Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Gara gara KTP


__ADS_3

"Mau di luar saja??"


Ucapan Anjar sontak membuat Erva kaget dan ia langsung masuk ke dalam.


Setelah sampai di dalam, pandangan gadis cantik itu masih menelisik ke segala arah, mencari cari sesuatu yang seperti nya bisa menjawab rasa penasaran di dalam hatinya.


Apa dia seorang Dokter??? astaga...kalau iya, kenapa aku selalu berhubungan dengan Dokter?? meskipun hanya kenal saja....


"Jangan hanya melihat, nanti kamu nabrak. Duduk lah!!"


Entah mengapa nada bicara Anjar jadi lembut, tidak seperti tadi yang hawanya hanya marah marah saja.


"Om Dokter??? atau Om sakit??"


Erva duduk, ia masih melihat lihat ke sekeliling, masih mencari jawaban yang benar atas pertanyaan nya meskipun kemungkinan besar adalah benar.


Tidak ada jawaban dari Anjar, laki laki itu malahan duduk santai sembari mengambil KTP Erva dan membaca nya lagi


Masih ada waktu untuk sekedar mempelajari siapa gadis cantik yang berhasil merubah suasana hatinya.


Sedangkan Erva, tangannya tergerak untuk mengambil sebuah pigura yang di dalam nya ada foto seorang anak laki laki dan juga seorang wanita.


"Mamahnya Om??"


Tanya Erva lagi, ia masih melihat dan mencocokkan wajah di foto dengan wajah laki laki yang ada di depannya, dan itu sangat mirip.


"Ervania Beby Gunawan, umur 17 tahun kurang tiga bulan..."


Sepertinya aku mengenal nama belakang gadis itu?? Gunawan?? bukannya beliau adalah pengusaha sukses yang terkenal itu???


Bukannya menjawab pertanyaan Erva, Anjar malahan membaca identitas Erva, yang membuat gadis itu melongo dan sebel seketika.


"Hmm umur masih tujuh belas tahun kurang, belum punya SIM, tapi sudah bawa mobil dan kebut kebutan di jalan, nabrak lagi ...."


Menyebalkan sekali...kenapa malahan membaca identitas ku , bukannya menjawab pertanyaan saja.


"Hai Om tua!! siapa yang kebut kebutan, aku kan sudah bilang kalau aku tidak sengaja menabrak nya dan aku akan ganti rugi....apa kurang??? dan kenapa malahan aku di bawa ke sini, Om sebenarnya siapa sih???"


Erva menyolot tajam, gadis cantik itu tidak terima jika di katakan kebut kebutan karena tidak melakukan nya. Memang Erva akui kalau tidak begitu fokus, tetapi...tidak ngebut juga.

__ADS_1


"Kalau tidak ngebut lalu apa?? dan kenapa bisa menabrak?? ah .. dasar bocil yang meresahkan..."


"Bocil????"


Erva menggeleng, percuma saja kalau ditanggapi. Pasti tidak akan selesai dan bertambah panjang saja.


"Om....aku mau pulang, Om kan sudah tau nama dan alamat aku, kalau mau minta ganti rugi...Om bisa datang ke rumah, atau ke kantor Papah..."


Dengan pede sekali Erva mengatakan kantor Papahnya, padahal belum tentu juga kalau Anjar tau siapa Papah Bram itu


"Aku....."


Tok...tok....


Baru saja mau menjawab, ada yang mengetuk pintu ruangan Anjar.


"Masuk...."


Seorang perempuan berpakaian putih masuk ke dalam ruangan, dan langsung saja tersenyum ke arah Anjar.


"Dokter Anjar, pasien sudah siap.", ucap wanita itu dengan senyuman, entah apa yang membuat wanita itu senyum senyum tidak jelas.


Gila dan benar gila, seperti nya Erva memang sudah ditakdirkan untuk selalu dekat dengan Dokter, walaupun itu hanya sekedar kenal saja.


"Hmm ..."


Tidak ada jawaban lagi, seperti biasa..Anjar selalu dingin dan bicara seirit mungkin, tetapi kenapa dengan Erva tidak.


Dokter Anjar berdiri, ia lalu meletakkan kembali KTP Erva ke dalam sakunya, dan menghampiri gadis cantik itu.


"Tunggulah di sini!!", ucapnya dengan tatapan mata yang mematikan.


