
Satu minggu kemudian
Besok adalah tepatnya hari di mana pertunangan Keenan dengan Kinara dilangsungkan dan tentu saja semua undangan sudah tersebar karena tidak mungkin seorang Dokter Keenan yang terkenal itu tidak mengundang banyak orang, tentu saja Mami Arin juga tidak ingin acara pertunangan putranya itu hanya diam-diam saja beliau juga akan mengundang semua teman-teman dan juga kolega dari Papanya Keenan.
Hari ini semua undangan akan dibagikan tentu saja tidak ada satu orang pun yang tidak diundang oleh Mami Arin. Entah kenapa beliau sangat antusias sekali dengan pertunangan Keenan besok, hingga Mami Arin sendiri yang langsung turun tangan untuk mensukseskan acaranya besok begitu juga dengan undangan dan juga dekorasi yang akan digunakan besok malam itu.
"Keen, ini undangan yang akan kamu sebarkan nanti terserah kalau kurang nanti kamu bisa minta lagi."
Dengan malas Leemamymengambil undangan yang sudah diberikan oleh Maminya kemudian laki-laki itu duduk di sebelah Mami Arin dan entahlah mengapa hari ini ia tidak semangat sekali untuk pergi ke rumah sakit padahal semuanya sudah siap dan Keenan sudah rapi.
Keenan sudah mengambil undangan dari tangan Maminya tetapi ia masih melihat-lihat beberapa undangan yang masih tersebar di atas meja.
Entah mengapa Keenan tertarik untuk membuka satu persatu daftar nama-nama siapa yang akan diberikannya nanti tentunya bukan itu maksudnya Keenan sendiri ingin mengantarkan undangan kepada Erva bukan untuk pamer atau untuk apa tetapi ini adalah kesempatan baginya untuk bisa ketemu dan ngobrol panjang lebar dengan Erva.
"Mi undangan untuk Erva mana?"
Tentu saja yang dari tadi dicari adalah undangan untuk Erva. Ia bahkan sudah membolak-balik undangan yang ada di tangannya itu berulang kali tetap saja tidak ada nama Erva di sana.
"Ada sama Mami, kenapa?"
Keenan mendengus kesal, rupanya Mami Arin sengaja untuk memisahkan undangan Erva dan tidak memberikannya kepada dirinya tentunya Keenan ingin mengambil undangan itu dan memberikannya langsung kepada Erva.
__ADS_1
"Sini Mi, biar aku saja yang memberikan kepada Erva."
Entah apa yang dipikirkan karena saat ini yang jelas ia sudah kangen banget dengan Erva setelah 1 minggu tidak bertemu apalagi ngobrol yang panjang lebar dengan mantan pacarnya itu dan tentu saja kalau ia bisa mengantarkan undangan itu yang pastinya ia bisa melihat wajah cantik Erva dari dalam jarak dekat dan bisa ngobrol banyak dengan perempuan yang saat ini sudah menjadi istri orang.
"Tidak bisa biar Mami saja yang mengantarkan undangan ini kepada Erva."
Jelas saja Mami Arin bisa membaca apa yang ada di pikiran saat ini tentunya itu hanya pura-pura saja karena Mama Arin tahu pastinya Keenan ingin sekali bertemu dengan Erva.
"Mami nggak asik,.aku kan juga pengen ketemu dengan Erva, ayo Mi kasihkan undangan itu biar aku yang menemui Erva. Mami tau sendiri kan aku sudah menerima perjodohan ini dan juga bertunangan ini, Aku cuma minta untuk bertemu dengan Erva, Aku janji tidak akan macam-macam lagi pula untuk apa macam-macam pastinya Erva juga tidak mau lagi sama aku."
Yang pastinya Aku juga mau macam-macam terserah apa yang Erva katakan yang penting aku akan menemui Erva dan kalau bisa aku akan membawa kabur Erva,.aku tidak bisa untuk menerima perjanjian ini hatiku masih untuk kamu Erva...
