
"Ya sudah kalau begitu aku tidak akan nanya."
"Eh ngambek , gitu aja ngambek. Ingat Mas sudah tua nanti ubanan lo!!'
"Lah kalau tua kan memang ubanan, kecuali kalau ubannya ditutupin semir rambut, itu beda lagi..."
"Hahaha ternyata Mas bisa bercanda juga aku pikir Mas itu orangnya dingin dan tidak bisa diajak bercanda tapi ternyata...."
"Diam dek, jangan mentertawakan aku nanti aku bisa berubah jadi singa yang akan menerkam mu..."
"Takut.... kalau gitu aku kabur aja ah!!"
"Mau kabur ke mana? kabur ke tempat calon suami kamu? deket tuh rumah sakitnya mengapa tadi tidak minta bantuan sama dia saja??"
"Eh...."
Tiba-tiba ekspresi wajah Anjar menjadi menyeramkan entah kenapa mood-nya berubah ubah saat ini.
Laki-laki itu yang sedari tadi bisa tertawa dan ngobrol santai dengan Erva, mengapa tiba-tiba malah terlihat menyeramkan dan langsung menyinggung tentang Keenan, ya yang dimaksud calon suami Erva adalah Kenan.
"Calon suami?sejak kapan aku mempunyai calon suami???"
"Oh ya pasti Mas percaya dengan berita yang beberapa waktu lalu tersebar kan??" lanjut Erva lagi.
"Mana mungkin aku tidak percaya beritanya tersebar kemana-mana dan itu Dokter Keenan sendiri yang mengatakan kalau kamu dan dia sudah bertunangan bahkan akan menikah..."
Erva menggeleng , tetapi ia langsung tersenyum, berarti dengan ekspresi wajah Anjar seperti ini ia sudah menebak kalau laki-laki yang ada di depannya saat ini sedang cemburu, tetapi mana mungkin seorang Anjar bisa mengatakan kalau dirinya sedang cemburu.
__ADS_1
"Minggu depan? iya kan yang di berita itu mengatakan kalau aku dan Dokter Keenan akan menikah, dan minggu depan berarti sekarang dong..... tapi kenapa aku saat ini malah bersama dengan Mas kalau memang berita itu benar, pastinya aku tidak dengan Mas di sini...."
Anjar diam, ia mencoba menerima apa yang didengarnya dari mulut Erva meskipun Erva belum mengatakan kejelasan tentang hubungannya dengan Dokter Keenan tetapi dari bicaranya ia sudah menebak kalau berita itu tidak benar.
"Pastinya kalau aku jadi menikah dengan Dokter Keenan, tidak mungkin Mas tidak akan kuberikan undangan, mungkin kalau undangan itu bukan ditujukan kepada Mas tetapi pastinya Mama aku memberikan undangan itu kepada Mamanya Mas , benar tidak??"
Bener juga apa yang dikatakan oleh Erva dan ucapan Erva itu sama persis yang dikatakan oleh Mamah tadi.. mungkin kalau Erva yang sudah menikah , ia tidak akan keluyuran seperti ini dengan Mamanya bahkan undangan pun tidak tersebar ah iya aku sudah berpikiran negatif dulu kenapa dari dulu tidak k aku tanyakan....
"Berarti kamu dan Dokter Keenan??"
Sebuah pertanyaan bodoh yang diucapkan oleh Anjar, bukannya tadi pernyataan Eeva sudah jelas mengapa masih harus ditanyakan lagi....
"Sudah aku katakan dari dulu, aku tidak akan balikan lagi dengan Dokter Keenan. Bagaimanapun dia memintaku untuk kembali lagi padanya aku tetap tidak akan merubah keputusanku."
"Meskipun di dalam hatimu masih ada nama dia??"
Anjar mengangguk pelan meskipun sebenarnya ada sedikit rasa sakit di dada ketika ia tahu kalau di dalam hati Erva masih menyimpan nama Dokter Keenan, tetapi memang itu kenyataannya.
