuk menahan dada Anjar, yang saat ini sudah mendekati dirinya, pikiran Erva sudah ke mana-mana yang pastinya ia berpikir kalau Anjar akan melakukan sesuatu di mobil.


Bukan karena Erva menolak apa yang diinginkan oleh suaminya tetapi waktu dan tempatnya tidak tepat terlebih lagi ini adalah di jalanan mana mungkin akan melakukan sesuatu di sini di mobil bagaimana nanti orang-orang yang melihatnya pasti mereka akan melihat mobil bergoyang.


Ya meskipun mereka adalah pasangan suami istri tetapi tidak sepatunya untuk melakukan sesuatu di tempat umum seperti itu masih banyak tempat yang bisa digunakan untuk memadu kasih.


"Kalau aku macam-macam tidak masalah kan, kamu istri aku dan kita sah bukan sebagai pacar atau selingkuhan."


Sepertinya Anjar tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Erva malah dengan cepat mendekati Erva pada tangannya terulur untuk membuka satu kancing kemeja Erva.


Erva melototkan matanya, benar saja apa yang ada di dalam pikirannya kalau suaminya ini benar-benar ingin macam-macam, Anjar benar-benar nekat dan gila tentu saja Erva tidak mau.


"Mas, Mau ngapain nanti saja ya di rumah pasti akan aku kasih tapi jangan di sini apa Mas nggak malu nanti ke gebrek polisi bagaimana?"


Ya bukan hanya itu saja alasannya tetapi waktunya tidak apa saja lagian ini ada di tempat umum bisa-bisanya suaminya menjadi gila karena ini


Anjar tersenyum, memang benar ia menginginkan Erva saat ini tetapi tidak akan melakukannya di mobil apalagi di tempat umum seperti ini iya masih waras dan masih tahu aturan dan tata krama yang ada tetapi ia gemas dengan istrinya kenapa mulutnya yang tidak bisa disaring diucap dan ini adalah pelajaran untuk Erva supaya menjaga mulutnya dan tidak berkata yang membuat ajar emosi dan cemburu.


"Lain kali jaga mulut kamu dek yang wajib terpesona dan berhak terpesona sama kamu itu adalah aku,.hanya aku dan tidak ada laki-laki lain apalagi itu Keenan."

__ADS_1


Cup


Anjar menempelkan bibirnya ke bibir Erva tentu saja bukan hanya sekedar mencium tetapi mengisap dan memakan bibir mungil itu yang membuat dirinya candu ingin Lagi dan Lagi tetapi Anjar sadar ini bukan tempat dan waktu yang tepat apalagi ia sudah diburu waktu yang pastinya harus segera kembali ke rumah sakit.


"Iya Mas...."


Erva jadi tau mengapa suaminya nekat berbuat seperti itu di sini dan tentu saja karena ucapannya yang tadi tidak sengaja mengatakan kalau Keenan masih terpesona dengannya, bukannya tidak mungkin tetapi memang itulah kenyataannya tetapi sayang sekali Anjar tidak suka jika Erva mengatakan seperti itu, bagi Anjar Erva itu miliknya dan laki-laki itu adalah masa lalunya dan tidak ingin baik Dokter Keenan maupun laki-laki lain terpesona dengan Erva.


"Bagus dek, ingat ya suami kamu ini itu cemburuan jadi jangan macam-macam dan jangan berbicara yang asal."


"Tapi aku suka loh dengan mas yang sekarang cemburuan dan posesif, tidak hanya diam saja."


Erva tidak takut setelah Anjar mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang dirasakan suaminya itu dan pastilah laki-laki mana,.suami mana yang mau mendengar kalau istrinya dikagumi oleh laki-laki lain tentu saja tidak ada.


"Ih serem, ayo mas jalan bukannya sebentar lagi Mas ada operasi di rumah sakit nanti terlambat."


Erva tersenyum setelah ia menikah dengan Anjar ia tahu bagaimana sifat dari suaminya itu yang pastinya apa yang dipikirkan salah ternyata Anjar tidak seperti yang orang lain pikirkan dan ajar bukan laki-laki yang dingin tetapi ajar itu laki-laki yang hangat yang pengertian yang mempunyai cinta dan kasih yang lebih untuk dirinya tetapi memang cara menyampaikannya cara memberikan perhatian dan kasih sayangnya itu yang berbeda namun Erva senang karena ia tahu kalau suaminya benar-benar mencintainya.


Beberapa menit kemudian mobil yang dilajukan oleh Anjar sudah sampai di parkiran Rumah Sakit tentu saja Anjar beserta Erva langsung keluar dari mobil untuk masuk ke dalam.


"Maaf Dokter, langsung saja ke ruangan operasi karena tiba-tiba jadwalnya diajukan."

__ADS_1


Anjar langsung mengangguk, ia tidak masalah dengan itu semua, dan Anjar juga tidak kaget dengan jadwal yang tiba-tiba diajukan, ia juga paham mungkin ada sesuatu kendala yang terjadi dan pastinya sekarang dirinya lebih aman karena sudah berada di rumah sakit dan Erva ada di sampingnya.


"Kamu ke atas sendiri nggak apa apa kan dek, aku harus ke ruangan sebelah."


Anjar mengatakan seperti itu yang pastinya ia tidak bisa untuk mengantarkan istrinya menuju ke ruangannya lebih dulu dan pasti untuk sekarang ini yang diutamakan adalah orang lain yang nyawanya berada di tangannya.


"Tidak masalah Mas, good luck ya."


Cup


Erva memang tidak mempermasakan semuanya ini dari dulu semenjak ia pacaran dengan Dokter Keenan, ia sudah paham jika resiko menjadi pasangan seorang Dokter memang begitu ada-ada saja waktu yang tersisa dan tiba-tiba mendadak karena harus segera ke rumah sakit dan Erva tidak mempermasalahkan.


Malah bersyukur mempunyai suami yang jiwa penolong dan dapat menolong orang lain.


Dan juga tanpa malu-malu Erva memberikan satu ciuman di pipi Anjar tentu saja setelah itu perempuan cantik itu langsung saja meninggalkan suaminya yang saat ini masih memaku di tempatnya dengan tangannya terulur untuk memegang pipinya yang baru saja dicium oleh Erva.


Anjar menggeleng, memang kelakuan istrinya atau begitu unik ada-ada saja bahkan di tempat umum seperti ini Erva tidak malu-malu untuk mencium pipinya.


"Sudah Pak Dokter jangan senyum-senyum terus nanti bisa dilanjutkan, kita harus segera ke ruangan sekarang."


Aris yang melihat Dokter Anjar senyum-senyum sendiri langsung saja menegur laki-laki itu tentu saja harus tidak mau kalau tetep ajar nantinya terlambat untuk ke sana.

__ADS_1


Anjar tidak mau menjawab tetapi laki-laki itu langsung saja melangkahkan kakinya untuk menuju ke sebuah tempat di mana memang dirinya sudah tertunggu di sana yang membuat Aris hanya menggelengkan kepalanya saja.


Ia sudah terbiasa dengan kelakuan Dokter Anjar seperti itu yang nyatanya memang laki-laki dingin itu tidak bisa mengekspresikan sesuatu tetapi entahlah hanya dengan Erva lah Dokter Anjar  bisa tersenyum dan bisa berbicara panjang dan lebar sementara dengan dirinya yang bertahun-tahun bersama dengan Dokter Anjar sama sekali tidak berubah sampai saat ini.


__ADS_2