Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Kabar


__ADS_3

"Kapan aku bohongnya???"


Antara senang dan juga sedih yang Romi rasakan saat ini. Di satu sisi, Romi senang karena tidak kehilangan Erva, meskipun status nya saat ini hanya lah teman baik Erva saja tidak lebih.


Dan sedih, karena pastinya Romi tau kalau hati Erva masih belum bisa melupakan sosok Dokter Keenan.


"Tidak ada, ah.... seperti nya kita harus merayakan nya.... tetapi sayang sekali, tidak bisa sekarang karena aku ada urusan penting...."


Bahagia, tentu saja. Bahkan Romi sampai tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Erva. Dan ia ingin merayakan nya tetapi bukan sekarang waktunya.


"Hmm yang sudah jadi pengusaha sukses....", ledek Erva.


Senang juga karena kini Romi sudah berubah, bukan seperti dulu lagi.


"Dan kamu Nyonya Romi pengusaha sukses itu...."


Romi berdiri dengan mengacau rambut Erva, kemudian laki laki itu langsung meninggalkan kedua gadis cantik dan menghampiri mobil nya.


Sedangkan Erva, ia hanya menatap ke arah Romi. Bukan karena masih mencintai laki laki itu, tetapi....Erva hanya salut saja dengan pengorbanan Romi, yang sampai saat ini masih gigih mengejar nya.


"CLBK lagi?? cie....."


Melihat Erva yang masih menatap ke arah Romi, membuat Mona meledeknya. Padahal jelas-jelas Mona tau kalau Erva sudah tidak ada rasa dengan Romi lagi.


"CLBK apanya??? gila!!!"


"Hahahaha.....jangan sewot begitu, mendingan kita cabut saja, cari makan atau apa gitu.....", tawar Mona yang sudah melihat Erva memanyunkan bibirnya.


"Yuk,. cabut!!!! lapar gue!!!"


Baru saja mereka berdiri, nampak dari kejauhan seorang laki laki datang mendekati dua gadis cantik itu.


"Erva!!!!"


Tidak membalas teriakan, Erva malahan bengong sendiri melihat ke arah laki laki yang kini semakin dengan dengan nya.


"Kak Dimas?? kok bisa??"


Tidak percaya, bahkan Erva mengucek matanya berulang ulang untuk melihat dengan jelas, laki laki yang ada di depannya. Apakah benar dia itu Dimas atau tidak.


"Bisa lah , kan aku fans kamu... selamat ya calon Bu Dokter...."


Dimas menyerahkan buket bunga kepada Erva, dan Erva laki menerimanya, tetapi...wajahnya agak sedikit manyun mendengar ucapan Dimas.

__ADS_1


"Terima kasih, tetapi aku tidak suka ucapkan Kakak yang terakhir itu.."


Erva menerima bunga, kemudian duduk lagi. Tidak enak rasanya bicara sambil berdiri. Sedangkan Dimas, hanya menggeleng. Ia belum paham betul dengan ucapan Erva, karena sebenarnya Dimas tau betul apa yang di cita citakan oleh Erva.


"Loh kok??"


Bingung juga , ada apa dengan Erva?? satu tahun tidak bertemu dan hanya berkomunikasi lewat telpon dan media sosial saja, itupun juga jarang. Paling paling satu Minggu sekali, itu juga kalau ingat.


"Pasti Kak Dimas sudah dengar kalau aku dapat beasiswa ke London??", Dimas mengangguk


"Lalu?? bukan kah itu yang kamu inginkan?? kuliah di saja, lalu pulang pulang jadi seorang Dokter???"


"Hmm pertanyaan yang sama. Harusnya aku adakan konferensi pers saja, supaya enggak satu satu jawabnya.....dan aku akhir nya memutuskan untuk tidak mengambil nya, pindah haluan lah...."


"Pindah haluan??? ya ya aku paham, dan kamu tidak berubah ya, tetapi...tambah cantik...."


Gemes sendiri, satu tahun tidak bertemu dengan Erva, eh sekali nya bertemu masih sama sifatnya.


"Gombal, gini nih kalau bertemu dengan seorang Casanova. Betewe...belum tobat Kak??"


Dimas menggeleng, "Belum ketemu yang cocok, kalau sudah ketemu...aku akan tobat hahahaha .."


"Sudah aku duga, tapi...lebih baik lah.... daripada berkomitmen nyatanya mengingkari....."


