
Sebelumnya...
Anjar selesai melakukan operasi, ia yang didampingi oleh Dokter Rico langsung saja menuju ke ruangan, tentu saja untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak.
Dua laki laki itu memang susah terbiasa, kalau bukan Rico... pasti tidak ada yang berani masuk ke ruangan pribadi Anjar.
Setelah bersih semua, Anjar mengambil ponsel yang memang sengaja ia tinggalkan, niat hati ingin memberikan kabar kepada Erva di mana ia nanti akan bertemu untuk melakukan makan malam, tetapi ia sendiri dikejutkan dengan pesan yang masuk ke dalam ponsel nya.
Deg
Rahangnya mengeras, walaupun itu hanya sebagai foto saja tetapi Anjar sangat cemburu bahkan dadanya sakit, padahal itu foto sebenarnya bukan lah foto yang berbau mesra atau bagaimana, tetapi...kenapa hatinya sakit saat melihat itu.
Di dalam foto itu, Anjar melihat Keenan yang sedang memegang tangan Erva, dan juga terlihat Erva tersenyum sembari menatap ke arah Keenan.
Sungguh, hati mana yang tidak sakit melihat nya. Meskipun antara ia dan Erva belum ada kata cinta, tetapi...Erva sendiri sudah masuk di dalam hatinya, dan juga Erva adalah satu satunya perempuan yang bisa membuat Anjar luluh dan merasakan jatuh cinta di usianya yang hampir kepala tiga itu.
Bukan hanya itu saja, Erva juga menyuapi Keenan dan hal itu lagi lagi membuat Anjar memegangi dadanya...terasa sangat sakit dan sakit. Ia belum sepenuhnya berjuang tetapi sudah dikalahkan dengan kenyataan yang ada.
"Ada apa?"
Rico yang sedari tadi memperhatikan Anjar, bertanya karena ada sesuatu yang ia lihat tidak beres dari Anjar.
"Apa kamu sakit??", tanya nya lagi. Karena Anjar tidak menjawab dan melajang masih memandang ke arah ponsel.
Rico takut saja kalau Anjar kenapa kenapa, karena teman nya itu hanya diam saja, tidak sama sekali berkutik.
Srettt...
Terlalu lama menunggu jawaban dari Anjar, Rico yang tidak sabaran segera mengambil paksa ponsel yang saat ini masih ada di tangan Anjar dan melihat nya ....
Rico tersenyum, ternyata apa yang ditakutkan nya salah, teman nya tidak terkena penyakit yang mematikan, tetapi...bisa saja menjadi gila dan mati jika tidak ditangani secar serius....
"Cemburu??"
Anjar tidak menjawab, ia hanya mendongakkan wajahnya saja dan menatap ke arah Rico dengan tatapan yang sangat tajam dan tentu saja sangat mematikan.
__ADS_1
"Ini yang ngirim siapa?? ah .. sebentar .... seperti nya aku mengenal laki laki ini."
Mencoba mengingat dan melihat dengan jelas siapa yang ada di foto itu yang bersama dengan Erva. Yah, kalau Erva...Rico sudah jelas tau dan pasti.
"Bukannya ini adalah Dokter Keenan?? dan apa hubungannya dengan Erva??"
Rico bertanya lagi, ada apa hubungan nya Erva dengan Dokter Keenan yang seperti nya sangat dekat dan tidak seperti biasanya.
"Dia....."
Anjar akhir nya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dari kisah cinta Erva dengan Dokter Keenan, sampai pertemuan nya dengan Dokter Keenan beberapa hari yang lalu.
Rico mengangguk paham, apalagi ia tau latar belakang masalah nya, dan bisa melihat kalau Dokter Keenan ingin kembali memiliki Erva.
"Lalu siapa yang mengirimkan foto itu?? bukan Erva kan?"
"Dokter Keenan, dia yang mengirimkannya foto itu.", jawab Anjar jujur.
