Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Cantik


__ADS_3

"Cantik."


Itu yang diucapkan oleh Dokter Anjar ketika melihat Erva yang sudah keluar dari tempat di mana ia mencoba gaun pengantin rancangannya sendiri.


Ternyata benar aura kecantikan Erva terpancar manakala menggunakan gaun pengantin itu itu belum seberapa karena Erva belum didandani bahkan wajahnya nampak kucel karena habis pulang dari kuliah belum mandi tentunya.


Anjar melihat ke arah Erva hingga matanya tidak berkedip. Erva terlihat lebih cantik setelah memakai gaun pengantin itu.


Hingga mulutnya terbuka lebar hingga membuat Aris, sang asisten itu menggeleng pelan manakala melihat Dokter Anjar melongo seperti itu.


Aris paham, kalau Bosnya itu sangat terpesona dengan kecantikan Erva bahkan tidak dipungkiri kalau memang Erva adalah wanita yang sangat cantik dan juga apa adanya, tidak neko-neko seperti kebanyakan wanita-wanita yang mendekati Dokter Anjar.


"Kedip An,  itu juga ilermu nanti netes."


Mama Risa tersenyum sambil mengguncang tubuh Anjar ketika melihat putranya sama sekali tidak berkedip melihat ke arah Erva.


"Tidak bisa kedip mah cantik banget."


Baru Kali ini Anjar mengungkapkan sesuatu yang pastinya membuat Mama Risa. Mama Risa lega dan bersyukur ternyata putranya memang normal.


Apa yang beliau takutkan selama ini ternyata salah kalau Anjar tidak seperti laki-laki lainnya yang jatuh cinta terhadap perempuan tetapi ternyata memang Anjar belum menemukan sesuatu yang cocok saja dengan hatinya dan pastinya perempuan yang dipilih oleh Anjar ini sangat istimewa bahkan Mama Risa pertama kali melihat Erva sudah cocok dan sreg di hati.


"Sebentar lagi dia akan jadi milikmu, tenang saja tidak ada yang mengambilnya dan kamu bisa puas memandang Erva nantinya."


Anjar mengangguk kemudian kembali pandangan matanya tertuju ke arah Erva yang saat ini sedang berada di depan cermin tentu saja melihat gaun yang dipakai Erva saat ini.


"Bagaimana, apakah masih ada yang kurang?"


"Tidak, dan ini malah jauh dari lebih dari yang aku bikin, sangat indah sekali."


"Bukan gaunnya tetapi karena yang memakainya, kamu sangat cantik sekali dan cocok dengan Dokter Anjar."

__ADS_1


"Ah Mbak bisa aja."


Setelah semua mencoba gaun yang akan dikenakan untuk resepsi lusa, saat ini Erva beserta keluarga lainnya duduk di ruang keluarga dan tentu saja bukan acara lamaran, tapi memang hanya ngobrol-ngobrol saja sebentar dan memastikan acara lusa berjalan dengan baik.


"Undangannya dek, kamu bisa membagi ke siapa saja dan tentunya jika kurang masih ada di aku."


Lagi lagi Erva dibuat melongo. Ia mengambil kartu undangan itu yang mana sama persis dengan apa yang di desainnya kenapa bisa secepat ini, pikir Erva begitu.


"Sama seperti yang kamu buatkan?"


Erva mengangguk, melihat-lihat bagian depan dan dalam sampai bagian belakang undangan itu yang mana sama persis dengan apa yang dibuat tinggal dalamnya saja tulisannya yang memang dibuat sedikit berbeda.


Dari sinilah Erva paham kalau laki-laki itu benar-benar serius ingin menikahinya bukan hanya ingin macam macam atau sekedar guyonan belaka saja.


"Untuk Dokter Keenan bagaimana?"


Pertanyaan Anjar membuat Erva menatap ke arah laki-laki itu. Erva bahkan tidak kepikiran ke arah sana sama sekali bukan bermaksud untuk melupakan Dokter Keenan apalagi untuk tidak mengundang laki-laki itu.