Tanya Dimas langsung, sengaja memang...ingin melihat sampai sejauh mana Erva melupakan Keenan. Yang malahan di bela belain untuk tidak mengambil kuliah jurusan yang sama dengan Keenan.


"Iya, teman Kak Dimas memang menyebalkan!!! hahahaha ...."


"Hahahaha....bisa saja kamu, menyebalkan seperti itu juga dulunya kamu cinta, atau malahan sampai sekarang???", goda Dimas lagi


Sengaja, supaya Erva bisa menjadi gadis yang kita dengan banyak godaan tentang kisah Dokter Keenan.


"Tidak baik mencintai suami orang.... lagian aku juga sudah move on..."


"Oh.......enggak mau tau kabar Dokter Keenan???"


Erva tersenyum, ia menoleh ke arah Dimas. "Boleh Kak, sudah satu tahun aku tidak mendengar kabarnya,"


"Bukannya tidak mendengar, kamu yang menolak utama mendengar kabar, bahkan nomer Keenan juga kamu blokir, sosial medianya juga...."


"Biar aman, takut nya tangan nya gatal ingin menghubungi nya, tidak baik lah...nanti di kira aku mau jadi pelakor, ogah!!!"


"Kalau pelakor nya kamu, aku sih mau mau saja hahahaha ....."

__ADS_1


Mereka tertawa, tetapi setelah itu ke-dua nya malahan sama sama saling diam, hingga Dimas melihat jam ditangan nya.


"Kabar Keenan, entahlah!! aku juga tidak tau..."


Setelah pernikahan Keenan, Dimas juga langsung pergi ke Bandung, ia memutuskan untuk mengundurkan diri jadi asisten Keenan, dan lebih memilih untuk meneruskan Perusahaan Papahnya.


Selama satu tahun ini, hanya beberapa kali Dimas berhubungan dengan Keenan, itu pun hanya sebatas lewat pesan singkat saja, dan hanya tanya kabar ... tidak lebih.


"Kok bisa???"


Erva bingung, ia tau kalau Dimas sudah tidak kerja lagi dengan Keenan, tetapi bukannya mereka berdua adalah best friend, meskipun jarak Jakarta Bandung yang tidak begitu dekat tetapi juga lumayan.


Apa tidak ada waktu untuk bertemu?? pikir Erva seperti itu, yang memang tidak tau di mana sekarang Dokter Keenan berada.


"Bisa lah.. dia sibuk aku juga sibuk."


Dimas sebenarnya tidak berbohong, dan memang ia yang satu tahun terakhir ini sibuk mengurus bisnis Papahnya, hingga ia dapat mendidik perusahaan nya sendiri di Jakarta.


Dan untuk maslahat Dokter Keenan, Dimas yakin kalau sampai saat ini, Erva tidak tau tentang kepergian Dokter Keenan dari Indonesia, dan pastinya laki laki itu juga tidak mau memberi tahukan.


"Oh...."


Hanya itu yang bisa Erva ucapkan. Padahal sejatinya ia ingin sekali Erva menanyakan kabar tentang Keenan sedetail detail nya, tetapi... seperti nya tidak mungkin.


"Ya sudah kalau begitu, kapan kapan kita bertemu lagi, aku masih ada urusan...."


Dimas melihat lagi jam yang melingkar di tangannya, sebentar lagi ia ada meeting penting dengan klien.


"Balik Bandung lagi???"


Erva pikir, Dimas ke sini hanya untuk menemuinya saja, lalu kembali ke Bandung.


"Bukan, di Jakarta. Oh tidak...saking sibuknya kamu melupakan mantan, hingga tidak tau kalau aku sudah kembali ke Jakarta satu bulan yang lalu Er....bahkan perusahaan Papah kamu juga ikut kerjasama dengan Perusahaan aku loh...."


"Ah payah kamu Er.... segitunya menyibukkan diri...", ledek Dimas lagi.


"Apa?? bukan seperti itu Kak, aku hanya sibuk belajar saja, ah...Kak Dimas juga payah..tidak ngabarin aku...takut kalau minta aku traktir???"


"Siapa takut...tapi jangan sekarang...aku tidak bisa, lain kali saja Er....."


"Oke lah, sukses Kak....."


"Makasih, sama sama Er."

__ADS_1


Dimas berdiri, kemudian mengacak rambut Erva lalu pergi meninggalkan Erva dan Mona, seperti yang dilakukan oleh Romi tadi.


__ADS_2