
Satu Tahun Kemudian...
Hari ini adalah tepat acara kelulusan Sekolah Erva. Ke-dua orang tua Erva antusias untuk datang dan menyaksikan acara kelulusan putri tunggal nya.
Tidak mudah untuk Erva bisa menjalani hari hari selama satu tahun terakhir ini, hingga ia bisa menamatkan sekolah menengah atasnya dengan prestasi yang sangat membanggakan, bahkan Erva juga mendapatkan beasiswa untuk kuliah ke London.
"Selamat sayank, Papah dan Mamah bangga sama kamu..."
Peluk cium Papah Bram dan Mamah Hana untuk Erva, bangga karena putri cantik nya bisa mendapat prestasi yang luar biasa, yang kedua orang tuanya tidak menyangka sebelumnya, apalagi Erva sampai mendapatkan beasiswa ke London, sungguh prestasi yang sangat membanggakan.
"Terimakasihnya Mah, Pah... semua karena doa Mamah dan Papah...."
"Dan karena usaha kamu juga sayank, mau Pulang bareng atau masih ingin di sini??"
Acara memang sudah selesai, baik Papah dan Mamahnya Erva tidak memaksa Erva untuk pulang secepat nya, mereka paham betul dengan acara anak muda yang pastinya ingin merayakan kelulusan nya dulu di sebuah cafe sembari nongkrong.
"Nanti saja Mah, Tidak apa kan??"
Masih ingin bersama dengan teman teman nya, Apalagi suasana nya masih sangat ramai. Terakhir kali memakan seragam putih abu abu, dan bersama dengan tema teman nya, yang tentu saja banyak yang melanjutkan kuliah di berbagai kota maupun negara.
Setelah kedua orang tuanya pergi, Erva menghampiri teman teman nya, di sana juga ada Mona dan juga Romi.
"Selamat say, akhirnya apa yang lo inginkan terkabul juga, tetapi...gue sedih, bakal pisah dari Lo..."
Senang sekaligus sedih, apalagi Erva adalah sahabat terbaik nya Mona. Tetapi, Mona juga tidak bisa egois, hanya karena tidak mau berpisah dari Erva, ia menghalangi cita cita sahabat nya.
Yah, Mona sudah tau kalau Erva mendapatkan beasiswa kuliah di London dengan jurusan Kedokteran. Jadi Dokter adalah cita cita Erva sejak kecil, sejak SMP tentu nya, dan kini semua sudah di depan mata.
Erva menggeleng, ia duduk di samping Mona dengan pandangan mata lurus ke depan, menatap jalanan yang masih ramai dengan banyaknya mobil yang berlalu lalang.
"Gue tidak akan kemana mana, tetapi di Indonesia dan di Jakarta....".
"Serius???"
Mona tidak percaya, tetapi...Erva bukan tipe orang yang suka berbohong atau bicara semaunya saja, dan itu malahan membuat Mona semakin bingung dengan ucapan Erva.
"Iya, gue serius. Mau ngelanjutin di Jakarta saja..."
__ADS_1
Erva mantap mengambil keputusan, meskipun hal ini belum di bicarakan kepada kedua orangtuanya, tetapi...Erva yakin kalau kedua orangtuanya setuju dengan apa yang menjadi keputusan nya.
"Beasiswa Lo??"
Setau Mona, Erva mendapatkan beasiswa ke London dan bukan di Jakarta, dan kalau Erva kuliah di Jakarta...itu artinya.....
"Gue lepas. Gue mau kuliah di sini saja...."
"Yakin???", Erva mengangguk.
Yakin dengan keputusan nya, meskipun berat... tetapi.. hidup adalah sebuah pilihan...dan Erva akan menjalankan apa yang menjadi pilihan nya.
"Bukan karena gue kan??"
"Hahaha.... ngarang. Ya bukan lah...."
"Lalu??? sayang Loh Er...bukan nya jadi Dokter adalah cita cita Lo??"
Tidak ada air mata, dan juga tidak ada kesedihan.. meskipun ia harus kembali mengingat kejadian satu tahun yang Lalu.
