
"Lagi apa sayank??"
Seperti janji nya kemarin sebelum berangkat, Keenan selalu melakukan panggilan video call dengan calon istri nya, Ervania., dan ini sudah dua hari Keenan di Jerman.
"Belajar Mas, mau mikirin Mas tapi enggak lah, nanti Mas malahan enggak konsen, Mas lagi apa??"
Erva meletakkan bolpoin nya, mencari posisi yang paling enak untuk digunakan berselancar maya dengan Keenan, laki laki yang saat ini ada di dalam hatinya.
"Mau persiapan, satu jam lagi ada Seminar...."
Keenan tersenyum, hanya melihat wajah cantik Erva saja membuat nya bahagia, meskipun tidak di pungkiri kalau dirinya saja ini kangen dengan gadis kecil pemilik hatinya.
"Lama Mas??"
Selalu itu yang di tanyakan, padahal kalau di sini malam di sana adalah lagi atau siang, jadi... pastinya Keenan sibuk, Erva yang sudah santai.
"Seperti kemarin sayank, kamu tidur saja dulu, nanti setelah setelah, Mas hubungi lagi...."
Erva hanya mengangguk, dan setiap malam selama dua hari ini memang itu yang dilakukan Keenan dan Erva.
"Ya sudah lah, Mas tutup dulu...love U sayank...."
Sebuah ucapan manis yang keluar dari bibir Erva membuat hari hari nya semakin semangat saja, dan tentunya bahagia...
"Love U too Mas, hati hati dan cepat lah pulang...."
"Iya sayank...."
Dan panggilan video call itu terputus. Erva meletakkan ponsel nya di samping bantal, entah kenapa setiap Keenan selesai menelpon..hatinya semakin tidak karuan, entahlah....apa perasaan kangen yang melanda atau memang ada sesuatu yang akan terjadi.
Tidak ingin berpikir yang lebih jauh lagi, Erva memutuskan untuk tidur saja, dan pastinya nanti akan bangun ketika Keenan menelpon.
...****...
Jerman
__ADS_1
"Sudah siap Dim??"
Sengaja memang Keenan membawa Dimas untuk ikut ke sana, karena ia tidak mungkin berangkat sendiri, mengingat setiap hati Dimas lah yang selalu membantu nya.
"Siap Ken, Dokter Vikky juga sudah di sana.."
"Oke...."
Keenan segera berangkat ke sebuah Rumah Sakit yang menjadi acara seminar pagi ini, di sana ... Keenan sudah melihat Dokter Vikky dengan asistennya yang sudah siap dengan materi yang akan di bawakan nya
"Maaf Dok, terlambat....", ucap Keenan yang tidak enak dengan laki laki yang sudah tidak muda lagi tetapi masih terlihat gagah dan juga tampan.
"Tidak masalah, acaranya masih lama..ada sedikit keterlambatan dari pihak Rumah Sakit ini...Oh ya, kemarin itu pacar kamu??"
Dokter Vikky memang sempat melihat Keenan diantar oleh seorang gadis cantik yang mungkin seumuran dengan putrinya, dan tentu saja...hal itu mengingat kan diirinya dengan kisah beberapa belas tahun yang lalu.
"Bukan Dok, tetapi....calon istri saya..."
"Calon istri???", Dokter Vikky menggeleng dengan ekspresi yang sulit di tebak.
Keenan merasa insecure sendiri, pasalnya ia melihat istri Dokter Vikky yang sangat cantik, begitu juga putri putri nya.
"Bukan begitu....kamu mengingatkan aku dengan istri ku ...yah beberapa belas tahun yang lalu, aku juga seperti kamu, mencintai gadis remaja yang masih dibawah umur, bahkan aku menikahi nya saat umurnya belum genap tujuh belas tahun....", curhat Dokter Vikky sembari tersenyum, mengingat betapa gilanya ia menikahi gadis abege yang masih labil.
"Oh ya, pantesan istri Dokter masih terlihat sangat muda dan masih sangat cantik....", puji Keenan.
Tatapan Dokter Vikky beralih ke arah Keenan, rupanya sampai saat ini, ia masih tidak suka jika ada yang memuji istrinya.