"Hah?? tapi Om?? aku laper..belum makan...", rengek Erva manja yang membuat ia semakin menggemaskan saja.


"Berani keluar, awas saja...KTP kamu ada sama aku, dan...kalau kamu lapar..ada makanan di lemari pendingin itu...", tunjuk Anjar dengan dagunya.


Dan setelah itu, Anjar pergi dengan meninggalkan senyuman yang entah apa itu artinya, yang sama sekali tidak pernah di lakukan nya jika di depan umum.


Tidak ada pilihan lain, Erva akhirnya pasrah saja. Lagipula, ia melihat Anjar tidak seperti laki laki yang jahat, apalagi dia seorang Dokter.

__ADS_1


"Dokter lagi Dokter lagi ....", guna Erva.


Kepalanya menggeleng, entah apa rencana kedepannya..ia bisa selalu dekat dengan seorang Dokter.


"Hmm... Dokter Anjar...."


Jujur Erva mengagumi wajah tampan Dokter itu, apalagi sikap dingin nya yang membuat setiap wanita penasaran ingin mendekati nya, tetapi... tidak Erva. Ia tidak akan melakukan itu, apalagi profesi nya Anjar sebagai Dokter.


Yah, Dokter lagi....dan itu mengingatkan Erva pada sosok mantan pacar nya dulu yang telah meninggalkan dan menghianati nya.


Ah..bukannya harus move on, ..pikir Erva lagi. Yang selama satu tahun ini, gadis itu mati matian untuk move on dan tidak memikirkan suami orang, dan meskipun perlahan lahan... tetapi...ia berhasil juga., walaupun masih ada sedikit rasa untuk laki laki brengseekkk itu.


Lapar....setelah kepergian Anjar, Erva berdiri dari duduknya. Gadis itu membuka lemari pendingin dan menemukan banyak nya makanan dan minuman yang ada di sana.


Tanpa ragu lagi, Erva mengambil beberapa makanan dan minuman, lalu memakannya dengan posisi sambil tiduran di sofa.


Beberapa bungkus makanan dan juga beberapa minuman kaleng sudah Erva habiskan. Kenyang, sudah pasti... hingga tanpa sadar...matanya tiba tiba berat dan perlahan lahan Erva menutup matanya.


...****...


Anjar sudah selesai melakukan operasi, dan semua berjalan dengan lancar. Laki laki itu mencuci tangan nya sembari tersenyum, yang membuat Dokter Sandi menggelengkan kepalanya, bingung dan juga kaget melihat perubahan teman nya yang tiba tiba tersenyum tanpa ada sesuatu yang lucu.


"Kenapa bro?? aku perhatikan dari tadi, kamu bahagia sekali".


Curiga, jelas... Dokter Sandi sudah lama mengenal Dokter Anjar, dan tidak pernah melihat Dokter Anjar tersenyum bahkan terlihat sebahagia itu.


Tidak menjawab, laki laki itu hanya melirik saja. Seperti biasa yang sering dilakukan oleh Anjar memang begitu.


"Astaga , jawab lah Njar... gila kamu!! kalau seperti ini , mana ada wanita yang dekat dengan kamu..."


Anjar tidak memperdulikan ocehan Sandy, ia langsung pergi begitu saja karena mengingat ada Erva yang saat ini sedang ada di ruangannya.


"Woe....malahan kabur! aku serius Njar!! kapan kamu nikahnya kalau seperti itu terus!!", teriak Sandy. Yang nyatanya ia sudah lama mengenal Anjar, tetapi tidak pernah mempunyai pacar, apalagi memperkenalkan calon istri.


Padahal, Anjar tidak trauma sama sekali, dan juga tidak anti wanita. Tetapi...mengapa tidak ada yang mau dengan nya.


Tampang ganteng, pintar dan juga kaya raya .. tetapi tidak ada satu pun yang nyantol di hati Anjar, padahal...sudah banyak wanita yang dijodohkan ataupun didekatkan dengan laki laki itu, tetapi..semuanya nihil.


Langkah kaki Anjar berhenti ketika sudah sampai di depan ruangan nya, entahlah...mengapa ia mendadak bingung dan juga grogi, padahal....yang dihadapi hanyalah seorang anak kecil yang baginya selalu merepotkan.

__ADS_1


__ADS_2