Ia bingung juga sekaligus takut jika ia mengirimkan undangan ke sana pasti sudah dipastikan kalau dirinya tidak akan pernah bisa keluar dari sana.


"Terserah Mas aja, Kalau Mas mau memberikannya sendiri tidak apa-apa yang jelas aku tidak mau memberikannya jika datang sendirian ke sana."


Anjar mengangguk, sepertinya ia paham apa yang dirasakan oleh calon istrinya itu. Begitu juga dengan dirinya, ia bingung sepertinya tidak sopan kalau mengantarkan undangan itu lewat orang lain tetapi ia juga tidak mau berdebat dengan Dokter Keenan tentang masalah ini.


"Biarkan Aris saja yang mengantarkannya bagaimana?"


"Kurasa lebih baik seperti itu Mas aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan mas."


"Aku juga begitu, biar Aris saja mengirimkan undangan ini besok pagi."


Biarlah dikatakan tidak sopan, tapi memang lebih amannya seperti itu. Pikiran Anjar dan Erva sudah kemana-mana, jika mereka datang ke sana sudah dipastikan bagaimana kondisi Keenan setelah menerima undangan itu.

__ADS_1


Bukan juga untuk menjadikan Aris sebagai mangsa pelampiasan Keenan, tapi Aris sendiri bisa menitipkannya ke asistennya Dokter Keenan berarti secara tidak langsung Aris juga tidak bertemu dengan Dokter Keenan.


Supaya lebih aman saja dan tidak menimbulkan sesuatu yang tidak tidak menjelang hari pernikahan mereka nanti.


Jam sudah hampir menunjukkan pukul 09.00 malam, itu berarti Anjar dan juga harus segera pulang, tidak enak kalau terlalu lama berada di sini.


"Aku besok boleh kuliah kan Mas hanya 2 jam saja."


"Tidak masalah, tapi setelah itu ijin selama beberapa hari tetapi jangan menyetir sendirian, harus pakai supir atau mau dijemput sama Aris soalnya aku besok ada operasi pagi pagi sekali jadi tidak bisa mengantarkanmu."


"Tidak perlu biar diantar sopir saja, mas hati-hati."


Tentu saja karena pernikahan mereka serba dadakan mereka juga tidak bisa mengambil waktu libur untuk besok. Dan mau tidak mau pekerjaan untuk besok harus diselesaikan.


Begitu juga dengan Erva yang belum mengambil cuti meskipun hanya beberapa hari saja. Masuk kuliah sekaligus untuk mengambil cuti selama beberapa hari.


Mereka kemudian pamit, dengan Anjar yang hanya bisa menatap ke arah Erva tanpa berani melakukan macam-macam di depan Mamah dan juga kedua orang tuanya Erva saat ini.


Tetapi setelah Mama Risa dan juga kedua orang tua Erva berada di luar Anjar kembali lagi untuk mengambil kunci mobil yang ternyata memang tertinggal di ruang tengah, begitupun dengan Erva yang ikut mengantarkan Anjar untuk mengambil kuncinya yang tertinggal.


"Bagaimana, masih tidak percaya dan semuanya sudah aku kabulkan, masih ingat kan permintaan aku?"


Bukan ini yang ia mau dari Dokter Anjar. Ucapan dari Dokter Anjar itu mengingatkan tentang kemauan Dokter Anjar tadi siang yang membuat Erva malu seketika.


Erva hanya mengangguk pelan, ia juga tidak bisa menjawab lebih dari itu. Tentu saja sebagai seorang perempuan Erva hanya pasrah dan mengikuti apa yang diinginkan oleh suaminya nanti.


Cup


Satu ciuman mendarat di bibir Erva dan tentu saja Erva yang kaget hanya melongo tanpa mampu membalas ciuman dari Anjar itu.


"Aku tunggu."

__ADS_1


Setelah memberikan sesuatu yang manis di bibir Erva, bahkan anjar tanpa rasa bersalahnya langsung saja pergi meninggalkan gadis itu yang masih dia mematung di sana.


Tentu saja setelah Erva sadar , ia juga langsung ke depan melihat calon suami dan juga calon mertuanya itu pergi meninggalkan halaman rumah.


__ADS_2