"Jangan khawatir...dia hanya ingin melihat kamu cemburu, marah bahkan berhentilah untuk mendekati Erva, itu adalah taktik dari dirinya sebenarnya...apalagi ia yang ingin kembali kepada Erva pastinya ingin melalui segala cara untuk mendapatkan Erva kembali.
"Lalu aku harus bagaimana??"
Rico melongo, ini adalah pertama kalinya laki laki itu meminta saran padanya bahkan bercerita panjang san lebar.
"Maju terus pantang mundur...jangan mau kalah dengan Keenan, dia bisa melakukan itu, kamu juga bisa...itu kalau kamu mencintai Erva dan ingin memiliki nya, tapi kalau tidak.... lepaskan Erva, jangan pernah memberikan harapan palsu kepada perempuan..."
Sedikit petuah dari Rico membuka mata hatinya tergerak...ia memang belum menyatakan cinta pada Erva, tetapi ia sudah yakin dengan hatinya ..yang sangat menginginkan gadis itu.
"Kesempatannya tidak akan datang dua kali bro!! kamu tau sendiri bagaimana Erva membenci Keenan bahkan tidak ingin kembali lagi dengan dia .."
"Aku tau!!"
Anjar lega, setelah ia bercerita dengan Rico..hatinya kembali menghangat meskipun itu Hanau sebentar saja, tetap saja pikiran menuju ke arah Erva yang mungkin saat ini masih ada di Rumah Sakit.
"Hubungi Erva, katanya kamu akan dinner dengan nya..."
__ADS_1
Anjar mengangguk, ia lalu mengirimkan pesan untuk Erva di mana nanti malam akan ketemuan.
Send
Pesan itu terkirim, tetapi tidak Erva baca namun terlihat online...Anjar yang penasaran segera menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan telpon, tetapi hingga panggilan ke lima , masih saja di tolak dan akhir nya nomer Erva tidak bisa dihubungi.
"Gue pergi dulu.", ucap Rico yang memang ada janji setelah ini dan terpaksa meninggalkan Anjar sendirian.
"Iya, dan terimakasih."
Rico mengangguk , ia meninggalkan Anjar seorang diri yang mungkin lagi merenungi nasibnya.
Anjar melihat jam, yang ternyata sudah hampir malam dan ia harus segera pulang dan keluar lagi.
Masih bertanya tanya, kenapa Erva malahan mematikan ponsel dan sama sekali tidak menjawab apalagi membalas pesan yang dikirimkan nya.
"Mungkin sibuk karena ulah laki laki itu!!"...
Yah, Anjar berusaha bersikap tenang dan tidak terpana dengan keadaan, di mana memang pikiran nya saat ini terbagi.
Satu jam kemudian...Anjar sudah tiba di sebuah restoran yang berada tidak jauh dari Rumah Erva...memang sengaja tidak menjemput karena pasti Erva tidak mau.
Menunggu, itulah yang dilakukan oleh Anjar saat ini. Ia juga mengambil ponsel dan menelpon Erva, tetapi ponsel Erva dalam keadaan mati dan hanya suara operator berisik saja yang ada
Satu Jam,
Dua jam
Hingga tiga jam akhirnya Anjar menyerah. Hari sudah sangat malam dan ponsel Erva tidak bisa di hubungi...hingga Anjar memutuskan untuk pulang saja dan tidak berniat untuk menunggu Erva lagi.
Anjar keluar dari restoran itu dengan perasaan entah, dan tidak tau apa yang dirasakan saat ini. Antara kecewa dan kesal, bahkan Anjar sudah berpikir kalau Erva akhir nya kembali lagi dengan Keenan.
Anjar memejamkan mata, ia harus menyerah kalau sudah seperti ini. Bahkan, dirinya saja belum berjuang tetapi harus pasrah dan berhenti sampai di sini.
Mungkin, yang ada di pikiran Anjar saat ini ia harus benar benar merelakan Erva dan berhenti mengharapkan gadis itu.
__ADS_1