Jelas saja apa yang dikatakan oleh Keenan itu tidak benar, lain di mulut lain juga di hati padahal Keenan sudah berencana untuk mengantarkan undangan ini kepada Erva. Entah di mana kalau bisa ia ingin mengajak ke temuan dengan Erva kemudian Keenan langsung saja merencanakan itu dengan membawa kabur Erva.
Tetapi mengapa sekarang berubah?
"Tidak bisa, biar Mami saja yang memberikannya kepada Erva, lagi pula Mami juga ingin ngobrol dengan Erva dan ingin jalan-jalan dengan Erva."
Mami Arin jelas menolak apa yang diinginkan oleh Keenan, langsung saja mengambil beberapa undangan yang salah satunya adalah undangan untuk Erva kemudian meninggalkan Keenan.
"Mi, jahat banget sih sama anaknya!!"
__ADS_1
Tetapi Mami Arin tidak peduli dengan teriakan Keenan ia langsung saja berlalu untuk keluar rumah karena pagi ini ia akan bertemu dengan Erva, tentu saja Mami Arin tahu kalau Erva saat ini ada di rumah karena tidak ada jadwal kuliah di kampus.
Ya Mami Arin memang sudah merencanakan untuk mengantarkan undangan ini langsung kepada Erva, tentu saja ia akan bertemu dengan Erva di rumah, tidak di cafe atau janjian di mall.
Bukan karena apa-apa, ini adalah undangan penting dan setidaknya untuk menghargai seseorang yang diundang Mama Arin juga harus memberikan dengan baik dan tentunya setelah mengantarkan undangan itu dan bertemu dengan Erva, Mami Arin akan mengajak Erva jalan-jalan yang pastinya ia ingin sehari ini ditemani oleh Erva.
Ya seperti dulu Mami Arin sudah menganggap Erva sebagai anaknya sendiri entah Erva jadi menikah dengan Keenan atau tidak yang jelas kasih sayang dari Mami Arin itu tidak pernah berubah untuk Erva, maklum saja Mami Arin tidak punya anak perempuan, hanyalah satu-satunya anak Mami Arin itu adalah Keenan.
Sebelum ke rumah Erva, Mami Arin terlebih dahulu mengantarkan undangan yang lainnya karena ia ingin ngobrol lama dengan Erva nantinya.
Mami Arin juga hari ini sengaja pergi dengan diantar sopir dengan harapan nanti Erva juga ikut dengan bersama dengan dirinya tanpa harus capek untuk menyetir sendiri.
Hingga beberapa jam kemudian Mami Arin memerintahkan Pak sopir untuk segera menuju ke kediaman Dokter Anjar dan pastinya kedatangan Mami Arin kesini adalah suatu kejutan untuk Erva karena beliau memang sengaja tidak menghubungi Erva terlebih dahulu tetapi sudah memastikan jika perempuan cantik itu masih berada di rumah dan tidak kemana-mana hari ini.
"Tante, kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?"
Erva yang kebetulan berada di luar rumah untuk menyiram tanaman kaget ketika melihat tante Arin yang tiba-tiba berdiri di depan tentu saja Pak satpam akan masuk untuk memberitahukan kepada Erva tetapi keburu Erva yang mengetahuinya lebih dulu hingga perempuan cantik itu langsung saja menuju ke depan untuk menemui tante Arin.
"Sengaja sayank, karena tante tahu kalau kamu pasti ada di rumah."
"Kalau gitu mari masuk tante, kita ngobrol di dalam dan aku buatkan minum dulu."
__ADS_1
Seperti waktu dulu sebelum hubungan Erva dengan Keenan berakhir, kedua perempuan cantik yang berbeda usia itu tentu saja masih bersikap biasa bahkan Erva sendiri tidak ada rasa canggung dengan tanda Arin karena ia juga sudah menganggap Maminya Dokter Keenan itu seperti orang tuanya sendiri yang pastinya mereka masih sama-sama saling menyayangi terlepas dari bagaimana Dokter Keenan telah menghianati dirinya tetapi Erva tidak masalah, yang salah adalah putranya bukan kedua orang tuanya.