
Setelah melihat mobil Dokter Anjar keluar dari halaman rumahnya, Erva kemudian masuk rumah.
Gadis itu senyum-senyum sendiri sembari memegang keningnya yang baru saja mendapatkan ciuman dari Dokter Anjar.
Ini memang bukan pertama kalinya ia mendapatkan ciuman itu bahkan dengan Dokter Keenan lebih dari sekedar di kening malah sudah di bibir tetapi rasanya sangat beda dan mengapa saat ini terlihat lebih nyaman dan juga begitu terasa indah yang dirasakan oleh Erva saat ini.
Gadis itu langsung menuju ke atas tempat di mana kamarnya berada karena kedua orang tuanya juga belum pulang masih sibuk dengan urusannya masing-masing.
Erva langsung saja meredakan tubuhnya di atas kasur dia tidak ingin mandi tetapi ingin istirahat terlebih dahulu nanti saja kalau mendekati malam ia baru mandi supaya terlihat lebih fresh jika pergi dengan Dokter Anjar.
Masih dengan senyuman di wajahnya jika orang lain tahu maka airfast sudah dikatakan sebagai orang gila karena senyum-senyum sendiri dan tidak jelas senyuman kepada siapa.
Tetapi senyumnya tiba-tiba luntur manakala ia teringat dengan ucapan Dokter Anjar tadi.
"Brengssekkkk memang Keenan, awas saja kalau sampai ketemu. Bakalan aku unyet unyet itu mulutnya!!" kesal Erva.
Erva sangat kesal ketika mengingat apa yang dikatakan oleh Dokter Keenan. Semuanya itu salah, sejak kapan ia berhubungan badan dengan Dokter Keenan hanya sebatas pelukan dan ciuman saja tidak lebih dari itu.
Tapi mengapa laki-laki itu mengatakan kepada Dokter Anjar kalau dirinya sudah berhubungan badan dengan Dokter Keenan bahkan bukan hanya sekali tetapi sudah berkali-kali.
Tangan Erva terulur untuk membuka tasnya, mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya dan berkeinginan untuk menghubungi Dokter Keenan.
Ingin rasanya Erva marah-marah dan mengumpat kepada Dokter Keenan, karena sudah berkata tidak pada kenyataannya.
Gadis itu mengurungkan niatnya manakala ia teringat dengan ajakan nanti malam Dokter Anjar yang membuat suasana hatinya kembali senang.
"Tidak perlu, lagian tidak ada gunanya. Toh juga Dokter Anjar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Keenan buat apa lagi buang-buang waktu. Lebih baik aku istirahat saja biar nanti malah bisa segar dan tidak ngantuk lagi."
Erva memutuskan untuk tidak menghubungi determinan biarlah iya sementara seperti ini nanti kalau ketemu baru ia nabrak dan ia marahi Dokter Keenan.
Gadis itu memejamkan matanya sejenak sebelum nanti malam ia harus pergi ke rumah Dokter Anjar yang tentunya ini adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu karena Mamanya Dokter Anjar memanggilnya untuk makan malam.
__ADS_1
Tidak tau saja ja kalau yang mengundang dia makan malam itu bukan Mama nya Dokter Anjar tetapi melainkan Dokter Anjar sendiri yang ingin mengajak Erva makan malam.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Erva yang sudah cantik dengan dandanan yang pas sesuai dengan usianya sudah turun dari kamarnya.
Melihat Dokter Anjar sudah berada di ruang tamu dan tentu saja berbincang-bincang dengan Papah Bram dan juga Mama Hana.
Anjar melihat arah Erva, tentunya matanya tidak berkedip melihat kecantikan Erva malam ini sungguh tidak ada wanita yang lebih cantik lagi dibandingkan dengan Erva sekalipun Mamanya sendiri Erva jauh lebih cantik dari siapapun juga.
"Ayo Mas, aku sudah siap nanti keburu malam."