Dan bukan baru kali ini Anjar mengetahui kalau Erva masih menyimpan rasa kepada Dokter Keenan, tetapi jauh sebelumnya setelah ia mengenal Erva lebih lanjut, ia tahu kalau Erva masih menyimpan rasa kepada laki-laki itu dan Erva juga sudah jujur kepada Anjar.
Anjar sadar kalau cinta itu memang tidak bisa dipaksakan, ia juga tahu cinta tulus Erva kepada Keenan bahkan setelah Erva tersakiti oleh Keenan, Erva begitu susah untuk melupakan Keenan.
Tetapi dengan ucapan Erva yang baru saja didengarnya , Anjar punya kesempatan untuk bisa menguasai hati Erva , untuk bisa mengeluarkan nama Keenan di dalam hati Erva, Erva sudah memutuskan untuk tidak menerima Keenan dalam keadaan apapun.
Di sinilah ketulusan cinta Anjar diuji, Anjar harus benar-benar membuktikan kalau dirinya memang sangat mencintai Erva dan ingin memiliki Erva sebagai pendamping hidupnya.
"Kalau boleh tau, laki-laki seperti apa yang bisa menggantikan Dokter Keenan?? padahal Dokter Keenan itu adalah laki-laki yang sempurna baik fisik maupun juga materi, dia memiliki segalanya tentu saja selain ganteng, Dokter Keenan juga kaya raya."
__ADS_1
Erva tersenyum, andai yang dihadapi bukan Dokter Anjar, pastinya ia sudah memukul laki-laki itu tetapi yang dihadapi sekarang adalah Dokter Anjar, Dokter yang sebetulnya tidak ingin bercanda dan setiap pertanyaannya mengandung makna yang serius.
"Aku tidak butuh laki-laki yang neko-neko, cukup ya baik, setia dan tidak memiliki masa lalu yang nantinya akan merusak masa depan."
Cukup simple saja pendamping hidup Erva saat ini. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, ia tidak akan mengharuskan laki-laki itu harus tampan atau kaya raya , karena yang menjadi titik poinnya di sini adalah masa lalu.
Bagi Erva, masa lalu itu sangat menyakitkan... terlebih ia sudah pernah mengalami mencintai seseorang yang masih terikat dengan kenangan masa lalunya yang akhirnya membuat hubungan percintaan kandas.
Maksud dengan apa yang dikatakan oleh Erva, Anjar pun tersenyum. Ia adalah laki-laki yang ada dalam kriteria hidup Erva saat ini , yang tidak punya masa lalu.
Sedangkan Erva, setelah mengatakan itu ia melihat melihat ke arah Anjar dan berpikir jika seandainya laki-laki itu saat ini menembaknya maka Erva akan menerima.
Tetapi yang namanya laki-laki dingin pastinya tidak semudah itu untuk mengucapkan kata cinta, dan Erva akan menunggu sampai akhirnya Anjar yang mengatakan perasaannya perasaan pada dirinya.
"Kalau kriteria perempuan yang sesuai dengan hatinya Mas Anjar bagaimana?"
Tentunya Erva penasaran dengan kriteria perempuan yang diinginkan oleh Anjar. Karena sampai saat ini laki-laki yang ada di depannya itu belum sama sekali mempunyai pacar dan entahlah apakah Anjar itu normal atau tidak.
Apa Anjar memang benar-benar selektif untuk memilih calon istri dan pendamping hidup hidupnya atau ada sesuatu yang lain yang membuat Anjar tidak mudah jatuh cinta dan belum mempunyai pasangan sampai saat ini.
"Aku sama seperti kamu, simple saja yang sekiranya cocok di hati aku yaitu nanti akan jadi istriku."
"Masa'?"
Jelas saja Erva tidak percaya, kenapa kriterianya bisa sesimpel itu. Kalau hanya itu saja pastinya sudah dari dulu Anjar sudah menemukan pendamping hidup tetapi mengapa sampai saat ini belum menemukan pasangannya.
"Iya, enggak percaya?"
__ADS_1
Bukan masalah percaya atau tidak tetapi aneh saja mengapa tidak ada spesifikasi dari perempuan yang akan dijadikan istri malahan yang penting hanya nyaman dan nyantol di hati saja.