
"Jangan menatap ku seperti itu Mon??", protes Erva.
Erva sedari tadi memperhatikan Mona, ia tau kalau sahabat nya itu pasti memikirkan hal yang tidak tidak, dan tentu nya itu berkaitan dengan Dokter Anjar.
"Kenapa??? takut kalau ketahuan sedang memikirkan Dokter Anjar??", ledek Mona.
Yah, memang tidak salah. Mona sedari tadi memperhatikan Erva yang terus memandang ke arah Dokter Anjar sewaktu Dokter ganteng itu berada di sini, dan tentu saja ...pikiran Mona jadi ke mana mana, andai saja benar...ia tentu saja pasti akan senang.
Senang karena Dokter Anjar adalah laki laki yang baik, tampan dan kaya raya, beda dengan Dokter Keenan yang seorang penghianat dan sudah menyakiti Erva.
"Keluar yuk, gue ingin jalan jalan...bosan..."
Bagaimana tidak bosan, dari kemarin Erva hanya diam sendirian di dalam kamar, tidur...bangun.... tidur...makan, dan itu itu saja yang dilakukan nya tidak ada yang lain lagi.
Dan juga, Erva sengaja mengalihkan pembicaraan nya, supaya Mona tidak bertanya tanya lagi tentang Dokter Anjar.
"Hmm alasan, sengaja Lo mau hindari gue???"
__ADS_1
Tau saja apa yang dipikirkan Erva, dan Mona bisa menebak karena hafal betul dengan tingkah sahabatnya itu.
"Iya, dan gue juga bosan...yuk...siapa tau ketemu Dokter ganteng....", ajak Erva lagu sekaligus memberikan iming-iming kepada Mona sahabat nya, biasalah...kalau ada orang ganteng pasti Mona tertarik.
"Hayuk lah gass...."
Benar kan, Mona begitu semangat sekali untuk menemani Erva, ia juga ingin cuci mata...siapa tau ada Dokter yang lebih ganteng dari Dokter Anjar...yah kalau tidak ... sebelas dua belas dengan Dokter ganteng itu, asalkan sifatnya jangan seperti Dokter Keenan saja.
"Tapi sebentar...gue ambil kursi roda dulu..."
"Jangan!! untuk apa juga...gue masih bisa jalan Mom..!!", tolak Erva.
"Oh...mau digendong Dokter Anjar???", ledek Mona lagi yang membuat pipi Erva memerah.
"Apaan sih!!! mana ada begitu ..gue masih kuat jalan Mon...."
Erva masih kekeh dengan pendirian nya, bagi nya... memakai kursi roda itu sangat ribet dan tidak bisa bebas...apalagi ia masih bisa jalan.
__ADS_1
"Iya, kalau di sini saja....nanti pas jalan ke arah taman dan tiba tiba Lo pingsan...siapa yang akan nolong?? atau memang jalan jalan Lo beneran mau di gendong sama Dokter Anjar???"
Erva menggeleng, "Cepat ambil!!"
Tidak mau memperpanjang lagi, akhirnya Erva pasrah saja, daripada Mona ngoceh yang tidak tidak.
"Bentar, gue ke depan dulu...."
Mona keluar dari ruang perawatan Erva, dan ia kaget karena baru saja buka pintu...sudah ada Dokter Anjar. Rupanya, Dokter Anjar sedari tadi melihat Erva di depan pintu, tetapi...untuk masuk tidak berani... tidak punya alasan untuk masuk ke dalam, padahal...dalam hati Dokter Anjar, ia ingin selalu dekat dengan Erva.
"Dokter. .bikin kaget saja..."
Dokter Anjar tida menjawab, seperti biasa. ekspresi nya selalu dingin jika di depan orang lain, terlebih lagi wanita.
"Mau ikut kami enggak?? Erva mau jalan jalan...."
Sengaja, Mona ingin tau bagaimana reaksi Dokter Anjar. Ia ingin ngetes seberapa perduli nya Dokter tampan itu terhadap Erva.
__ADS_1
"Ke mana?? Erva masih perlu istirahat, jangan jauh jauh...."
Tepat, tebakan Mona benar adanya. Bukan hanya ingin tau ke mana pergi nya nanti, tetapi... Dokter Anjar juga khawatir dengan keadaan Erva, meskipun dengan ekspresi dingin yang tidak menyenangkan.