Erva yang tahu dirinya diperhatikan secara intens oleh Dokter Anjar langsung saja memotong pembicaraan antara Anjar dengan Papa Bram dan tentunya apa yang dikatakan oleh Erva itu benar, kalau mereka lama-lama ngobrol sudah dipastikan tidak segera ke rumah Dokter Anjar, tetapi malah menghabiskan malam di rumahnya sendiri.
"Kalau begitu aku permisi dulu om dan tante nanti akan mengantarkan Erva pulang."
"Iya nak Anjar hati-hati."
Erva dan Anjar keluar dari rumah dengan mereka yang langsung saja masuk ke dalam mobil Anjar.
"Kamu cantik sekali dek malam ini."
"Berarti aku kemarin-kemarin nggak cantik dong Mas."
"Bukan begitu tetapi kali ini auranya beda sekali apa jangan-jangan kamu tampil seperti ini karena ingin bertemu dengan Mama aku."
"Ya bisa dibilang seperti itu. Tidak mungkin aku berpenampilan yang biasa sementara Mama kamu cantik luar biasa seperti itu."
"Masih cantik kan kamu, dek. Mama sudah tua."
"Kalau masih muda kan cantik banget ya mungkin kalau aku nanti sudah tua juga mas bilang tidak cantik lagi."
"Hahaha kamu bisa aja. Yang jelas malam ini kamu sungguh luar biasa aku sampai pangling loh melihat kamu tadi."
__ADS_1
"Sama, aku juga kaget karena mendengar ucapan mas tidak menyangka kalau Mas itu bisa memuji seseorang."
"Memangnya kamu kira aku patung yang tidak tahu mana perempuan yang cantik atau tidak?"
"Buktinya sampai saat ini Mas juga belum menekan seseorang yang tepat bahkan belum nikah apa itu yang namanya Mas menang tidak bisa membedakan mana yang cantik mana yang tidak?" sindir Erva.
"Beda kalau gitu"
"Beda apanya?Mas saja yang membedakan tetapi sebenarnya sama."
Okelah mereka berlanjut hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Dokter Anjar sudah sampai di kediaman rumah mewah yang jaraknya memang lumayan jauh dari rumah Erva.
Dan tentu saja, ini adalah pertama kalinya erpan datang ke rumah Anjar. Ia juga tidak menyangka kalau bisa menginjakkan kaki di rumah mewah ini padahal dulu pertama kali ketemu dengan Dokter Anjar, Erva juga tidak yakin kalau akan bisa sedekat dengan laki-laki dingin itu.
"Ayok dek keluar kita sudah sampai." ujar Dokter Anjar kepada Erva yang melihat Erva dari tadi hanya bangun saja mungkin bingung dengan rumahnya Dokter Anjar saat ini.
"Iya Mas."
Eyva keluar dari mobil dan di depan pintu ternyata sudah disambut oleh Mama Risa.
Nggak menyangka kalau Mamahnya Dokter Anjar begitu antusias sekali menerima kedatangan Erva bahkan membela membelakan diri untuk menyambut di depan pintu yang entah sudah berapa lama beliau berada di sana.
"Malam Tante, maaf datangnya telat, tadi Mas Anjar diajakin ngobrol dulu sama Papah."
Apa yang memang gadia yang sopan, langsung saja menyapa Mama Risa dan mencium tangan wanita cantik yang ada di depannya kemudian memeluk erat ibu dari Dokter Anjar itu.
Begitu juga dengan Mama Risa, beliau juga memeluk Erva. Tidak menyangka kalau pada akhirnya putranya bisa membawa seorang gadis untuk dikenalkan kepada mamanya bahkan diajak makan malam.
"Tidak masalah, memang begitu kan pendekatan kepada calon mertuanya."
"Maksud tante?"
__ADS_1
"Tidak ada maksud apa-apa dek, ayo masuk jangan hiraukan ucapan Mama."
Anjar yang mendengar ucapan dari Mamanya langsung saja menjawab pertanyaan Mamah Risa atau tidak mau kalau Erva salah sangka dan terlalu terburu-buru menerima semuanya ini.