"Eh maaf....bukan maksud aku Dok, hanya saja..."
"Ah sudahlah....aku maafkan. Menjalin hubungan dengan gadis remaja itu gampang gampang sudah, tetapi banyak senang nya...apalagi kalau dia adalah tipe gadis yang manja, dan otomatis...kita merasa di perlukan olehnya....."
Keenan mengangguk, memang ia sudah bisa membandingkan antara dulu pacaran dengan Amira dan dengan Erva, perbedaan nya sangat jauh sekali...dan bersama Erva, ia merasa dihargai sebagai seorang laki laki dan juga sangat dibutuhkan....
Ah, mengapa aku jadi ingat Amira???
__ADS_1
"Tetapi, kalau dia sudah marah dan sakit hati...jangan harap akan cepat memaafkan, bahkan sampai kapanpun rasa sakit itu akan tetap diingatnya, meskipun hanya sedikit saja.", lanjut Dokter Vikky lagi.
Keenan hanya tersenyum, kalau soal yang kedua ini, Keenan belum pernah merasakan, karena selama pacaran dengan Erva, ia tidak pernah membuat gadis itu bersedih ataupun sakit hati.
...***...
Acara seminar sudah berlangsung, di mana Dokter Vikky dan Dokter Keenan bergantian untuk memberikan materi hari ini, tentu saja tidak perlu diragukan lagi otak mereka yang memang sebelas dua belas pintarnya.
Hingga ...siang hari, saat ini istirahat. Dokter Keenan lebih memilih untuk kembali ke hotel menjumpai istrinya, sedangkan Keenan dengan Dimas memutuskan untuk mencari makan siang di restoran yang dekat dengan Rumah Sakit, malas juga bolak balik.
Keenan dan Dimas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan di mana tadi acara seminar itu berlangsung. Dua laki-laki tampan itu langsung saja meninggalkan Rumah Sakit, untuk menuju ke restoran yang berada di sebelah Rumah Sakit saja, menghemat waktu dan tenaga.
Amira???, ucap Keenan dalam hati.
Laki laki itu menghentikan langkah kakinya sebentar, untuk memastikan apa yang dilihat nya adalah benar.
Yah, sosok Amira...mantan tunangan yang sudah satu tahun yang lalu meninggalkan Keenan, bukan... lebih tepatnya Keenan yang meninggalkan nya.
Matanya masih jelas mengingat sosok cinta pertama yang saat ini mungkin masih ada di dalam hatinya, yah...tidak salah lagi...yang tadi dilihat nya adalah Amira.
Amira?? ada apa dia di sini???
Penasaran dengan apa yang dilakukan oleh mantan kekasih nya di Rumah Sakit ini. Dokter? bukan..Amira tidak mengambil kuliah di jurusan kesehatan, tetapi... Keenan tau kalau Amira dulu nya kuliah di Jerman dan tidak menyangka akan bertemu lagi di sini.
Rasa penasaran semakin menghinggapi Keenan, manakala ia melihat Amira masuk ke ruang perawatan. Siapa yang sakit?? pikir Keenan saat ini.
"Ada apa??"
Dimas yang sedari tadi melihat gelagat aneh Keenan yang bisa mengikuti arah pandang sahabat sekaligus Bosnya itu, tetapi sayang sekali....ia tidak menemukannya apa apa.
"Oh tidak...hanya saja aku seperti melihat seseorang...", ucap Keenan yang tidak ingin jujur, tau sendiri bagaimana sahabat nya itu kalau sudah menyangkut tentang Amira...
"Siapa???", Dimas kepo dengan apa yang dilihat nya, pasalnya Keenan jarang bahkan hampir tidak pernah melihat seseorang dengan tatapan yang tajam seperti tadi.
"Ah lupakan saja, aku sudah lapar."
__ADS_1
Bukan tidak ingin jujur, hanya saja Keenan sendiri belum sepenuhnya yakin kalau yang dilihat nya itu tadi Amira, belum lagi Dimas yang dari dulu tidak menyukai Amira, yang membuat Keenan jadi ragu untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.