"Ya, Lo benar. Jadi Dokter adakah cita cita gue, tetapi...itu sebelum sesuatu terjadi padaku...."
"Gue paham. Sorry, gue enggak peka...."
Mona memeluk sahabatnya, ia tau kalau Erva masih belum melupakan Dokter Keenan, meskipun sudah berusaha. Dan Mona paham sekarang, kenapa Erva tidak mengambil beasiswa nya, atau tidak mengambil kuliah Kedokteran, dan itu semua gara gara Dokter Keenan..
rg
"Santai saja, gue sudah move on...sudah satu tahun say...", bohong Erva.
Padahal, di dalam hati nya masih menyimpan nama Dokter Keenan meskipun itu masih tinggal sedikit yang tersisa.
"Oke...jadi .. kita bisa satu kampus?? atau...."
Mencoba untuk mengalihkan perhatian Erva, karena Mona tau setiap membicarakan tentang dunia kedokteran, Erva selalu teringat dengan Dokter Keenan. Yang membuat gadis itu tidak semangat lagi.
"Satu kampus lah, bahkan satu jurusan dan satu kelas....."
__ADS_1
Bukan hanya memutuskan untuk tidak menerima beasiswa di London, tetapi...Erva juga sudah memantapkan hati nya untuk melanjutkan kuliah di bidang ekonomi bisnis dan manajemen, yang akan meneruskan perusahaan Papah nya.
"Are you serius???"
Erva mengangguk, "Kapan gue bohong.."
"Ah Erva...Lo memang sahabat setia gue...."
Mona memeluk Erva, ia yang tadinya sedih karena mengira Erva akan pergi ke London, dan tidak bertemu dengan nya dalam kurun waktu yang lumayan lama, tetapi kenyataannya....tidak seperti apa yang dipikirkan.
Melihat keceriaan Mona dan Erva, Romi yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan matanya ke arah gadis itu, kini langsung mendekat.
Romi juga belum tau dengan keputusan Erva yang akan membatalkan beasiswa nya, sedangkan ia sendiri...sudah memantapkan untuk melanjutkan kuliah di Jakarta saja, sembari mengurus bisnis nya yang sedikit demi sedikit sudah berkembang pesat.
"Gabung donk, mau juga di peluk..."
Romi mendekat dan merentangkan tangannya, ingin ikut di peluk oleh Erva, tetapi... dengan cepat kedua gadis itu mendorongnya tubuh Romi..
"Enak saja, bukan muhrim!!!", ucap Erva yang sudah kembali ke mode sebenarnya, tidak sedih lagi.
"Mau di muhrim in Er?? aku siap dan sanggup???"
Erva terkekeh geli, ia menganggap ucapan Romi hanya bercanda saja dan tidak serius.
"Aku serius Ervania.....kita nikah yuk??"
Memang Romi serius, bahkan ia sudah merencanakan untuk melamar Erva sebelum gadis itu bertolak ke London, jika perlu malahan menikah saja...
Selama satu tahun ini, Romi sudah menjadi laki laki yang baik dan selalu ada untuk Erva, bahkan segala cara sudah ditempuh nya untuk bisa dekat lagi dan memulihkan kepercayaan Erva untuknya.
Dan Romi juga berpikir, kalau ini adalah saatnya untuk kembali mengatakan cinta dan kesungguhan nya kepada Erva, apalagi Erva kini tidak mempunyai pacar ataupun laki laki yang spesial.
"Jangan ngaco Rom. Oke... aku akui...kamu memang ganteng, baik dan juga sekarang jadi pengusaha muda yang sukses, tetapi.. sepertinya...aku belum siap untuk itu...ah....masih pengen main main deh....."
"Aku tau...jangan marah dan jangan menghindar, aku hanya tidak ingin kehilangan kamu, apalagi kamu akan pergi kau dari ku...."
"Astaga jadi itu... aku tidak akan kemana mana, aku akan tetap disini, bahkan ..kita akan kuliah bareng. Dan juga, kamu adalah sahabat ku, sama seperti Mona...jadi...."
__ADS_1
"Serius?? kamu enggak ke London??"
Dengan cepat Romi menjeda ucapan Erva, ia kaget dengan ucapan Erva barusan.